10 Kesalahan Umum dalam Menulis Fiksi

Kadang-kadang cara terbaik untuk membuat tulisan kita lebih baik adalah belajar bagaimana menghindari kesalahan. Bahkan penulis-penulis terlaris pun bisa melakukan kesalahan umum. Dengan mengetahui kesalahan penulisan paling umum ini, Anda akan tahu bagaimana menghindarinya. Sehingga Anda akan memiliki cerita yang kuat.

1. Opening Line (kalimat pembuka) yang lemah

Menulis kalimat pembuka memang tidak mudah. Karena kalimat pembuka harus menarik perhatian dan pada saat yang sama juga menjadi kail bagi keseluruhan cerita Anda. Opening line yang lemah dapat melemahkan cerita Anda. Sebagai penulis kita tahu bahwa sesuatu yang menarik harus terjadi segera. Jika pembaca tidak mendapatkannya dan mereka tidak langsung terhubung, kemungkinan mereka tidak akan bertahan cukup lama untuk mencari tahu apa “sesuatu yang menarik” dalam cerita Anda.

Untuk menulis opening line yang kuat Anda bisa melihat Link berikut.

2. Show (Tunjukkan), jangan Tell (Katakan)

Kita biasanya cenderung secara alami melakukan tell daripada show. Teknik tell lebih mudah dilakukan, tetapi kita tahu bahwa teknik show lah yang bisa menarik emosi pembaca. Dengan membiarkan pembaca mengalami cerita melalui tindakan, dialog, pemikiran karakter maka cerita Anda akan lebih berhasil. Dibandingkan hanya membeberkan narasi begitu saja.

Baca juga: CARA MENULIS: SHOW VS TELL

3. Mendeskripsikan tindakan secara berlebihan

Pendeskripsian yang berlebihan adalah saat penulis memberikan detail yang tidak diperlukan tentang tindakan para karakter. Hal ini akan memperlambat plot dan mengurangi ketegangan. Berikanlah hanya detail-detail yang diperlukan, atau yang dapat membangun plot.

conflict 14. Konflik yang realistis

Dalam banyak genre fiksi, konflik membentuk cerita. Baik itu konflik eksternal atau internal, sangatlah penting untuk memberikan substansi dari konflik yang ingin Anda bangun dan tentu saja harus dapat dipercaya. Berikan karakter Anda konflik yang bisa membuat mereka bereaksi dan sesuatu yang diperjuangkan.

5. Sudut Pandang

Menentukan sudut pandang yang tepat adalah bagian besar dari kesuksesan sebuah cerita. Kita tahu, misalnya, bahwa sebagian besar penulis, menulis dalam sudut pandang orang pertama karena pembaca akan lebih mudah mengidentifikasi kedekatan pengalaman emosional orang pertama.

Sudut pandang menentukan siapa yang menceritakan sebuah kisah —itulah sebabnya mengapa memperbaiki sudut pandang sangat penting untuk kesuksesan sebuah buku. Untuk informasi lebih mendalam, berikut ini adalah artikel yang bagus tentang cara memilih sudut pandang dan narator yang tepat.

7 Hal yang Perlu ditanyakan sebelum Memilih Sudut Pandang untuk Buku atau Novel Anda

6. Dialog Tag yang mengganggu

Banyak penulis terlalu kreatif dengan dialog tag mereka. Meskipun menggunakan kata: “berkata” dan “bertanya” sudah sangat umum dan kurang menarik, tapi bukan berarti kita menulis dialog tag dengan berlebihan sehingga mengganggu. Ini adalah kesalahan yang sering saya lakukan saat pertama kali menulis novel. Dulu saya berpikir itu akan menarik perhatian, tetapi ternyata itu dapat memperlambat plot dan mengganggu aliran cerita. Gunakan dialog tag dengan cermat tapi juga tetap kreatif.

7. Karakter yang tidak Memiliki tujuan

Hasil dari karakter yang tidak memiliki tujuan adalah adegan lambat, yang gagal untuk memajukan plot dan mungkin juga tidak memberikan efek apa-apa dalam hal memajukan karakter.

palu8. Terlalu banyak menggunakan “Tiba-Tiba”

Hal “Tiba-tiba” ini memiliki kecenderungan ironis untuk mengurangi dampak cerita yang Anda inginkan. Meskipun Anda menulis fiksi, bukan berarti logika cerita dikesampingkan. Jalinlah cerita dengan masuk akal dan kurangi adegan yang diciptakan karena keputusasaan.

9. Adegan yang Tidak Perlu

Adegan-adegan yang tidak perlu akan menjadikan buku Anda tidak efisien, bertele-tele, dan tidak maksimal. Memastikan untuk menulis adegan-adegan yang diperlukan akan membuat cerita Anda kuat.

10. Dialog yang Berulang

Penulis berpengalaman pun bisa terjebak dalam perangkap ini. Repetisi dapat digunakan untuk menekankan suatu kejadian tapi jika itu sering dilakukan justru akan melemahkan cerita Anda. Mengecek dan memotong dialog yang berulang harus Anda lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s