4 Cara Menulis Deskripsi Karakter untuk Menarik Pembaca

Sebagai penulis kita sering mengesampingkan betapa pentingnya deskripsi dalam penulisan fiksi. Dengan tidak memberikan waktu untuk memilih kata-kata yang tepat atau suasana yang menarik sehingga deskripsi seringkali menjadi membosankan.

Padahal deskripsi adalah komponen penting dalam fiksi. Deskripsi mampu mengubah dan meneguhkan mood atau suasana dalam cerita. Deskripsi juga menciptakan kesan terhadap suatu setting untuk pembaca.

Deskripsi membantu penulis untuk menerangi imajinasi pembaca, menggambarkan tempat, karakter dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita Anda. Karena itu postingan kali ini adalah empat cara bagaimana Anda menulis deskripsi karakter yang dapat menarik pembaca:

1. Memberikan deskripsi melalui tindakan

Dengan memberikan tindakan atau atribut fisik terhadap karakter Anda, deskripsi Anda akan menjadi berbeda. Ini adalah yang paling sederhana yang bisa Anda lakukan untuk menaikkan tingkat deskripsi dalam tulisan.

Contoh: Dia memiliki rambut panjang kecokelatan, mata yang hitam dan baju yang basah karena hujan, dan dia menangis tersedu.

Namun ketika Anda memperkenalkan setiap karakter dengan menggunakan tindakan yang mereka lakukan beserta deskripsi fisik mereka, kita mulai merasakan kehadiran penulis di balik panggung cerita.

Misalnya, untuk karakter yang sama di atas, kita dapat mengubahnya menjadi:  Dari tempatku berdiri aku memperhatikan, dia tidak mengindahkan pakaiannya yang basah diterpa hujan, matanya mengerjap-ngerjap sendu dan menatap nelangsa ke arah apartemen di seberang, berusaha untuk menetapkan hati untuk tidak pulang kembali ke sana.

2. Menggunakan majas metafora dan simile

Bahasa kiasan cukup efektif untuk menggambarkan kualitas dan penampilan karakter Anda secara tepat dan juga halus.

Contoh:

Ekspresi konyolnya membuatnya seolah-olah selalu tenang menghadapi apa pun.

Bibirnya yang tipis dan tegang adalah pintu dari gudang senjata, siap untuk membuka dengan cepat, mengeluarkan kata-kata tajam persis seperti panah-panah beracun yang siap menghancurkan hatimu.

Character 13. Menggunakan detail fisik untuk kepribadian, bukan hanya untuk visual

Hal yang paling umum kita temui adalah para penulis menggunakan detail fisik untuk membuat deskripsi. Pada awal-awal menulis saya terlalu sering terjebak menggunakan warna mata dan rambut untuk deskripsi, tapi itu adalah kesalahan yang umum, jadi untuk menyiasatinya kita dapat menggunakan detail fisik karakter dengan kepribadiannya.

Contoh: Tetapi sesuatu telah berubah di dalam dirinya, yang bisa kau lihat lebih dari warna rambutnya yang berubah ungu. Dia seperti terbakar oleh lampu kuning reklame di atas kepalanya. Wajahnya cemas, seolah dunia telah membebani dirinya, dan dibutuhkan waktu yang lama untuk menyadarinya.

Contoh tersebut di atas memberikan gambaran tentang karakter, bukan hanya tentang wajah, rambutnya tapi juga kepribadiannya.

4. Menggunakan deskripsi dengan perspektif narator (pengamat)

Deskripsi karakter yang baik juga menceritakan tentang siapa yang mendeskripsikannya. Mereka memberitahukan kita tentang perspektif atau sudut pandang dari narator yang sedang mendeskripsikannya. Cerita Anda akan mengalir sesuai dengan sikap dan perspektif narator yang Anda ciptakan.

Apabila narator cerita Anda begitu mudah untuk menghakimi, sikapnya selalu kritis, maka karakter-karakter Anda pun tak luput dari kekritisan dan kesinisannya. Cerita akan menghasilkan nada dan gaya narator Anda. Atau apabila narator Anda menyukai atau tidak menyukai orang yang mereka deskripsikan, atau memiliki ketertarikan romantis pada karakter yang dideskripsikan maka cerita pun akan mengalir dengan berbeda.

Dengan menggunakan deskripsi dengan perspektif narator yang unik maka deskripsi Anda pun akan terasa berbeda.

Contoh: 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Odyssa College, Jupiter dan kawan-kawannya mohon pamit sesopan mungkin. Para gadis kelas Archimedes diam-diam mengulum senyum. Apalagi Mettana, gadis berambut sebahu yang masuk bersamaan dengan Miranda. Sinar mata sang ratu gosip ini berkilat-kilat seperti kamera paparazi yang baru menangkap basah perselingkuhan seorang superstar. Fenomena baru, gosip baru. (Tofi Perburuan Bintang Sirius, Bab 2)

Seno berlari ke depan sambil memekik marah. Massa yang berjumlah ratusan orang itu pun semakin tak beraturan. Kobaran amarah dan kebencian itu semakin menjadi-jadi. Sampai Orion melihat bendera merah putih biru yang berkibar angkuh diterpa sinar terik matahari. Ini mirip Hotel Yamato yang ada di …buku sejarah?! Mata Orion melebar. Seperti tersengat sesuatu. Dia membeku. Tidak mungkin.  Tidak…. tidak mungkin… ini pasti mimpi. Pasti gara-gara aku terlalu banyak mengoleksi barang kuno sampai bermimpi yang aneh-aneh. (City of Heroes, Bab 5)

 

 

 

Advertisements

4 Pertanyaan Sebelum Membunuh Karakter dalam Cerita Anda

Ada banyak alasan penulis untuk membunuh karakter-karakternya. Mungkin untuk dampak emosional, mungkin juga untuk perubahan dramatis plot, saya sendiri biasanya membunuh karakter untuk kepentingan plot dan pertumbuhan karakter. Membunuh karakter bagaimanapun juga tidak bisa dilakukan hanya demi mengejutkan pembaca. Memang kita membutuhkan unsur kejutan tapi membunuh karakter hanya semata-mata untuk itu adalah bukan alasan yang tepat.

Karakter harus mati pada saat tujuan kematian mereka akan paling berdampak pada cerita. Jadi bagaimanakah kita dapat mengetahui apakah kita dapat membunuh karakter dalam cerita? Dan kapankah itu harus dilakukan? Berikut adalah hal-hal yang harus Anda periksa atau tanyakan kepada diri Anda sebelum melakukannya:

1. Apakah kematian karakter Anda tersebut akan memajukan plot? Memajukan plot adalah hal terpenting dalam menulis cerita. Dan apabila kematian karakter Anda dapat menarik plot untuk maju, maka membunuh karakter adalah alasan yang baik.

2. Apakah kematian karakter Anda memenuhi tujuan pribadi dari karakter tersebut? Para penulis menciptakan karakter untuk tujuan tertentu. Dan jika peran karakter tersebut harus mati untuk memenuhi tujuannya, maka Anda membutuhkannya. Contohnya, dalam novel City of Heroes saya harus membunuh beberapa karakter di mana kematian mereka memenuhi tujuan pribadi sebagai pahlawan yang merupakan tema dari novel tersebut.

Death 13. Apakah kematian karakter merupakan motivasi untuk karakter lain (biasanya karakter utama)? Kematian sekalipun di dalam cerita pastilah menyakitkan, tapi seringkali hal-hal yang menyakitkan yang terjadi pada karakter Anda (seperti kematian orang yang mereka sayangi) bisa membentuk mereka dan akhirnya memotivasi mereka. Dalam hal ini kematian bisa dijadikan pilihan.

4. Apakah kematian tersebut menekankan tema yang sama? Dalam cerita-cerita crime, thriller, perang, misteri, dibutuhkan beberapa atau banyak kematian untuk menjalin cerita. Hampir tidak mungkin membuat cerita tentang kejahatan psikopat tanpa korban, bukan?.

Setiap karakter dalam cerita harus ada di sana karena alasan tertentu. Dia ada di sana untuk menjalankan fungsi tertentu. Jika dia tidak menjalankan fungsi itu, maka Anda harus mempertanyakan tujuannya dalam cerita. Dan jika dia mengisi peran dalam cerita Anda, maka tanyakan pada diri Anda: siapa yang akan mengisi peran itu jika Anda membunuhnya? Itu dapat menjadi pertimbangan terakhir untuk membunuh karakter Anda. Kematian karakter dalam cerita dapat mengangkat cerita menjadi istimewa jika dilakukan dengan tepat.