6 Tips Menulis dari Charles Dickens

Sejak kematiannya pada 9 Juni 1870, Charles Dickens sudah meninggalkan dunia ini selama 152 tahun akan tetapi karya-karyanya masih kita nikmati sampai saat ini. Bahkan novel-novelnya tidak berhenti untuk diadaptasi ke film. Tak diragukan lagi bahwa Charles Dickens adalah salah satu penulis terbesar dalam sejarah. Prestasi Dickens ini tak lepas dari kebiasaan menulisnya yang menarik. Apa sebenarnya rahasia sastra Dickens? Yuk, simak yang berikut:

1. Kepatuhan pada deadline

Putra sulung Dickens pernah berkata: “Tidak ada petugas kota yang lebih metodis atau tertib daripada dia; tidak ada tugas yang membosankan, monoton, dan konvensional yang dapat diselesaikan dengan lebih tepat waktu atau dengan keteraturan seperti bisnis, daripada yang dia berikan pada karya imajinasi dan fantasinya.”

Tuntutan deadline yang ketat membuat Charles Dickens dapat mengakomodasi kreatifitasnya bahkan di tengah tekanan pun dia bisa memenuhi jadwal publikasi novelnya.

2. Rutinitas yang mengesankan

Charles Dickens memperlakukan menulis seperti pekerjaan sehari-hari. Dia bangun jam 7 pagi, sarapan jam 8 pagi, dan mulai menulis pada jam 9 pagi. Dia akan bekerja tanpa jeda sampai jam 2 siang. Setelah itu dia akan makan siang dan memulai perjalanan tiga jam setiap hari di sekitar London.

Setelah berjalan-jalan, Dickens akan kembali ke rumah untuk makan malam pada pukul 6 sore, menghabiskan malam dengan bersantai bersama keluarga dan teman-temannya, dan tidur pada tengah malam. Dia tidak pernah memvariasikan jam kerjanya, bahkan ketika inspirasi gagal datang. Dia bisa menulis ribuan kata di pagi hari, atau terkadang tidak menulis sama sekali. Tapi rutinitasnya tidak berubah.

3. Memiliki space sendiri

Seperti yang disebut di poin sebelumnya, Charles Dickens memiliki waktu untuk berjalan-jalan setiap sore. Jalan-jalan ini merupakan bagian penting dari kesuksesannya sebagai penulis. Kegiatan ini tidak hanya memberinya ruang untuk merenungkan tulisannya tetapi juga merupakan kunci pengetahuannya yang tak tertandingi tentang kota. Jika Anda membaca novel-novelnya yang bersetting di London, Anda dapat merasakan bahwa dia sangat mengenali kota itu sampai ke sudut-sudutnya. Dia bergerak melintasi kota setiap hari, melihat aktivitas bermacam-macam orang, memperlengkapi ceritanya untuk mewakili London dengan cara yang paling otentik.

4. Membuat rencana terhadap tulisannya

Michael Slater penulis biografi Charles Dickens menggambarkan proses perencanaan Dickens dalam menulis:

Untuk setiap nomor [pada angsuran bulanan tulisannya] Dia menyiapkan selembar kertas kira-kira 7X9 inci dengan memutarnya ke samping, dengan sisi panjang horizontal lalu membaginya menjadi dua. Dia menggunakan sisi kiri kertas dan menyebutnya ‘Mems’ yang adalah memorandum untuk dirinya sendiri berisi peristiwa dan adegan yang mungkin ditampilkan dalam angsuran ceritanya. Lalu petunjuk narasi, frasa tertentu, pertanyaan apakah karakter ini dan itu harus muncul di episode ini. Atau tetap menunggu di sayap. Biasanya dia akan menjawab ‘Ya’ atau ‘Tidak’, atau ‘Belum.’

Di sisi kanan kertas Dickens biasanya menulis nomor dan judul dari tiga bab yang sudah dituliskannya sebagai bagian angsuran bulanan dan mencatat, baik sebelum atau sesudah menulisnya, nama karakter utama dan peristiwa yang ditampilkan di setiap bab, dengan kadang-kadang fragmen penting dari dialog.

Dickens selalu membuat garis besar kasar peristiwa, karakter, dan titik plot utama untuk memastikan bahwa perkembangan plot direncanakan secara luas, yang juga memungkinkan perubahan saat mendapatkan feedback dari pembacanya.

5. Menulis dengan penuh semangat

Adik ipar Charles Dickens menulis bahwa dia belum pernah melihat Dickens menulis dengan semangat seperti saat dia menulis A Christmas Carol. Hanya dalam enam minggu dia menulis cerita yang terkenal lebih dari seratus tahun ini. Dalam dua bulan debutnya, delapan perusahaan teater mengadaptasi dan memasang ceritanya di atas panggung. A Christmas Carol menjadi karyanya yang paling dikenang. Dia berusia 31 tahun saat itu.

6. Jangan menunggu

Charles Dickens dibesarkan dalam kemiskinan. Dia hanya memiliki dua tahun di sekolah formal, jadi dia mempelajari tata bahasa dan gaya penulisan sendiri. Pada usia dua belas tahun dipaksa bekerja di pabrik menempelkan label merek pada semir sepatu karena ayahnya dipenjara akibat tidak bisa membayar hutang. Setelah itu dia berganti-ganti karir dari petugas di firma hukum, stenografer di pengadilan, lalu ia menjadi reporter surat kabar.

Di waktu luangnya ia menulis cerita, artikel, sketsa, esai, editorial, ulasan teater, dan drama. Lambat laun ceritanya mulai diterbitkan di majalah bulanan. Kemudian penerbit yang menyukai ceritanya memberinya kesempatan untuk menulis novel pertamanya—dan sisanya seperti yang ada di sejarah.

Charles Dickens tidak menunggu. Dia mengajari diri sendiri, mengamati orang-orang dengan cermat: apa yang mereka kenakan, bagaimana mereka berbicara, bagaimana perasaan mereka dan mengapa.

Baca, baca, baca. Menulis, menulis, menulis. Jika Anda ingin menjadi penulis, mulailah dari sekarang.

Buku yang Membuat Anda Ingin Tinggal di dalamnya

Pernahkah Anda merasa ingin merangkak masuk ke dalam buku favorit Anda dan tinggal di sana untuk sementara waktu? Seorang penulis mampu menyulap layar kosong menjadi penuh kata-kata kemudian keterbatasan dunia nyata tiba-tiba menghilang, mendorong Anda ke sebuah dunia baru yang ajaib dengan kemungkinan tak terbatas. Setidaknya sampai Anda kembali ke dunia nyata.

Berikut adalah empat buku yang menurut saya bisa menarik Anda jadi ingin tinggal di dalamnya. Let’s check it out!

Narnia

Saya menyukai dunia Narnia yang aneh, dengan campuran dewa dan mitosnya. Saya menyukai momen berjalan ke lemari untuk menemukan dunia lain, faun yang ramah, ratu salju dan pelayan kerdilnya, dan hewan yang bisa berbicara seperti keluarga Beaver.

Tapi Narnia adalah dunia di mana kemanusiaan—bahasa, kecerdasan, filsafat, kehendak bebas diperluas ke setiap jenis hewan dan hibrida yang bisa dibayangkan. Ada berang-berang yang bisa berbicara, tikus anggar, faun penari, centaurus filosofis, dan dewa alam yang rentang hidupnya jauh melebihi kita.

Clockwork Angel

Ada novel-novel yang ketika Anda membacanya, Anda tenggelam ke dalam dunianya dan ingin menjadi salah satu karakter di dalamnya. Buku ini adalah salah satunya. Mempunyai setting alternatif London pada tahun 1878, Clockwork Angel memiliki detail-detail tempat, nama, juga para karakter dengan ciri khas mereka yang magis. Seperti Devil Tavern, sebuah pub untuk para Downworlders atau Silent City yang adalah basis operasi dari Silent Brothers.

Ada juga elemen-elemen supernatural yang menambahkan kesan dunia di dalam Clockwork Angel begitu nyata seperti Para Nephilim, Angels, Demons, Automatons, Vampires, Faeries, dan lain sebagainya. Dunia di dalam buku ini akan menjadi tempat yang sangat menarik dan menegangkan untuk ditinggali.

Charlie and The Chocolate Factory

Mengapa buku ini? Alasannya adalah tentu saja cokelat! Kita tidak akan kekuarangan suplai cokelat sampai seumur hidup kalau bisa berada di dalam setting dunia Charlie and The Chocolate Factory.

Buku ini selalu menarik perhatian saya, bukan hanya karena setting yang imajinatif tetapi ada makna yang lebih dalam dari itu. Ada dua setting dalam buku ini yang sangat bertolak belakang. Dunia di luar pabrik yang serakah, dingin dan penuh ketidakadilan. Sementara di dalam pabrik justru sebaliknya. Ada Ruang Kacang, Ruang Penemuan, Sungai dan air terjun yang terbuat dari cokelat. Dunia yang penuh dengan impian kanak-kanak. Apa ada yang lebih baik dari ini?

City of Ember

Setting City of Ember adalah gua bawah tanah besar yang dibuat oleh para pembangun. Mereka membuat kota ini setelah perang nuklir terjadi. Kota Ember memiliki toko, sekolah, alun-alun kota, toko, kantor pos, apa pun yang dimiliki oleh kota sesungguhnya.

Kota ini dapat hidup karena didukung oleh generator besar yang sayangnya sedang sekarat. Saat membaca buku ini saya dibawa ke dunia yang berbeda yang mungkin saja terjadi di masa depan saat bumi sekarat. Saya pikir berada di sebuah kota di bawah tanah pastilah akan menjadi pengalaman yang luar biasa.

Bagaimana dengan Anda? Punya daftar buku lain yang membuat Anda ingin tinggal di dalamnya? 🙂