1 Cara untuk Mengembangkan Kebiasaan Menulis yang Rutin

Karena tahun 2019 baru saja dimulai, jika Writers di rumah mempunyai target menulis dalam tahun ini, akan baik sekali apabila menerapkan kebiasaan menulis yang rutin. Kedengarannya mudah tapi sebenarnya itu butuh disiplin.

Tidak ada yang magis tentang menulis. Yang perlu kita lakukan adalah duduk, membuka laptop dan mulai mengetik. Tapi di sinilah kita biasanya gagal. Tidak bisa menuliskan satu kata pun. Dan pada akhirnya tidak ada satu pun yang ditulis.

tired 1Apa yang sebenarnya menyebabkan banyak sekali dari kita gagal untuk memulai diri kita bekerja? Karena kita cenderung mencoba dengan terlalu banyak. Dan itu biasanya tidak berhasil. Inilah yang saya ketahui tentang menulis. Kita mencoba selangkah demi selangkah. Anda tidak langsung menulis satu novel tapi menulis satu kalimat lalu menjadi paragraf demi paragraf dan paragraf tersebut menjadi bab dan seterusnya.

Menulis apa pun yang terpenting adalah memulainya. Seberapa banyak Anda harus memulainya? 500 kata. Biasanya saya memulai dengan memecut diri saya untuk menulis minimal 500 kata. Gunakan word count untuk mengeceknya. 500 kata adalah jumlah yang pendek sehingga lebih mudah untuk Anda untuk menemukan waktunya. Dan jika Anda melakukannya setiap hari, itu bukan hanya membuat Anda menyelesaikan sebuah buku tapi kemampuan menulis Anda akan berkembang.

Cobalah untuk membuat tantangan selama sebulan ini untuk menulis sebanyak 500 kata per hari. Dengan mengikuti beberapa aturan berikut ini:

  1. Anda dapat menulis dengan jumlah kata lebih dari 500 kata tapi tidak boleh kurang.
  2. Hanya menulis. Jangan mengeditnya dulu.
  3. Jika Anda lupa atau melewatkannya sehari atau dua hari misalnya, jangan mengganti dan mengakumulasi 500 kata yang hilang.
  4. Menulis apa saja, bisa termasuk menulis postingan di blog.

Bagaimana, tertantang melakukannya? 🙂

Advertisements

4 Alasan Mengapa Kita Harus Berhenti Membandingkan Diri dengan Penulis Lain

Apakah Anda pernah merasa kalau penulis lain mempunyai karir menulis lebih oke dibandingkan Anda? Atau mungkin perjalanan penulis lain begitu mudah karena mereka mempunyai kenalan di penerbitan sehingga naskah Anda tak punya kesempatan yang sama? Sementara Anda mulai bertanya-tanya dan melihat ke sekeliling, Anda belum mencapai apa-apa, naskah Anda ditolak, banyak orang menjelek-jelekkan tulisan Anda, atau mengatakan Anda tidak punya bakat sama sekali. Perjalanan penulis lain sepertinya mudah, tapi perjalanan Anda tidak mudah. Saya juga mengalaminya dan melaluinya. Tapi membanding-bandingkan diri kita dengan ‘kesuksesan’ penulis lain lebih banyak merugikan diri Anda sendiri dibandingkan menerima manfaatnya.

Jadi jika Anda mendapati diri Anda melakukan ini, berikut empat pemikiran untuk membantu Anda berhenti melakukannya.

1. Anda membandingkan tulisan terbaik mereka dengan tulisan mentah Anda

Ini adalah tantangan yang berat yang harus dilalui oleh setiap orang dalam era sosial media. Postingan-postingan yang memamerkan prestasi, foto-foto yang keren dan hitzz dan sebagainya. Mereka tentunya tidak memposting perjalanan yang menyiksa yang membawa mereka ke tempat mereka yang penuh gemerlap saat ini, yang terlihat adalah mereka sedang santai berselfie di tengah-tengah liburan yang mahal atau karya-karya baru yang diterbitkan.

Kita sering membandingkan diri kita dengan ‘kejayaan’ orang lain, begitu pun dengan tulisan kita. Membandingkan tulisan mentah kita dengan para penulis yang mampu membayar editor terbaik tidak akan menolong kita. Karena setiap penulis mempunyai jalan yang berbeda. Itulah yang justru membuat diri kita unik, bahwa kita dapat menulis tentang suatu hal yang belum tentu bisa ditulis oleh orang lain. Embrace it. Menerima bahwa kita berbeda dengan mereka adalah awal dari pertumbuhan kita sebagai penulis.

people 12. Perbandingan mengalihkan perhatian Anda dari memperbaiki diri sendiri

Mengeluarkan energi untuk menonton apa yang dilakukan orang lain membuat Anda berhenti. Daripada merencanakan perkembangan tulisan Anda, Anda malah mengubah fokus pada orang lain. Ketika Anda begitu fokus pada prestasi orang lain, mudah untuk berhenti melangkah maju dalam kehidupan Anda sendiri. Karena Anda sibuk dengan kemajuan orang lain, Anda bahkan tidak akan menyadari bahwa hidup Anda berhenti.

3. Membandingkan diri Anda dengan orang lain mengarah kepada rasa pahit

Rasa pahit pada akhirnya akan mematikan bagian-bagian dari pikiran Anda yang terbuka dan  obyektif. Rasa pahit ini akan menutup bagian mana pun dalam diri Anda yang terbuka untuk mengamati dan memahami. Daripada membiarkan diri kita menjadi iri, lebih baik melihat apa yang mereka lakukan untuk menjadi sukses dan mengambil hal-hal yang dapat kita pelajari dari mereka.

4. Perbandingan itu sangat tidak adil

Kita biasanya membandingkan bagian terbaik dari seseorang dengan yang terburuk dalam diri kita. Ini tidak adil bagi kita dan pada akhirnya hanya akan membuat kita tidak berdaya. Kita semua melaluinya. Apakah itu melalui media sosial atau secara pribadi, kita berharap menjadi orang lain atau mengatakan “Dia sangat beruntung.” Meskipun cemburu adalah emosi yang normal, tapi dalam kasus ini hal itu justru dapat menghabiskan waktu kita tanpa manfaat dan malah membuat kita semakin merasa buruk pada diri sendiri.

writing 3Semua penulis memulai dari suatu tempat. Seorang penulis yang baru mulai menulis tidak akan menulis dengan kualitas yang sama seperti J.K Rowling, yang telah menerbitkan lebih banyak novel. Seperti bayi, bayi merangkak terlebih dahulu sebelum mengambil langkah pertama. Dan setelah langkah-langkah pertama, mereka berjalan. Mereka juga sering terjatuh ketika belajar berjalan. Kita, para penulis memulai dengan kata-kata, lalu kalimat, paragraf, dan kemudian satu novel. Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain. Satu-satunya orang yang bisa Anda bandingkan dengan tulisan Anda adalah diri Anda sendiri.