5 Film dengan Flashback Wajib Tonton

Ada banya film dengan flashback. Penulis skenario dan pembuat film akan menggunakannya untuk berbagai alasan, salah satunya untuk menambah dinamika cerita. Sebagai penonton, kita biasanya tahu kapan flashback terasa dibuat-buat atau saat terasa asli dan efektif.

Dalam postingan ini, saya akan memberikan film yang sepenuhnya dibangun di seputar flashback atau pun yang ditampilkan sebentar di dalam skenario, bagaimana flashback ini dirasa bisa menonjolkan cerita dan terasa lebih efektif. Semoga bisa jadi ide untuk tontonan saat weekend ya 😉

1. Memento

Memento adalah contoh sempurna film yang menggunakan flashback dalam menceritakan keseluruhan kisahnya. Disutradarai oleh Christopher Nolan, film ini mengikuti kisah seorang pria bernama Leonard yang diperankan oleh Guy Pearce. Leonard kehilangan kemampuan untuk menyimpan ingatan baru setelah diserang oleh pembunuh istrinya.

Film ini adalah kumpulan puzzle dan teka-teki di mana penonton dan Leonard berusaha mengumpulkan petunjuk untuk membentuk keseluruhan gambar. Christopher Nolan mampu menjalin cerita tanpa kehilangan bobotnya dan salah satu penampilan terbaik dari Guy Pearce.

2. Fight Club

Film Fight Club masih mendapatkan banyak daya tarik dari penggemar film bahkan setelah bertahun-tahun setelah rilisnya. Tak heran film ini dijuluki sebagai cult classic. Adegan flashback dalam film cukup banyak ditempatkan seluruh narasi film. Namun, begitu twist besar terungkap, kamu akan melihat film dalam cahaya yang berbeda. Ini adalah salah satu film yang benar-benar mengubah pengalamanmu jika menonton ulang film ini lagi. Brad Pitt dan Edward Norton memiliki chemistry yang hebat dalam film tersebut, dan ini adalah salah satu film yang mengandalkan formula plot twist yang gila.

3. Ratatouille

Ratatouille adalah film klasik Pixar yang berkisah tentang kerja sama tidak biasa antara Remy, tikus yang jago memasak dan tukang sampah restoran, Linguini. Remy mengendalikan tindakan Linguini sehingga dia mampu menghasilkan makanan lezat. Linguini yang mulai populer, mendapat kunjungan dari kritikus makanan yang sinis yaitu Anton Ego.

Remy menyiapkan hidangan untuk Ego yang membawa Ego kembali ke masa kecilnya. Bagaimana ibunya membuat versi hidangan itu untuknya setelah dia seharian belajar di sekolah. Flashback ini membuat karakter yang begitu antagonis menjadi lebih simpatik. Secara bersamaan flashback film ini merangkum tema film dengan cara yang sangat efisien.

4. Marriage Story

Flashback dalam Marriage Story ditampilkan dalam bentuk monolog terpisah dari masing-masing karakter utama yaitu Charlie dan Nicole. Monolog ini disertai potongan-potongan gambar tentang hubungan mereka.  Menariknya, flashback ini berada dalam opening sequence. Penonton tidak benar-benar tahu ini adalah flashback sampai mereka melihat adegan berikutnya di mana Charlie dan Nicole duduk dalam sesi mediasi perceraian. Monolog tersebut adalah surat yang mereka tulis untuk satu sama lain mengapa mereka saling mencintai.

Flashback ini sangat efektif dalam mengilustrasikan kisah Charlie dan Nicole. Sebagai penonton kita menghabiskan sisa film untuk menganalisis apa yang salah dan bagaimana jika mereka benar-benar berpisah. Ketika monolog yang dituliskan oleh Nicole itu akhirnya dibacakan oleh Charlie, emosi dari kata-kata itu begitu meresap, adegan yang jenius untuk menutup film.

5. Eternal Sunshine of The Spotless Mind

Film cult classic lainnya di daftar ini adalah Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Jim Carrey memerankan Joel Barish yang pemalu, yang menemukan bahwa mantan pacarnya, Clementine Kruczynski (Kate Winslet) yang spontan, menjalani prosedur baru yang radikal yang menghapus semua kenangan yang melibatkan hubungan mereka dan, sebagai balasannya, dia memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

Penggunaan flashback dalam film ini dilakukan dengan sempurna dalam membangun kecintaan penonton terhadap Joel dan Clem serta hubungan mereka. Kita sudah tahu bagaimana hubungan mereka akan berakhir, membuat flashback jadi semakin menguras emosi.

8 Fakta Menarik tentang Gillian Flynn

Novel Gone Girl karya Gillian Flynn menjadi fenomena saat diterbitkan pada 2012. Berada di posisi nomor 1 dalam daftar buku terlaris The New York Times selama 37 minggu, diadaptasi menjadi film hit yang dibintangi Ben Affleck dan Rosamund Pike pada tahun 2014, dan telah terjual lebih dari 15 juta kopi di seluruh dunia. Penasaran dengan sosok Gillian Flynn, berikut adalah beberapa fakta menarik tentangnya:

1. Gillian Flynn sempat berniat menjadi reporter kriminal. Namun, dia mendapati dirinya tidak cukup yakin memiliki keterampilan untuk pekerjaan itu. Dia malah bekerja sebagai wartawan setempat untuk U.S. News & World Report secara berkala sebelum diterima sebagai penulis staf untuk majalah Entertainment Weekly. Dia melaporkan dari set film dan akhirnya menjadi kritikus televisi. Namun, pemotongan budget pada 2008 menyebabkan dia di PHK dan beralih sebagai penulis fiksi penuh waktu.

2. Selama masa kecil, Gillian Flynn menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca buku dan menonton film. Dia memiliki kenangan saat A Wrinkle in Time dicabut dari tangannya saat dia di meja makan dan melihat Alien, Psycho, dan Bonnie dan Clyde pada usia tujuh tahun.

3. Dia menulis buku pertamanya, Sharp Objects, sepenuhnya tanpa seorang agen, dan sangat protektif terhadap bukunya itu. Sharp Objects sulit dijual — dia sering diberi tahu bahwa novel itu “terlalu gelap” — tetapi agen yang akhirnya menyukai bukunya itu masih terus mendampingi Gillian sampai sekarang. Dari tiga bukunya, dia mengatakan Sharp Objects, “sebenarnya akan menjadi yang paling mudah untuk diterjemahkan ke dalam film dan bisa sangat menyeramkan.”

4. Ibu dari Gillian Flynn, Judith Ann, adalah seorang profesor reading comprehension. Ayahnya, Edwin Matthew, bekerja sebagai profesor film. Kakaknya, Travis, bekerja sebagai mekanik kereta api.

5. And Then There Were None karya Agatha Christie dan Executioner’s Song karya Norman Mailer adalah “comfort food books,” nya. Dia membaca ulang Executioner’s Song sekali atau dua kali setahun: “Saya menemukan sesuatu yang baru di dalamnya setiap saat. Buku itu benar-benar menghantui saya.”

6. Gillian benar-benar banyak membaca. Berikut adalah penulis dalam daftar bacaannya: Joyce Carol Oates, Margaret Atwood, Patricia Highsmith, Martin Amis, Joy Williams, Arthur Phillips, Karin Slaughter, Megan Abbott, Judy Budnitz, Marcus Sakey, Harlan Coben, dan Karen Russell.

7. Gillian tidak masalah dengan karakter yang tidak disukai — selama itu lucu.

Karakter-karakternya Libby Day, Nick, dan Amy Dunne melakukan hal-hal buruk dan mereka sangat sadar diri dan terkadang lucu. “Saya pikir Anda bisa banyak memaafkan jika seseorang membuat Anda tertawa (bahkan jika Anda tahu Anda seharusnya tidak tertawa).”

8. Gillian Flynn mengatakan kalau jam menulisnya paling produktif adalah dari pukul 23.00 sampai 03.00. “Saya suka menulis setelah tengah malam karena Anda mulai merasa memiliki dunia untuk diri sendiri. Ponsel Anda berhenti bekerja, tidak ada SMS masuk, dan Anda benar-benar dapat masuk ke dunia Anda.”