7 Cara Menjadi Travel Writer

Mungkin Anda mempunyai naluri seorang pengembara. Anda ingin mendaki gunung-gunung terkenal di dunia dan mampir di kota-kota yang luas dari Paris, Mumbai, sampai Reykjavik. Anda merasakan cinta yang tulus terhadap tempat-tempat di dunia. Anda senang bertemu dengan orang baru, melihat tempat baru. Dan jika Anda bisa membuat orang lain dapat melihat mengapa tempat yang Anda kunjungi begitu indah, maka itu lebih dari cukup. Lalu mengapa tidak menjadi travel writer saja? Siapa yang tidak suka traveling, menulis dan dibayar? Pasti menyenangkan. Tapi seperti banyak tipe profesi menulis lainnya, itu tentu membutuhkan lebih dari sekedar  kemampuan menulis dan budget untuk travel.

Berikut adalah 7 cara menjadi travel writer:

1. Tumbuhkan ciri atau keunikan Anda

Di antara ribuan travel writer wara-wiri di media baik online maupun offline, Anda harus berbeda di antara kerumunan itu. Dan yang akan membuat Anda menonjol dari banyak penulis adalah ciri, keunikan Anda. Itu bisa tentang traveling dengan bersepeda, atau traveling sambil memangkas rambut, saya pernah melihatnya :), atau apa saja yang membuat Anda berbeda dengan travel writer lainnya. Ciri khas Anda ini akan menambah ketertarikan pembaca dan juga media-media yang mengulas tentang travel, dan siapa tahu, lain kali Anda dapat pergi ke mana pun tanpa mengeluarkan budget.

2. Membaca

Mulailah membaca dan jangan berhenti. Bacalah buku-buku non fiksi tentang traveling. Majalah-majalah yang mengulas tentang travel. Anda akan belajar untuk tahu bagaimana cara menulis dan apa yang diinginkan oleh penerbit dan editor in chief dengan banyak membaca. Membaca juga akan membantu Anda untuk memilah topik mana yang menarik perhatian Anda.

blogging 13. Mulai nge-blog

Nge-Blog adalah latihan yang hebat bagi para penulis. Blog menyediakan sebuah platform untuk passion Anda, dan sekarang ini travel writer tidak hanya terbatas untuk mereka yang hanya menulis di majalah-majalah wisata yang glossy saja. Tapi nge-blog juga bisa menjadi platform yang oke untuk memulai. Kita tahu bahwa banyak para travel writer yang terkenal mulai dari blog.

4. Hindari klise

Ada jutaan orang yang pernah ke Grand Canyon, atau Paris. Dan di luar sana ada banyak artikel tentangnya. Para editor dan pembaca tidak kekurangan orang yang mau pergi ke tempat tujuan Anda untuk menulis tentang hal itu. Anda perlu menemukan angle cerita yang bagus. Tidak masalah jika Anda pergi ke tempat-tempat yang banyak dikunjungi tapi cari sudut cerita yang jarang sekali atau bahkan belum pernah di cover oleh penulis lain. Ke mana pun Anda pergi, Anda perlu berpikir seperti seorang jurnalis dan menggali sesuatu yang fresh untuk editor atau pembaca blog Anda.

5. Foto yang baik

Tidak perlu menjadi seorang fotografer untuk menjadi seorang penulis travel. Tapi foto-foto yang baik sangat diperlukan. Foto yang mempunyai resolusi yang tinggi. Sehingga jika foto Anda di cetak, gambarnya masih terlihat. Tentu percuma jika editor menyukai cerita Anda tapi ketika mereka meminta gambar untuk menyertainya, gambar Anda tidak bisa dicetak karena resolusinya rendah. Anda juga perlu mencari informasi tentang bagaimana memilih sudut gambar yang menarik. Ini akan membuat foto-foto Anda berbeda.

writing 26. Saat Anda menulis, Anda harus tahu inti cerita Anda

Menulis tentang travel berbeda dengan menulis diari. Pembaca atau audiens Anda tidak menginginkan cerita Anda dari Anda bangun tidur, menyikat gigi, makan, lalu keluar pintu dan sederetan kegiatan-kegiatan Anda. Jangan sekedar bercerita ngalor ngidul tanpa tahu poin apa yang ingin Anda komunikasikan. Jika Anda pergi ke India misalnya, tanyakan apa yang Anda ingin pembaca Anda pelajari dari tulisan Anda? Apakah India yang penuh warna-warni? Jika iya, bangunlah warna-warni itu dengan ketat. Sehingga tulisan Anda mempunyai inti sehingga audiens Anda akan menanti-nantikannya terus.

7. Menulis

Tentu saja yang terakhir adalah menuliskannya. Inilah yang membedakan Anda dengan para pemimpi di luar sana. Anda duduk, memberikan waktu Anda, dan menulis. Satu-satunya cara dan tidak ada jalan pintas.

 

 

Advertisements

7 Cara Menulis Jurnal Travel

Bukan hanya sekedar menjadi pengalaman yang menyenangkan atau memuaskan, tapi traveling bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap kita. Jurnal travel atau perjalanan adalah cara yang sangat keren untuk merekam liburan Anda. Anda bisa menuliskan perasaan dan pengamatan yang Anda miliki selama perjalanan dan pada akhirnya dapat dibagikan oleh banyak orang. Anda tidak membutuhkan perjalanan keliling dunia dengan petualangan yang hebat untuk menulis sebuah jurnal jalan-jalan yang keren. Yang Anda butuhkan adalah buku catatan dan tips-tips berikut:

1. Merencanakan traveling Anda

Mungkin Anda tipe orang yang spontan, jadi rencana yang detail tak pernah terlalu Anda pikirkan. Tapi jika Anda berencana untuk menulis jurnal travel, hal yang sangat disarankan adalah merencanakan perjalanan Anda. Ini akan membantu Anda untuk juga merencanakan kegiatan di sana. Anda bisa check list tempat-tempat yang ingin Anda lihat, budgetnya, cara pergi ke sana. Hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan di sana, cuaca, jenis-jenis scam yang mungkin sering terjadi. Segalanya akan lebih mudah jika Anda merencanakannya dengan detail. Sebelum sampai ke tempat tujuan, mungkin Anda sudah menemukan hal-hal yang harus dilakukan dan mendapatkan ide tulisan untuk jurnal Anda.

2. Riset

Merencanakan perjalanan dan riset biasanya dilakukan bersamaan. Saya tak pernah pergi ke suatu tempat tanpa riset terlebih dahulu. Jika di tempat tersebut ada museum, maka saya harus menyempatkan diri untuk datang. Apalagi jika ada tempat-tempat bersejarah di situ. Dengan mencari tahu banyak informasi tentang tempat yang Anda datangi, Anda sedang membangun gambaran yang cukup handal tentang perjalanan Anda.

Riset bisa melalui internet, blogger-blogger yang pernah mendatangi tempat-tempat tersebut, buku-buku dan majalah, atau jika ada teman, kerabat atau kenalan yang pernah menetap di sana. Riset akan memberi Anda ide yang lebih jelas tentang bagaimana tempat tersebut. Jika tulisan Anda akan diposting di instagram, website atau blog, melakukan riset akan memberikan tambahan informasi dan pengetahuan bagi pembaca Anda.

travel writing 13. Hindari deretan daftar aktivitas

Anda ingin menulis sebuah jurnal travel yang menarik, jadi daftar hal-hal yang biasa Anda lakukan tidak perlu dimasukkan semuanya. Misalnya, jika Anda makan nasi goreng yang sama di hotel seperti di rumah, ya tidak perlu menulis pengalaman ini, kecuali itu adalah makanan khas tempat tersebut. Rentetan aktivitas yang super duper normal tidak perlu dituliskan. Karena jika dituliskan, tuliang Anda akan panjang tapi dapat berakibat membosankan pembaca.

4. Jangan hanya mendeskripsikan

Sebuah jurnal lebih dari sekedar deskripsi informasi. Betul sekali pembaca membutuhkan informasi tapi tulisan yang hanya berisi rentetan deskripsi tidak akan menyentuh pembaca. Pilihlah beberapa kegiatan dan pengalaman menarik yang Anda alami. Tulislah tentang shock culture misalnya, perbedaan tempat atau kehidupan di tempat tersebut dengan kehidupan Anda sehari-hari.

Pada akhirnya traveling adalah tentang membuka mata kita terhadap budaya orang lain. Jangan hanya menggambarkan fisik saja tapi juga perasaan, suasana, vibe dari tempat tersebut. Apa yang Anda rasakan ketika pergi ke tempat itu. Misalnya, ketika saya menapakkan kaki pertama kali di Bali, ada satu perasaan yang sangat kuat tentang tempat ini, satu kata ini menggambarkan keseluruhan kota Denpasar dan tempat-tempat di sekitar pantai, yaitu kata “liburan”. Ada mood yang berbeda jika Anda berada di dalam satu tempat yang berbeda, tangkap mood tersebut, masukkan ke dalam tulisan Anda.

waterfall5. Tambahkan gambar

Saya tidak memungkiri kemampuan menulis Anda, sebagai penulis kita mampu menuliskan gambaran visual ke dalam kata-kata. Tetapi gambar masih bernilai ribuan kata. Menggabungkan gambar atau foto traveling Anda dengan kata-kata akan menjadikan tulisan Anda jauh lebih kuat.

Seringkali gambar dapat membuat teks tulisan kita tampak lebih personal. Atau jika Anda jago menggambar, Anda juga bisa membuat satu atau dua sketsa tentang traveling Anda. Itu bisa menjadi sentuhan personal yang sangat menarik. Jangan lupa untuk memberikan deskripsi fotografi di setiap gambar atau foto yang kita masukkan. Supaya pembaca Anda tidak bingung.

6. Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang tidak menyenangkan

Bahkan liburan paling luar biasa pun ada naik dan turunnya. Mungkin Anda tidak suka lampu hotelnya yang terlalu redup, atau kamarnya yang tidak sesuai dengan yang ada di foto. Penerbangan Anda buruk, atau Anda sakit beberapa hari di sana.

Seringkali pengalaman buruk justru menjadi hal yang paling menarik dan dramatis untuk ditulis dalam jurnal. Jangan takut untuk jujur dan memasukkan hal-hal yang aneh atau yang tidak menyenangkan, hal-hal ini adalah bagian dari traveling Anda dan menarik untuk dibaca.

Tuliskan apa yang akan Anda ubah tentang hal-hal buruk di sana, mungkin Anda akan kembali ke sana atau tidak. Atau menuliskan sesuatu untuk di masa depan Anda melakukan sesuatu yang berbeda.

writing 27. Menulis saat masih fresh

Nah ini nih yang sering saya tidak lakukan ketika travel. Biasanya karena pagi dan siang harinya terlalu bersemangat ke sana kemari, malamnya sampai di hotel langsung tepar. Jadi hal-hal yang tidak saya catat di handphone atau notebook lenyap dari ingatan.

Menulis saat masih segar diingatan kita akan baik sekali. Tapi kalau pun tidak bisa, untuk menghindari kejadian seperti ini: catatlah informasi penting seperti berapa jam Anda harus berkendara menuju tempat tersebut, di daerah mana tempat tersebut, dan sebagainya.

Setelah informasi penting sudah tercatat, deskripsikan sesuai dengan kata-kata kunci seperti bagaimana rasa masakannya, seperti apa baunya, suara apa yang Anda dengar. Jadi ketika Anda tidak sempat atau kelelahan untuk langsung menuliskannya di hotel, Anda bisa kembali ke kalimat-kalimat tersebut yang pastinya akan memicu kembali emosi yang Anda rasakan.

Berikut ada beberapa pertanyaan yang bisa menolong Anda agar informasi dan pengalaman menarik tidak terlupakan begitu saja:

  1. Apakah Anda belajar sesuatu hari itu?
  2. Apakah ada sesuatu yang membuat Anda kesal?
  3. Apakah seseorang memakai sesuatu yang tampak menonjol bagi Anda?
  4. Apa yang Anda makan? Bagaimana rasanya?
  5. Apakah Anda tersentuh dengan pertolongan orang lokal di sana?
  6. Kesulitan seperti apa yang Anda alami di sana?

Anda bisa menambahkan sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Anda akan mendapatkan inti dari pengalaman Anda. Tidak perlu menjawabnya langsung dengan detail jika Anda tidak sempat, cukup kata kunci yang mampu memicu ingatan Anda di lain hari ketika Anda terjun kembali ke tulisan Anda.