Apa yang harus Dilakukan Saat Anda Frustasi dalam Menulis

Kita para penulis tahu bahwa terkadang menulis bisa menjadi sangat, sangat sulit. Dan betapa menyebalkannya jika kita merasa mentok, tidak tahu ke mana arah plot cerita kita lalu menatap laptop selama berjam-jam tapi hanya memiliki beberapa paragraf di layar.

Menulis memang tidak semudah yang dibayangkan. Tetapi meskipun begitu, kita tidak mungkin menyerah kan? Karena bagaimana pun juga cerita yang ada di kepala seperti mengejar-ngejar kita bahkan saat kita hendak tidur, setidaknya itu yang sering saya alami.

Menulis memang penuh dengan tantangan tapi karena inilah kita bertumbuh. Rasa frustrasi yang kita alami ketika alur plot tidak masuk akal akan membawa kita ke dalam penulisan ulang. Rasa frustrasi juga mengajari kita untuk belajar lebih banyak tentang plot, karakterisasi dan lain sebagainya. Menjadikan kita penulis yang lebih baik.

Ketika writer’s block melanda, tidak ada pilihan lain bagi kita selain beristirahat dan menjernihkan pikiran sehingga kita dapat kembali ke tulisan kita dengan pandangan yang segar dan baru.

Namun, kita perlu menemukan solusi untuk masalah yang kita alami, dan terus menulis. Kita perlu mencoba lagi.

Dari pengalaman saya, satu-satunya cara agar bisa melewati ini dan kembali menulis adalah mengingat kembali mengapa saya begitu mencintai dunia tulisan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin bisa membawa Anda kembali ke dalamnya.

1. Apakah Anda jatuh cinta pada dunia menulis karena itu satu-satunya cara untuk mengekspresikan perasaan Anda?

2. Apakah Anda jatuh cinta karena imajinasi Anda tidak terbendung?

3. Apakah itu karena perasaan yang ditimbulkan setelah menulis?

4. Atau mungkin karena Anda ingin menceritakan sebuah cerita yang berbeda dari yang lain?

5. Atau untuk membagikannya kepada orang lain di luar sana yang mungkin mengalami hal yang sama?

Sesuatu pernah membuat Anda tertarik untuk menulis, dan mungkin Anda sudah melupakannya. Karena itu setiap kali Anda merasa frustasi terhadap tulisan Anda, kembalilah lagi kepada alasan mengapa Anda jatuh cinta pada menulis pertama kalinya. Let’s keep writing 😉

7 Tanda Karakter Kurang Berkembang

Pernahkah Anda merasa bahwa novel Anda mungkin kekurangan sesuatu? Apakah Anda pernah merasakan ada kekosongan dalam cerita? Mungkin Anda telah mencoba untuk memoles plot atau membangun dunia yang baru, namun semuanya masih terasa ada yang kurang.

Pembaca dengan cepat memaafkan hal-hal seperti alur yang dapat diprediksi, atau gaya bercerita yang mungkin kurang mereka sukai, tetapi hanya jika Anda dapat memperbaiki satu hal: karakter.

Karakter yang Membosankan

Jika ada satu hal yang tidak dapat ditoleransi oleh pembaca adalah karakter yang membosankan dan tidak bernyawa. Bahkan jika Anda telah menciptakan sebuah karya yang bagus, atau plot yang keren, pembaca belum tentu bertahan jika karakter Anda tidak memiliki kepribadian. Anda tidak ingin membiarkan karakter kosong menyelinap masuk ke dalam cerita Anda, karena itu sekarang kita akan membahas 7 tanda karakter yang kurang berkembang agar dapat memperbaikinya jika itu terjadi dalam cerita Anda

Tanda pertama: dialog datar

Saat Anda melihat dialog datar, inilah yang harus dilakukan: Periksa motif, perspektif, dan sikap karakter Anda. Mungkinkah lubang-lubang karakterisasi, motivasi, latar berkontribusi pada datarnya dialog mereka? Motivasi yang disalahpahami atau tidak otentik, mungkin? Kurangnya pemahaman akan perspektif dan kepekaan mereka? Dialog yang segar dan cepat datang dari karakter yang lengkap, berkembang dengan baik, jadi jangan biarkan lubang-lubang dalam karakter Anda tidak dilengkapi.

Tanda kedua: terlalu melodramatis

Ketika Anda melihat karakter yang bertindak terlalu melodramatis, itu mungkin merupakan gejala kurang berkembangnya karakter. Tentu saja pengecualian datang jika Anda memang ingin menciptakan karakter yang seperti itu. Seringkali kita sebagai penulis menulis dialog-dialog melodramatis tanpa tujuan atau tanpa maksud yang tepat. Kembalilah lagi ke pertanyaan, seberapa baik Anda benar-benar memahami karakter tersebut? Apakah tindakan dan emosi mereka dilebih-lebihkan karena Anda telah berusaha mengisi kekosongan dalam kepribadian mereka?

Tanda ketiga: kurangnya emosi

Sebaliknya, salah satu indikator terbesar bahwa karakter Anda kurang berkembang adalah ketika mereka kehilangan emosi sepenuhnya. Manusia adalah makhluk emosional. Kita semua merasakan emosi dalam beberapa hal atau lainnya, terlepas dari berapa banyaknya kita mengeluarkannya secara terbuka.

Banyak penulis tidak yakin bagaimana mengomunikasikan emosi pada halaman sehingga mereka meninggalkannya sama sekali. Hal ini dapat membuat karakter terasa seperti robot. Mempelajari cara menulis emosi tanpa terjebak menjadi terlalu melodramatis sangatlah penting untuk memberi karakter Anda kedalaman.

Tanda keempat: memperpanjang monolog dalam batin

Monolog dalam batin sangat diperlukan dalam cerita. Ini membuat pembaca masuk ke dalam kepala karakter. Tetapi jika itu ditulis berparagraf-paragraf justru akan bertele-tele. Jenis monolog ini juga cenderung terasa datar, dan dapat beresiko menyimpang ke ranah melodrama. Jika Anda harus menulis monolog panjang untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam kepala karakter Anda, Anda mungkin harus membuat karakter Anda berkembang.

Tanda kelima: kurangnya karakteristik

Yang ini sederhana. Jika karakter Anda tidak berperilaku seperti orang dalam dunia nyata dan menunjukkan karakteristik yang sesuai dengan ciri yang mengikuti mereka, mereka akan membosankan dan kosong.

Tanda keenam: kurangnya keinginan atau rasa takut

Pernahkah Anda membaca sebuah cerita di mana tokoh-tokohnya merasa seolah-olah hanya melayang melalui situasi apa pun tanpa motivasi, dorongan, atau ketakutan? Orang yang nyata memiliki keinginan. Mereka memiliki motif untuk semua yang mereka lakukan.

Orang sungguhan juga memiliki ketakutan — bahkan orang yang jarang “takut”. Berikan karakter Anda sesuatu yang diinginkan dan sesuatu yang tidak diinginkan. Setiap orang memiliki faktor-faktor ini yang saling bertentangan di dalamnya. Hal inilah yang mendorong karakter Anda untuk melakukan apa yang mereka lakukan.

Tanda ketujuh: tidak ada kehidupan di luar plot

Karakter yang ada hanya untuk melayani plot kurang berkesan. Karakter yang berhasil adalah karakter yang setelah buku Anda ditutup, para pembaca dapat berpikir tentang mereka bahkan di luar kehidupan di dalam plot. Karakter yang berkembang mempunyai efek yang lebih besar pada dunia mereka. Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang akan karakter tersebut lakukan jika cerita ini tidak pernah terjadi? Jika jawabannya bukan apa-apa, Anda perlu melakukan beberapa pengembangan lebih dalam.

Terkadang kita akan melihat tanda-tanda ini pada draft pertama tulisan kita, jangan panik dan khawatir, itu tidak apa-apa. Memang bukan hal yang mudah untuk menulis karakter yang berkembang sepenuhnya dalam sekali jalan saja. Jadi jika Anda sedang menyusun novel Anda, buatlah catatan jika tanda-tanda ini muncul dan galilah lebih dalam mengenai karakter Anda.