Cara Menulis Flashback yang Efektif

Apa Itu Flashback?

Meskipun sebagian besar cerita berkembang secara kronologis, tapi ada kalanya sebagai penulis kamu perlu menyisipkan insiden masa lalu dari protagonis demi tercapainya tujuan cerita.

Haruskah Kita Menggunakan Flashback?

Sebuah flashback akan menyela alur cerita yang sedang berlangsung. Namun, saya tidak pernah ragu untuk menggunakan flashback jika itu sangat diperlukan. Apabila ditulis dengan baik dan di saat yang tepat, flashback tidak akan mengganggu jalan cerita.

Tujuan Flashback

  • Memengaruhi peristiwa yang terjadi kemudian
  • Memperdalam cerita
  • Mengungkapkan karakter

Sebuah flashback bisa diceritakan dalam bentuk refleksi, memori, mimpi atau dialog. Flashback mematahkan kronologi narasi yang normal karena umumnya melibatkan pergeseran waktu dan tempat. Dibutuhkan transisi yang tepat agar pengalaman membaca menjadi lancar.

Kapan Menggunakan Flashback

Gunakan flashback jika itu menambah dinamika ceritamu. Namun, jika kamu masih bisa menceritakan adegan dalam pertukaran dialog atau intipan dari sebuah entri jurnal atau buku harian, maka lakukanlah ini dibandingkan membuat flashback.

Cara Menulis Flashback yang Efektif

Sebuah flashback pada dasarnya adalah memori. Berikut adalah cara yang efektif dalam menuliskan flashback.

1. Sesuatu harus memicunya. Flashback dipicu oleh sesuatu. Sebagian besar ingatan kita dipicu oleh tempat, objek, percakapan, atau melalui indera kita. Gunakan salah satu dari ini untuk mengirim pembaca kembali ke masa lalu.

2. Di mana cerita saat ini? Arahkan pembaca ke dalam ruang dan waktu pada awal flashback. Transisi yang digunakan harus jelas. Contoh: Sepuluh tahun lalu….; Ketika Ibuku masih remaja…dll.

3. Tuliskan dengan pendek dan tajam. Ketika kamu memiliki memori, itu tidak terjadi secara terus-menerus dan dalam waktu yang lama. Biasanya berlangsung beberapa detik. Semakin lama flashback, semakin lama waktu yang dibutuhkan pembaca untuk kembali ke cerita utama.

4. Pastikan cerita membutuhkannya. Membuat flashback harus juga memajukan cerita. Memori atau kenangan dalam flashback memiliki peran penting untuk memotivasi karakter atau bisa membawa pembaca menuju suatu titik dalam cerita.

5. Tunjukkan hasil. Flashback dalam cerita harus memiliki konsekuensi. Jika kita mengingat sesuatu yang traumatis atau menantang, itu akan memengaruhi kita di masa sekarang. Reaksi terhadap ingatan tersebut harus sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap karakter.

Bagaimana Menulis seperti Agatha Christie

Agatha Christie adalah salah satu penulis terlaris sepanjang masa. Buku-bukunya terjual lebih dari 2 miliar eksemplar dan telah diterjemahkan ke 100 bahasa. Tak heran jika dia dijuluki Sang “Ratu Kejahatan.” Nah, jika Anda ngefans dengan novel-novelnya atau mungkin tertarik ingin menulis novel crime, detective, yuk intip postingan berikut:

Plot

Pembaca setia Agatha Christie tahu bahwa biasanya dia akan memulai cerita dengan pembunuhan, kemudian beralih ke si pembunuh dan motifnya. Setelah itu, dia akan merencanakan tersangka lain dan motif mereka juga. Ini membuat Agatha lebih mudah untuk memasukkan petunjuk-petunjuk penting dan impresi palsu untuk mengalihkan perhatian pembaca pada pelaku sebenarnya. Misterinya selalu dirancang untuk memanipulasi perasaan pembaca, untuk melibatkan mereka dalam misteri dan bersama-sama mencoba memecahkan kasus tersebut.

Agatha Christie juga tidak pernah meremehkan kecerdasan pembacanya. Dia sering mengembangkan ceritanya di sepanjang baris yang sama: pembunuhan akan ditemukan baik oleh karakter detektif utama atau karakter yang terkait dengan kejadian tersebut.

Karakter

Novel-novel Agatha Christie terkenal dengan karakter-karakter uniknya. Dia memahami bahwa kualitas karakterisasi adalah kunci utama untuk membuat pembaca ketagihan. Karakter Anda harus menjadi karakter yang dapat dipahami oleh pembaca, baik untuk dikagumi atau dibenci. Intinya mereka harus memicu emosi pembaca Anda.

Agatha Christie juga mengandalkan penjahat yang tak terlupakan. Dia menciptakan penjahat yang menarik dengan sisi gelapnya. Dia mengandalkan dialog untuk membantunya dalam mengatur kecepatan cerita dan meningkatkan ketegangan. Ceritanya dimulai dengan banyak deskripsi dengan tujuan memberi jalan pada interaksi dan dialog antar karakter.

Setting

Sering kali dalam novel Agatha Christie, setting itu sendiri akan memungkinkan twist bekerja. Seperti dalam Murder on the Orient Express, strategi pembunuhan berhasil karena para karakter berada di kereta yang terjebak dalam tumpukan salju.

Kemudian dalam And Then There Were None, Agatha Christie menjebak karakter-karakternya di sebuah pulau, dan semua karakter terbunuh satu per satu. Jika tidak ada orang lain di pulau tersebut, pastilah salah satu karakternya tidak benar-benar mati dan jadi pembunuhnya kan?

Gaya Bahasa

Agatha Christie menggunakan bahasa sehari-hari dan kalimat-kalimatnya aktif. Hal ini membuat pembacanya nyaman. Meskipun begitu, dia tidak menganggap pembacanya bodoh. Plotnya menipu, cerita-ceritanya adalah kombinasi cerdik antara kejahatan dan psikologis.