7 Cara Membuat Karakter Pendukung yang Mencuri Perhatian

Saya yakin sebagian besar penulis tahu cara membuat karakter utama, kita tahu protagonis kita akan menempati ruang terbanyak di dalam naskah. Namun setiap cerita membutuhkan karakter pendukung. Tanpanya, karakter utama Anda tidak akan berkembang, dan tanpanya karakter utama Anda tidak memiliki teman atau keluarga.

Untuk postingan kali ini, saya ingin mendedikasikan kepada para karakter pendukung yang biasanya hanya mampir secara singkat. Namun jika ditulis dengan baik mereka dapat mencuri perhatian.

Anda bisa mengikuti cara-cara di bawah ini untuk bisa membuat para pendukung mendukung agar tidak terlihat sekedar ‘numpang lewat’ Semoga trik ini membantu Anda membuat karakter pendukung tidak terlalu kecil.

1. Alasan dan tujuan

Berikan mereka alasan untuk berada di dalam sana. Seringkali sebagai penulis kita tergoda untuk memenuhi novel dengan warna-warni karakter, hanya untuk menambah kelucuan, atau keunikan, tapi jika karakter tidak memiliki peran untuk dimainkan di dalam plot, maka mereka harus pergi.

2. Karakteristik

Meskipun mereka tidak selalu muncul, tetapi pastikan kehadiran mereka dapat memberikan nuansa lain dalam cerita. Banyak orang memiliki satu atau dua kebiasaan yang unik dan menonjol. Itu bisa menjadi karakteristik, ciri khas. Berikan itu juga kepada karakter sekunder Anda.

3. Buatlah mereka berhubungan dengan protagonis atau antagonis dengan cara yang berarti.

Apa arti karakter ini bagi protagonis Anda? Peran apa yang dia penuhi? Apa yang diinginkan karakter utama Anda dari mereka? Fokuskan pada peran mereka terhadap protagonis Anda, sehingga cerita tidak akan melebar dan pembaca pun terkesan terhadap karakter pendukung.

Character 44. Memastikan mereka berbicara dengan cara yang khas

Anda harus memastikan karakter Anda tidak berbicara dengan cara yang sama. Setiap karakter unik. Mereka terlihat berbeda, bersikap berbeda, jadi cara bicara mereka juga berbeda. Meskipun mereka adalah karakter pendukung, ketika mereka berbicara tidak terasa “numpang lewat” saja.

5. Kaitkan mereka dalam satu lokasi khusus

Dalam upaya untuk memudahkan pembaca Anda untuk mengingat siapa adalah siapa, letakkan karakter pendukung Anda ke satu lokasi bila memungkinkan. Karakter ini hanya muncul di lokasi tertentu (kantor pos, bioskop, kafe, butik, dll).

Mungkin protagonis selalu bertemu karakter pendukung Anda di satu butik, maka pembaca Anda akan belajar mengaitkan karakter ini dengan butik tersebut. Namun, jika Anda memposisikan karakter tersebut di taman bermain (tanpa alasan yang bagus), ia dapat membingungkan pembaca. Jika tidak ada alasan untuk karakter pendukung Anda berada di lokasi kedua, jangan pindahkan mereka.

Character 16. Berikan latar belakang (sejarah).

Meskipun karakter ini adalah karakter pendukung, tetapi Anda tetap dapat memberikan latar belakang atau sejarah mereka. Tidak perlu sebanyak protagonis Anda tentunya, tapi setiap orang memiliki sejarah. Dari mana mereka berasal, apa yang membentuk mereka. Mengapa ini penting? Karena jika Anda tidak memahami karakter, pembaca Anda juga tidak.

7. Jangan membuatnya berlebihan

Ingatlah bahwa karakter ini adalah karakter sekunder, jadi jangan juga berlebihan. Anda mungkin tidak ingin mereka membayangi protagonis Anda. Atau mungkin Anda melakukannya. Terkadang karakter pendukung memiliki sudut pandang untuk dibagikan yang mengubah cerita dengan cara yang menarik.

Dengan memberikan pembaca beberapa pemain sekunder yang segar, kuat dan menyenangkan, maka pembaca Anda akan menghargainya.

 

Advertisements

Daftar Checklist Penulis untuk novel Bagian (2)

Pada postingan sebelumnya, Anda sudah melihat daftar apa sajakah dalam cerita yang harus Anda periksa saat mengedit novel. Dalam postingan ini kita akan melihat daftar periksa untuk dialog dalam novel Anda.

Dialog sangat penting karena dialog lebih dari sekedar memberikan kata-kata pada para karakter. Dialog adalah sumber informasi penting agar pembaca mengerti cerita Anda.

Jadi berikut adalah checklist untuk mengedit dialog Anda:

1. Bacalah kembali naskah Anda, lalu temukan apakah dialog Anda sudah dapat dipercaya atau tidak?

2. Apakah setiap dialog yang Anda tuliskan memiliki tujuan? Dalam arti melayani setiap sub plot yang ada atau secara keseluruhan cerita.

3. Apakah dialog-dialog Anda sudah memajukan cerita? Setelah setiap percakapan yang berlangsung, pembaca harus selangkah lebih dekat kepada klimaks atau tujuan cerita Anda.

Coffee talking 14. Apakah masing-masing karakter Anda sudah terwakili dengan dialog-dialog yang diberikan untuk mereka? Dialog yang tepat harus mengungkapkan informasi yang relevan tentang karakter. Pembaca harus mendapatkan wawasan tentang apa yang karakter rasakan dan apa yang mereka alami.

5. Sudahkah Anda menyeimbangkan dialog tag dan narasi yang tepat untuk jangkar antar jalinan cerita atau dialog lain?

6. Apakah dialog Anda berhalaman-halaman? Dialog terbaik adalah dialog yang padat. Anda tidak perlu menuliskan seluruh informasi dan kebenaran tentang karakter, motivasi mereka, cara pandang mereka tentang dunia dengan pertukaran yang panjang.

Dialog ada karena suatu alasan. Jika Anda menulis dialog tanpa arah dan tujuan, dialog tersebut haruslah dihapus.

Ada trik yang dapat Anda lakukan sebelum menulis dialog, tanyakan MENGAPA. Mengapa karakter Anda ini mengatakan hal tersebut? Kenapa karakter lain  membalas seperti itu? Bagaimana mereka bisa berdialog, bertengkar, bercakap-cakap tentang hal tersebut dari awal?

Baca juga:

Daftar Checklist Penulis untuk novel Bagian (1)

5 Kesalahan ketika Menulis Dialog

3 Hal yang harus diperhatikan dalam Menulis Dialog dalam Novel