6 Cara Bagaimana Mendeskripsikan Mata dalam Cerita

Mata adalah jendela jiwa—sebuah frasa yang begitu terkenal. Sebagai penulis, kita pasti tidak akan melewatkan untuk mendeskripsikan mata para karakter kita. Ketika awal-awal menulis fiksi saya sering hanya mengandalkan warna mata untuk menciptakan kesan pada karakter, tetapi ternyata itu tidak cukup, kita harus membuat pembaca mengintip ke dalam jiwa karakter. Jadi bagaimana caranya untuk dapat mendeskripsikan mata dalam novel dan cerita kita tanpa terasa begitu klise? Berikut tipsnya:

1. Hindari hanya berfokus pada warna mata saja. Kita tahu menuliskan warna mata begitu mudah, tapi tambahkan fitur lain pada wajah karakter Anda untuk mengidentifikasinya. Misalnya: Mata cokelatnya melebar saat aku menyebut nama itu. Atau tambahkan deskripsi lain selain warna mata, misalnya: matanya bersinar seperti kilat perak ketika menatapku.

2. Mendeskripsikan mata sebagai sumber kontras. Karakteristik fisik setiap orang seringkali kontras. Orang yang kecil dengan telinga yang sangat besar. Perempuan berwajah bak malaikat tapi memiliki suara yang serak dan berat. Dan lain-lain. Dengan menunjukkan kekontrasan Anda bisa secara efektif memperlihatkan dimensi lain pada karakter Anda.

eyes 33. Deskripsikan mata untuk mendukung pengembangan cerita. Seringkali kita mendeskripsikan mata tanpa berpikir apa-apa, yang penting digambarkan saja, tanpa mempertimbangkan bagaimana itu akan relevan dengan cerita. Jika karakter Anda curiga, warna mata tidak relevan dengan tindakan dalam cerita. Lebih baik seperti ini: matanya menelisik, mencari-cari apa ada jejak kebohongan di mataku. 

Gunakanlah deskripsi mata pada pengembangan karakter yang juga tentunya relevan dengan cerita. Jika Anda ingin menunjukkan kepada pembaca, tentang karakter atau niat karakter Anda, Anda dapat juga menggambarkannya lewat mata. Contoh: matanya kosong, sekosong jiwanya. Atau tatapannya yang tajam seolah mengoyak-ngoyakku.

4. Menggambarkan seluruh area mata. Apabila karakter Anda kurang tidur, Anda bisa mendeksripsikan area lain di sekitar matanya. Misalnya, kantong matanya atau bagian bawahnya yang menghitam, untuk menunjukkan kelelahan. Alis mata dan bulu mata juga sering dilibatkan untuk mendapatkan ekspresi dan kepribadian yang lebih kuat. Gerakan alis dapat menggambarkan permainan mata dan bagian penting dalam mengekspresikan emosi.

eyes 25. Gunakan mata untuk menggambarkan psikologi atau kondisi emosional karakter. Kembali lagi pada frasa, mata adalah jendela jiwa, apa yang kita alami secara emosional akan terlihat pada mata kita. Mata yang bengkak dapat menunjukkan karakter Anda habis menangis. Mata yang sering berkedip mungkin dia sedang gugup.

6. Mendeskripsikan detail fisik lainnya dari karakter Anda selain matanya. Karakter Anda mungkin memiliki mata cokelat tua polos. Tetapi dengan menambahkan fitur lain selain mata, Anda dapat menaikkan level deksripsi karakter Anda. Contohnya: Mata hijaunya melebar dan dia mengangkat telunjuknya mengingat sesuatu.

Saya adalah penulis yang senang sekali menggunakan deskripsi mata, dan seringkali itu jadi menantang karena tentu saya tidak boleh menggunakan deskripsi yang sama berkali-kali, itu akan membuat pembaca Anda bosan dan tulisan Anda menjadi kering. Enam poin di atas bisa membantu Anda sebagai panduan untuk bisa mengeksplor lebih lagi dalam menggambarkan mata. Selamat Menulis ya Writers 🙂

 

Advertisements

7 Hal yang membuat Cerita menjadi jauh Lebih Baik

Sebagai penulis, kita pasti menginginkan cerita atau novel kita lebih dari sekedar baik. Kita ingin naik ke level yang lebih tinggi. Dan untuk mendapatkan cerita yang jauh lebih baik, ternyata, ada 7 hal yang dapat Anda tambahkan ke dalam cerita. Berikut adalah 7 hal tersebut:

1. Tambahkan konten yang dramatis. Konten dramatis dapat berupa: misteri, ketegangan, kejutan, keajaiban, dan sebagainya. Anda dapat langsung merasakan perbedaannya, ketika konten-konten tersebut dimasukkan. Cerita Anda menjadi lebih seru, menggigit, dan menarik.

character 12. Menciptakan karakter yang tak terlupakan. Karakter adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menulis fiksi. Berikan karakter Anda impian, cita-cita, kekuatan tapi juga kelemahan, pesona, dan keunikan sehingga cerita Anda akan terus melekat pada pembaca bahkan jauh setelah mereka selesai membaca buku Anda.

3. Perdalam plot dengan subplot. Cerita-cerita yang dapat memberikan lebih dari sekedar lapisan pertama, selalu bisa mencengkeram lebih kuat para pembaca.

dialog 14. Efektifitas dialog. Buatlah dialog Anda efektif. Jangan berputar-putar, dan selalu tanyakan kepada diri Anda sendiri; apakah cerita ini memerlukan dialog ini? Apakah dialog tersebut dapat membawa cerita saya ke depan? Atau tidak?

5. Masukkan konflik. Konflik menciptakan ketegangan, dan konflik menarik cerita Anda maju. Tapi bukan hanya itu, konfik juga membuat pembaca meraba-raba apa yang terjadi di depan sana, sehingga mereka akan terus membaca untuk melihat apa yang akan terjadi.

6. Tuliskan awal/ opening yang bagus. Sebuah pembukaan cerita harus mampu mengajak dan mengundang pembaca untuk masuk ke dalam cerita. Tidak heran bahwa ini adalah kalimat paling menantang untuk ditulis. Luangkan waktu, jangan terburu-buru dalam menulis bagian ini.

7. Berikan ending yang memuaskan pembaca. Ada satu novel romance yang pernah saya baca menceritakan tentang seorang istri yang kehilangan suaminya. Di sepanjang buku diceritakan bagaimana dia mengatasi rasa kehilangan yang mendalam dan juga hubungan baru yang dibangun perlahan dengan seorang pria yang baik. Di sepanjang buku, penulis menyuguhkan kisah cinta baru yang mungkin terjadi, tetapi di akhir cerita, pria yang seharusnya baik itu lebih memilih kembali kepada mantan pacarnya yang selingkuh. Saya langsung bereaksi….whattttt #$@%.

Novel tersebut adalah tentang sang istri dengan kehilangannya, dia mulai membuka hatinya dengan ragu-ragu untuk sang pria baik, semua pembaca menginginkan mereka bersama, kemudian Bam! Lalu apa gunanya capek-capek membangun kisah mereka jika tidak menakdirkan mereka untuk bersama? It’s a romance novel. Bukan cerita sastra, atau non fiksi, atau cerita dengan kritik sosial. Jadi berikan ending yang memuaskan, sesuai dengan genre cerita, sesuai dengan ekspektasi yang Anda bangun untuk pembaca.