7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat

Tantangan untuk menyelesaikan novel sudah dimulai pada saat menuliskan kalimat pembuka. Sebuah kalimat pembuka yang bagus akan memberikan petunjuk mengenai tema cerita dan tone (sikap, kecenderungan gaya) dari cerita tersebut. Mengapa penulis harus bisa membuat kalimat pembuka yang langsung menarik perhatian pembaca? Karena seorang penulis harus mendorong, menarik pembacanya melalui kalimat tersebut ke sebuah dunia yang dia bangun sehingga pembaca tidak dapat keluar sampai dia menyelesaikan novel Anda. Coba perhatikan kalimat pembuka dari beberapa novel di bawah ini:

The Woods karya Harlan Coben: Aku melihat ayahku membawa sekop itu. air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Ia mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke tanah. Mata sekop itu merobek tanah seakan-akan tanah itu adalah daging segar.

Relentless karya Dean Koontz: Ini adalah suatu hal yang aku pelajari: bahkan dengan sepucuk pistol di kepalaku, aku bisa tetap tertawa terbahak-bahak. Aku tidak yakin apakah ini adalah kapasitas keriangan ekstrem dalam diriku. Kalian pun harus memutuskannya untuk diri kalian sendiri.

Kedua penulis di atas menuliskan sebuah kalimat pembuka penuh misteri, mempunyai faktor ketakutan. Sehingga Anda langsung bisa menyimpulkan bahwa kedua novel di atas pastilah novel bergenre misteri, crime, thriller. Kedua penulis di atas selain mampu menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita, mereka juga langsung men set bahwa cerita tersebut mempunyai tone misteri, kejahatan dan ketegangan. Nah sekarang bagaimana caranya agar Anda juga dapat memperbaiki atau membuat kalimat pembuka novel Anda yang mempesona dan menarik pembaca? Berikut ini adalah cara-cara yang dapat Anda adaptasi ke dalam kalimat pembuka Anda:

1. Dimulai pada momen penting

gaishorn-2080138_960_720Ketika kalimat pembuka berada dalam situasi yang tidak biasa atau momen yang penting maka pembaca akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Bagaimana kelanjutan cerita Anda. Jadi memulai dengan momen yang penting atau situasi yang tidak biasa dapat Anda pilih sebagai di awal kalimat.

Contoh: Malam saat Jake Djones tahu bahwa orangtuanya hilang di suatu masa dalam sejarah, tercatat sebagai malam dengan badai terdahsyat. (The History Keepers, Damian Dibben)

2. Menambahkan karakter yang menarik

Jika di novel Anda terdapat karakter yang benar-benar unik, sangat menarik, atau mungkin aneh dalam arti mampu menarik perhatian, Anda dapat menggunakan satu situasi tentang mereka dalam kalimat pembuka novel Anda. Bagaimana pun juga seseorang dengan karakter yang menarik di dunia nyata selalu mampu mempesona kita atau menjadi bahan pembicaraan dan gosip, bukan? ๐Ÿ˜‰

Contoh: Kami memanggilnya sang Profesor. Dan, dia memanggil anak lelakiku Rootโ€”akar, karena, sang Profesor berkata, puncak kepala anakku yang datar mengingatkannya pada simbol akar kuadrat. (The House Keeper & The Professor, Yลko Ogawa)

3. Konflik

argument-238529_960_720Salah satu cara membuat kalimat pembuka yang sangat baik adalah dengan memberikan konflik. Konflik adalah detak jantung setiap cerita. Tanpa konflik, cerita akan menjadi statis, tidak bergerak dan tanpa tujuan.

Contoh: Keputusanku untuk menjadi pengacara semakin kuat ketika kusadari ayahku membenci profesi hukum. (The Rain Maker, John Grisham)

4. Sentuhan emosi

Para pembaca tentu ingin tersentuh oleh cerita Anda. Mereka membayangkan diri mereka sendiri berada di situasi yang Anda ciptakan di novel Anda, jadi berikan mereka kesempatan untuk merasakan emosi karakter Anda, sehingga mereka akan terus membaca novel Anda.

Contoh: Apa kau akan mati kalau tiba di sini sebelum tengah hari? Aku duduk di sini, di tengah-tengah serpihan hidupku seperti yang kau tahu, dan kauโ€ฆkalau aku memang mengenalmu, kau pasti baru saja bagun. (Attachments, Rainbow Rowell)

5. Faktor ketakutan

Dalam cerita misteri atau suspense, faktor ketakutan dapat menjadi pilihan yang tepat untuk memulai kalimat.

Contoh: Tyler mencarikanku pekerjaan sebagai pelayan, kemudian Tyler menodongkan sepucuk pistol ke dalam mulutku dan berkata, langkah pertama menuju kehidupan abadi adalah kau harus mati. (Fight Club, Chuck Palahniuk)

6. Kejutan atau teka-teki

question-mark-1872665_960_720Sebuah pembukaan yang mengejutkan atau penuh teka-teki dapat membuat pembaca berhenti sejenak, berpikir, dan bertanya-tanya tentang cerita tersebut. Ini merupakan cara dramatis untuk mendorong sebuah cerita memanggil-manggil untuk dibaca.

Contoh: Ditelan seekor buaya raksasa sudah cukup buruk bagiku. (The Son of Sobek, Rick Riordan)

7. Memukau

Kalimat pembuka yang manis memang sanggup menarik emosi pembaca sehingga terhanyut dalam setting novel. Kalimat seperti ini akan langsung menetapkan bahwa sepanjang sisa novelnya, penulis akan terus menggunakan gaya bahasa seperti itu.

Contoh: DUHAI Sang Raja, yang duduk di atas takhta kejayaan, yang dimandikan oleh kemerlip cahaya lelampu warna-warni dan wewangi asap dupa-dupa. (Dewi Khayalan, Kahlil Gibran)

Tujuh cara di atas adalah tentang menjaga pembaca Anda tertarik. Tujuh cara di atas dapat menjadi pilihan Anda untuk menemukan kalimat pembuka yang tepat bagi novel Anda. Penulis yang hebat dapat menenun cerita sehingga para pembaca akan terus membaca sampai larut malam dan itulah keajaiban dalam hubungan antara pembaca dan penulis.

 

Advertisements

34 thoughts on “7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat

  1. Pada suatu malam yang dingin,disaat burung hantu berbunyi disepanjang tepi sungai,seorang anak muda duduk disebuah kursi tua ditemani cahaya lilin.
    Kalimat pembuka ini boleh ngk???? ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Liked by 1 person

    • Hai Sam, boleh aja sih, tapi pertanyaannya apakah opening lines di atas berhasil atau tidak?
      Coba kita breakdown ya:

      1. Jika Sam mau menulis cerita misteri, pembuka tersebut kurang berhasil, mengapa? Ada burung hantu (memberi kesan seram) tapi, kemudian ada sebuah kursi tua ditemani cahaya lilin (cahaya lilin memberi kesan romantis) Kalimat pembuka seharusnya dapat memberitahu pembaca genre tulisan kita.

      2. Pada suatu malam yang dingin, adalah kalimat yang terlalu luas. Tidak menunjukkan kesan langsung dan waktu yang penting.

      Mungkin Sam bisa memasukkan unsur-unsur di postingan di atas ke dalam kalimat pembukanya. Terima kasih sudah berkunjung ๐Ÿ™‚

      Liked by 1 person

  2. menurut saya lilin juga bukan kesan romantis tapi juga kesan seram. karana cahaya lilin redup, sesuatu yg redup dpt menimbulkan kesan seram. karna lilin juga merupakan simbol ritual ritual setan.

    Liked by 1 person

  3. Saya sudah menulis satu buku kisah nyata. Judulnya: “NAPI 973 HARI”. Terbit tahun 2010 lalu setelah dimuat bersambung di Harian Surya Surabaya dan harian Warta Kota Jakarta. Saat ini, saya ingin menulis ulang dalam versi novel non fiksi.

    Artikel “7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat” ini sangat inpiratif. Terimakasih, sekali lagi terimakasih.

    Liked by 1 person

  4. Mbak, kalau pembukaan seperti ini salahnya dimana yaa?
    Sempat terlintas dibenaknya, “haruskah aku memanggil peralatanku dan menahan cahaya matahari agar lebih redup?”. Hidup di kota sederhana yang menyimpan misteri temuan teknologi memang tidak mudah. Ketika semua serba otomatis, haruskah kita menggunakan kaki untuk berjalan? atau tangan untuk makan?

    Like

    • Hai Satria, kalau saran saya untuk kata peralatan mungkin bisa langsung diberi nama saja alatnya. Nanti penjelasan alatnya bisa di line-line selanjutnya. Biasanya untuk novel-novel fantasi, penulis langsung menyebut nama, frase, atau julukan baru, kita para pembaca akan tahu kalau terus membaca. Bisa di trim lagi kalimatnya, seperti menghapus kata ‘hidup’ misalnya, jadi langsung ke: Kota ini…. Kalimat pembuka akan lebih baik jika langsung. Semoga bisa membantu ๐Ÿ™‚ Terima kasih untuk pertanyaannya.

      Like

  5. saya masih dalam tahap membuat sebuah cerita , judulnya “HARAPAN & PERASAAN YANG TAK PERNAH HILANG”. Cerita ini saya ambil dari kisah pribadiku sendiri
    kalimat pembuka “sejujurnya hati kecil ini ingin pulang, ingin kembali tapi tak tahu pulangnya kemana, kembalinya kepada siapa. Entahlah..mungkin sekujur tubuh ini telah diracuni rasa kecewa?
    “tetapi terkadang kita harus sedikit mundur, agar bisa melompat lebih jauh”

    Liked by 1 person

    • Pembukaan yang ringan sih bisa pakai unsur poin kedua: Menambahkan karakter yang menarik (karakter bisa lucu, agak aneh, dsb yang membuat pembukaan kita ringan), atau unsur ketiga: Konflik, juga cocok, konflik kan tidak harus berat, bisa aja adegan salah sangka yang ringan atau kocak. Semoga membantu. Terima kasih sudah berkunjung ๐Ÿ™‚

      Like

  6. ” meskipun tidak ada isyarat untuk menunggu , tapi entah mengapa diri ini masih tetap bertahan untuknya. Namun seiring waktu berjalan, orang asing itu datang berusaha membuatku tersenyum disaat aku merindukan dia ” … gimana mba ? kalo pembukaannya kaya begitu bisa atau kurang atau terlalu mainstream atau malah alay wkwk ?? ..
    terimakasih sebelumnya ๐Ÿ™‚

    Liked by 1 person

    • Hai Navin, opening yang cocok untuk genre romance. Nggak Alay kok ๐Ÿ˜‰ Tapi mungkin kata-katanya harus diubah sedikit jadi lebih kuat (strong). Misalnya: Tidak pernah ada isyarat untuk menunggu. Tapi aku menunggu juga. Bertahan untuknya seperti orang bodoh! (atau kamu bisa masukkan analogi bertahan sbb: Bertahan untuknya. Seperti pohon kering di musim dingin yang menantikan cahaya matahari musim semi yang panjang. ๐Ÿ™‚ Analogi bisa jadi pilihan yang bagus apalagi untuk romance dan analoginya nggak harus yang indah-indah, tergantung gaya tulisan Navin juga. Semoga membantu. Terima kasih sudah visit!

      Like

  7. Kak, aku lagi nulis cerita, kalimat pembukanya seperti ini. “Pukul sembilan malam, hujan turun sangat deras. Sesekali kilat menerangi sebuah rumah di tengah hamparan sawah. Tampak seorang pria berdiri membelakangi rumah dengan tatapan penuh amarah. Seorang wanita tua dengan rambut disanggul seadanya serta pakaiannya yang lusuh bersimpuh di hadapan pria yang kini basah tertimpa hujan. Sekuat tenaga ia memegang tangan kanan pria tersebut seakan tak membiarkan menjauh darinya. Namun, pria di hadapannya sudah tenggelam dalam amarah dan tak lagi menghiraukan wanita yang telah membesarkannya dua puluh lima tahun silam. Pria itu melepaskan tangan Ibunya dan berjalan meninggalkan rumah yang sudah ia tempati selama ini. Langkahnya semakin mantap tatkala jemari tangan seorang wanita menggengam erat tangannya….” menurut kkak gimana?

    Liked by 1 person

    • Hai Rain, terima kasih untuk pertanyaannya ya. Kalau saya lihat sih di kalimat pembuka di atas ada unsur konflik. Itu sudah bagus membuka novel dengan konflik, tapi deskripsinya terlalu panjang dan general.

      Kalimat Hujan turun sangat deras itu sangat general. Tidak ada perasaan di sana. Kalau kita ganti menjadi: “Jangan pergi!”. Wanita tua itu tersungkur di tanah yang basah. Dia menarik tangan pria muda itu. Terisak. Tapi air matanya segera hilang bersama hujan yang menderas. Sejak dulu dia membenci hujan. Suaminya juga pergi saat hujan. Dan sekarang cahaya satu-satunya yang tinggal juga pergi mengabaikan jeritan rasa sakitnya.
      Dengan segenap kekuatannya, dia menengadah. Langit gelap kejam itu menertawakannya. Suara hujan yang mendesing. Dingin, menampar wajahnya tanpa ampun. Langit itu seharusnya biru. Dan warna emas matahari seharusnya ada di sana, menghangatkannya. Tapi mataharinya sudah pergi. Dan dia tahu, matahari itu tidak akan pernah kembali.

      Tidak masalah jika kita menuliskan deskripsi fisik karakter kita, tapi jika deskripsi fisiknya tidak urgent dan menolong kalimat pembuka maka yang harus jadi prioritas adalah perasaan. Di dalam deskripsi tulisan kita harus terkandung perasaan. Supaya pembaca dapat merasakan apa yang karakter kita rasakan dan dapat bersimpati terhadap mereka. Semoga membantu ya Rain, selamat menulis ๐Ÿ™‚

      Liked by 1 person

  8. Ka aku mau memulai novel yg seharusnya ditulis dari beberapa thn yg lalu. Ini tentang cinta beda agama, tapi sepasang kekasih ini masih punya ikatan keluarga. Gimana dengan pembukaannya kalau begini.
    *Keputusanku untuk menerimamu sebagai kekasih ternyata kusadari menjadi warna baru dalam sudut pandangku. Bukan hanya soal sikapmu namun juga dengan rosariomu. Tidak hanya soal agama tapi juga silsilah keluarga kita.

    nyari kalimatnya agak susah ๐Ÿ˜‚ mohon bantuannya ka ๐Ÿ™‚

    Liked by 1 person

    • Hai Vaaaa, terima kasih sudah visit. Menurut saya agama itu issue yang cukup sensitif, jadi waktu simbol-simbol agama disebut dalam novel harus berhati-hati sekali terutama dalam opening line. Nah, sekarang fokus novel kamu apakah memang murni cinta yang mengatasi perbedaan? Atau sebuah issue sosial yang berat? Kalau ini murni cinta mungkin bisa memasukkan unsur cinta yang dalam. Opening line pada dasarnya harus mampu menarik perhatian pembaca. Bisa berupa kalimat yang panjang, deskriptif, atau bisa juga berupa kalimat pendek, singkat, tenang, namun puitis, tidak mengungkapkan banyak, tetapi mendesak pembaca untuk membaca lebih lanjut.

      Ini beberapa saran yang mungkin bisa dijadikan referensi:
      1. Jika kamu ingin opening linenya berada saat tokoh utama jatuh cinta: โ€œUntuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ditarik keluar menuju sebuah dunia dengan sudut pandang lain.โ€ –> sudut pandang lain ini merefer perbedaan.

      2. Jika kamu ingin opening linenya berada saat sang tokoh utama berada di tengah-tengah keputusan yang sulit tentang cintanya: โ€œJika kau tahu apa yang akan kuputuskan besok, kau akan menangis.โ€

      3. Jika kamu ingin opening linenya berada saat sang tokoh utama pertama kali melihat sang kekasih. Deskripsi tentang bagaimana dia bisa mencuri perhatian dirinya: โ€œClarice Adriana memang tidak selalu menjadi yang tercantik di dalam ruangan, tapi dia akan segera mencuri perhatian siapa pun saat mulai berbicara. Seolah kecantikannya bertambah 200 kali lipat ketika kata-katanya keluar. Dia berbeda. Cara pandangnya terhadap dunia membuatnya menjadi satu-satunya perempuan yang membuat duniaku jungkir balik.โ€

      Menulis opening line itu adalah bagian yang tersulit dari menulis novel, saya selalu mengedit ulang opening line bahkan saat seluruh bagian buku sudah selesai. Membaca banyak buku sesuai dengan genre yang kita tulis juga akan banyak sekali membantu.
      Semoga jawabannya bisa menolong ya ๐Ÿ™‚

      Like

  9. Halo kak, boleh minta pendapatnya mengenai kalimat pembuka ku yang ini ? (genre nya Fantasy,Action)

    โ€œKakek, buku apa ini?โ€ kata cucu ku yang menghampiri sembari memegang sebuah buku yang sudah usang dan penuh dengan debu. Awalnya aku bereaksi biasa-biasa saja karena mengira buku yang dipegang cucu ku ini adalah buku-buku koleksi saat masih muda. Namun mata ku terbelalak saat pada akhirnya aku membersihkan buku itu dari debu debu yang bertumpuk dan memakai sebuah kacamata pada kedua mataku yang sudah mulai rabun.. Sebuah tulisan indah menghiasi cover depan buku yang ku pegang ini, yang ditulis dengan penuh ciri khas penulis nya yakni diriku sendiri. Sebuah buku yang langsung mengingatkanku dengan masa lalu ku 28 tahun yang lalu.

    Terima kasih sebelumnya ^.^

    Liked by 1 person

    • Halo juga Ken, Fantasynya mungkin bisa lebih spesifik? Dari pembukaan Ken, ceritanya mungkin fantasy science fiction (setting masa depan?)

      Genre Fantasy biasanya menggunakan habitat (setting) yang berbeda dengan dunia nyata. Jadi akan lebih baik kalau ada sedikit saja di opening line atau paragraf pertama buku tentang setting dan deskripsi yang berbeda supaya pembaca langsung tahu cerita tersebut berada di mana.

      Berikut contoh-contoh opening line untuk bisa kamu jadikan referensi:

      1. Inkheart (Cornelia Funke) : Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. Bertahun-tahun kemudian Meggie tinggal memejamkan mata dan ia pun bisa mendengar bunyi itu lagi, seperti jari-jari kecil mengetuk-ngetuk jendela. Di suatu tempat yang terselubung kegelapan malam, seekor anjing menyalak dan Meggie tidak bisa tidur, berbaring gelisah.

      Inkheart adalah novel pertama dari trilogy yang ber genre Fantasi, Misteri dan Bildungsroman (genre yang mengedepankan tema proses perjalanan pribadi tokoh-tokoh di dalam novel). Ketika kita membaca opening line Inkheart, kita langsung tahu bahwa novel tersebut pasti bergenre fantasy. Kenapa? Karena Cornelia menggunakan kata seperti: bisikan. Lalu di kalimat berikutnya dia menjelaskan satu tempat dengan misterius: di suatu tempat yang terselubung kegelapan malam –> kalimat ini seolah-olah menjadi jembatan untuk pembaca bahwa ada tempat lain yang terselubung kegelapan malam.

      2. Legend (Marie Lu) : Ibuku berpikir AKU SUDAH MATI. Sebenarnya aku tidak mati, tapi lebih aman bagi ibuku untuk tetap berpikir begitu. Sekurang-kurangnya dua kali dalam sebulan, aku melihat poster buronku disiarkan di layar JumboTrons yang tersebar di seluruh penjuru Kota Los Angeles. Poster itu sebenarnya tidak cocok ada di sana. Kebanyakan gambar yang ditayangkan di JumboTrons adalah hal-hal menyenangkan: anak-anak yang tersenyum di bawah cerahnya langit biru, turis yang berpose sebelum Golden Gate runtuh, iklan-iklan komersil Republik dalam warna-warni neon. Ada pula propaganda anti-Koloni.

      Marie Lu di novel Legend yang bergenre Fantasi Science Fiction Distopia, menuliskan opening line pertamanya dengan kalimat yang mampu memprovokosi pembaca: Ibuku berpikir AKU SUDAH MATI. Lalu di kalimat kedua dan seterusnya, penulis memutuskan untuk memberikan deskripsi dan setting tempat di mana pembaca langsung tahu bahwa ini adalah suatu masa di masa depan dengan kata-kata seperti: JumboTrons, Jembatan Golden Gate yang runtuh, propaganda anti-Koloni, Iklan-iklan komersil Republik.

      Jadi dalam opening line Ken akan lebih baik jika: ada setting tempat, deskripsi waktu yang jelas, suasana atau situasi di dunia yang ingin Ken bangun di novel, kosa kata yang sesuai, nama karakter juga bisa disesuaikan dengan genre.
      Jika ini adalah fantasy Science Fiction Distopia, maka opening linenya mungkin bisa menjadi seperti contoh di bawah ini:

      โ€œKakek, ini apa?โ€ Pertanyaan Liam tiga hari yang lalu itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Aku tahu persis suatu hari tabiatnya yang selalu curiga dan usil dengan urusan orang lain akan mengundang masalah. Ketika dia menyeringai dengan wajah polos 17 tahunnya, membawa dua tumpuk buku yang langsung aku kenali. Entah bagaimana cucuku itu menemukan lemari buku yang bersembunyi di balik dinding-dinding ruang bawah tanah yang apak, lembap dan penuh jamur. Aku nyaris roboh. Tak habis pikir mengapa buku-buku itu bahkan masih berbentuk. 28 tahun yang lalu, aku tak dapat memusnahkan buku-buku itu. Buku-buku, kau tidak boleh lagi memiliki buku apa pun. Di sini semua buku harus dibakar habis atau kau mati. Jantungku seolah direnggut saat Liam berkata lagi, โ€œKau penulisnya, Kek.โ€ 28 tahun yang lalu semua penulis ditembak mati.

      Untuk genre fantasy saya menyukai novel-novel Cornelia Funke, mungkin itu bisa menambah referensi bacaan Ken. Semoga membantu dan tetap semangat menulis ๐Ÿ™‚

      Like

  10. Assalamualaikum kak.. mau minta pendapat, ini tulisan untuk tugas, sedangkan saya masih pemula :

    Setiap orang pasti mempunyai mimpi dan harapan. Mimpi dan harapanmu itu akan terwujud atau hanya akan menjadi sebuah angan dalam fikiran, menjadi tulisan yang membisu di atas kertas, lalu hilang begitu saja, raib tanpa terwujudnya impian yang telah kamu idamkan. Itu semua tergantung diri kita sendiri, mau atau tidaknya kita memperjuangkan mimpi yang telah kita rajut.

    Liked by 1 person

    • Waalaikumsalam Kaysa, saya akan kembali ke genre tulisan Kaysa, karena kalimat pembukaan sangat tergantung dengan genre tulisan kita. Apakah Kaysa menulis non fiksi? Sepertinya dari nada tulisannya, ini adalah non fiksi, apakah dari sudut pandang orang pertama atau ketiga? Jika ini jenis tulisan motivasi atau inspirasi bisa juga dari sudut pandang orang petama supaya terasa lebih personal dan relate. Yang paling penting dari tulisan inspiratif atau jurnal, memoar (non fiksi) adalah pembaca bisa merasa terhubung dengan tulisan kita. Kaysa harus memasukkan cara pandang Kaysa terhadap dunia, terhadap bagaimana sekeliling Kaysa memandang mimpi itu sendiri, atau bagaimana Kaysa memandang mimpi, lalu memasukkan juga mengapa orang perlu bermimpi. Ketika tulisan kita terhubung dan menjawab kebutuhan maka para pembaca juga akan terbuka hatinya.

      Sebagai contoh kalimat pembukaannya:

      Mimpi. Apa yang ada dibenak kita jika mendengar kata mimpi? Sebuah kata yang overrated? Sebuah kata yang terlalu berat? Sebuah kata yang cuma buang-buang waktu? Para pendiri bangsa kita pernah bermimpi suatu hari nanti anak cucu mereka dapat mencicipi apa arti kemerdekaan. Mereka mengorbankan segalanya demi kemerdekaan yang kita rasakan sekarang. Dalam impian di situ tertanam masa depan. Tak peduli seberapa besar atau seberapa kecil, kita semua memiliki mimpi dan harapan yang ingin kita capai. Tapi tanpa keringat, kerja keras dan ketetapan hati, mimpi tidak akan pernah menjadi realitas. Itu hanya akan menjadi tulisan yang membisu di atas kertas. Lenyap ditelan waktu tanpa jejak apa-apa. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Untuk bangkit. Untuk hidup tidak hanya sekedar ada. Untuk berkarya menciptakan apa saja yang kita inginkan. Untuk menanam sesuatu untuk masa depan….dst

      Semoga membantu. Dan semangat menulis ๐Ÿ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s