7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat

Tantangan untuk menyelesaikan novel sudah dimulai pada saat menuliskan kalimat pembuka. Sebuah kalimat pembuka yang bagus akan memberikan petunjuk mengenai tema cerita dan tone (sikap, kecenderungan gaya) dari cerita tersebut. Mengapa penulis harus bisa membuat kalimat pembuka yang langsung menarik perhatian pembaca? Karena seorang penulis harus menarik pembacanya melalui kalimat tersebut ke sebuah dunia yang dia bangun sehingga mereka tidak dapat keluar sampai dia menyelesaikan novel Anda. Coba perhatikan kalimat pembuka dari beberapa novel di bawah ini:

The Woods karya Harlan Coben: Aku melihat ayahku membawa sekop itu. air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Ia mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke tanah. Mata sekop itu merobek tanah seakan-akan tanah itu adalah daging segar.

Relentless karya Dean Koontz: Ini adalah suatu hal yang aku pelajari: bahkan dengan sepucuk pistol di kepalaku, aku bisa tetap tertawa terbahak-bahak. Aku tidak yakin apakah ini adalah kapasitas keriangan ekstrem dalam diriku. Kalian pun harus memutuskannya untuk diri kalian sendiri.

Kedua penulis di atas menuliskan sebuah kalimat pembuka penuh misteri, mempunyai faktor ketakutan. Sehingga Anda langsung bisa menyimpulkan bahwa kedua novel di atas pastilah novel bergenre misteri, crime, thriller. Kedua penulis di atas selain mampu menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita, mereka juga langsung mengatur bahwa cerita tersebut mempunyai tone misteri, kejahatan dan ketegangan. Nah sekarang bagaimana caranya agar Anda juga dapat membuat kalimat pembuka novel Anda yang menarik pembaca? Berikut ini adalah cara-cara yang dapat diadaptasi ke dalam kalimat pembuka Anda:

1. Dimulai pada momen penting

gaishorn-2080138_960_720Ketika kalimat pembuka berada dalam situasi yang tidak biasa atau momen yang penting maka pembaca akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Bagaimana kelanjutan cerita Anda. Jadi memulai dengan momen yang penting atau situasi yang tidak biasa dapat Anda pilih sebagai di awal kalimat.

Contoh: Malam saat Jake Djones tahu bahwa orangtuanya hilang di suatu masa dalam sejarah, tercatat sebagai malam dengan badai terdahsyat. (The History Keepers, Damian Dibben)

2. Menambahkan karakter yang menarik

Jika di novel Anda terdapat karakter yang benar-benar unik, sangat menarik, atau mungkin aneh dalam arti mampu menarik perhatian, Anda dapat menggunakan satu situasi tentang mereka dalam kalimat pembuka novel Anda. Bagaimana pun juga seseorang dengan karakter yang menarik di dunia nyata selalu mampu mempesona kita atau menjadi bahan pembicaraan dan gosip, bukan? 😉

Contoh: Kami memanggilnya sang Profesor. Dan, dia memanggil anak lelakiku Root—akar, karena, sang Profesor berkata, puncak kepala anakku yang datar mengingatkannya pada simbol akar kuadrat. (The House Keeper & The Professor, Yōko Ogawa)

3. Konflik

argument-238529_960_720Salah satu cara membuat kalimat pembuka yang sangat baik adalah dengan memberikan konflik. Konflik adalah detak jantung setiap cerita. Tanpa konflik, cerita akan menjadi statis, tidak bergerak dan tanpa tujuan.

Contoh: Keputusanku untuk menjadi pengacara semakin kuat ketika kusadari ayahku membenci profesi hukum. (The Rain Maker, John Grisham)

4. Sentuhan emosi

Para pembaca tentu ingin tersentuh oleh cerita Anda. Mereka membayangkan diri mereka sendiri berada di situasi yang Anda ciptakan di novel Anda, jadi berikan mereka kesempatan untuk merasakan emosi karakter Anda, sehingga mereka akan terus membaca novel Anda.

Contoh: Apa kau akan mati kalau tiba di sini sebelum tengah hari? Aku duduk di sini, di tengah-tengah serpihan hidupku seperti yang kau tahu, dan kau…kalau aku memang mengenalmu, kau pasti baru saja bagun. (Attachments, Rainbow Rowell)

5. Faktor ketakutan

Dalam cerita misteri atau suspense, faktor ketakutan dapat menjadi pilihan yang tepat untuk memulai kalimat.

Contoh: Tyler mencarikanku pekerjaan sebagai pelayan, kemudian Tyler menodongkan sepucuk pistol ke dalam mulutku dan berkata, langkah pertama menuju kehidupan abadi adalah kau harus mati. (Fight Club, Chuck Palahniuk)

6. Kejutan atau teka-teki

question-mark-1872665_960_720Sebuah pembukaan yang mengejutkan atau penuh teka-teki dapat membuat pembaca berhenti sejenak, berpikir, dan bertanya-tanya tentang cerita tersebut. Ini merupakan cara dramatis untuk mendorong sebuah cerita memanggil-manggil untuk dibaca.

Contoh: Ditelan seekor buaya raksasa sudah cukup buruk bagiku. (The Son of Sobek, Rick Riordan)

7. Memukau

Kalimat pembuka yang manis memang sanggup menarik emosi pembaca sehingga terhanyut dalam setting novel. Kalimat seperti ini akan langsung menetapkan bahwa sepanjang sisa novelnya, penulis akan terus menggunakan gaya bahasa seperti itu.

Contoh: DUHAI Sang Raja, yang duduk di atas takhta kejayaan, yang dimandikan oleh kemerlip cahaya lelampu warna-warni dan wewangi asap dupa-dupa. (Dewi Khayalan, Kahlil Gibran)

Tujuh cara di atas adalah tentang menjaga pembaca Anda tertarik. Tujuh cara di atas dapat menjadi pilihan Anda untuk menemukan kalimat pembuka yang tepat bagi novel Anda. Penulis yang hebat dapat menenun cerita sehingga para pembaca akan terus membaca sampai larut malam dan itulah keajaiban dalam hubungan antara pembaca dan penulis.

 

Advertisements

67 thoughts on “7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat

  1. Pada suatu malam yang dingin,disaat burung hantu berbunyi disepanjang tepi sungai,seorang anak muda duduk disebuah kursi tua ditemani cahaya lilin.
    Kalimat pembuka ini boleh ngk???? 🙂 🙂

    Liked by 1 person

    • Hai Sam, boleh aja sih, tapi pertanyaannya apakah opening lines di atas berhasil atau tidak?
      Coba kita breakdown ya:

      1. Jika Sam mau menulis cerita misteri, pembuka tersebut kurang berhasil, mengapa? Ada burung hantu (memberi kesan seram) tapi, kemudian ada sebuah kursi tua ditemani cahaya lilin (cahaya lilin memberi kesan romantis) Kalimat pembuka seharusnya dapat memberitahu pembaca genre tulisan kita.

      2. Pada suatu malam yang dingin, adalah kalimat yang terlalu luas. Tidak menunjukkan kesan langsung dan waktu yang penting.

      Mungkin Sam bisa memasukkan unsur-unsur di postingan di atas ke dalam kalimat pembukanya. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Liked by 1 person

  2. menurut saya lilin juga bukan kesan romantis tapi juga kesan seram. karana cahaya lilin redup, sesuatu yg redup dpt menimbulkan kesan seram. karna lilin juga merupakan simbol ritual ritual setan.

    Liked by 1 person

  3. Saya sudah menulis satu buku kisah nyata. Judulnya: “NAPI 973 HARI”. Terbit tahun 2010 lalu setelah dimuat bersambung di Harian Surya Surabaya dan harian Warta Kota Jakarta. Saat ini, saya ingin menulis ulang dalam versi novel non fiksi.

    Artikel “7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat” ini sangat inpiratif. Terimakasih, sekali lagi terimakasih.

    Liked by 1 person

  4. Mbak, kalau pembukaan seperti ini salahnya dimana yaa?
    Sempat terlintas dibenaknya, “haruskah aku memanggil peralatanku dan menahan cahaya matahari agar lebih redup?”. Hidup di kota sederhana yang menyimpan misteri temuan teknologi memang tidak mudah. Ketika semua serba otomatis, haruskah kita menggunakan kaki untuk berjalan? atau tangan untuk makan?

    Like

    • Hai Satria, kalau saran saya untuk kata peralatan mungkin bisa langsung diberi nama saja alatnya. Nanti penjelasan alatnya bisa di line-line selanjutnya. Biasanya untuk novel-novel fantasi, penulis langsung menyebut nama, frase, atau julukan baru, kita para pembaca akan tahu kalau terus membaca. Bisa di trim lagi kalimatnya, seperti menghapus kata ‘hidup’ misalnya, jadi langsung ke: Kota ini…. Kalimat pembuka akan lebih baik jika langsung. Semoga bisa membantu 🙂 Terima kasih untuk pertanyaannya.

      Like

  5. saya masih dalam tahap membuat sebuah cerita , judulnya “HARAPAN & PERASAAN YANG TAK PERNAH HILANG”. Cerita ini saya ambil dari kisah pribadiku sendiri
    kalimat pembuka “sejujurnya hati kecil ini ingin pulang, ingin kembali tapi tak tahu pulangnya kemana, kembalinya kepada siapa. Entahlah..mungkin sekujur tubuh ini telah diracuni rasa kecewa?
    “tetapi terkadang kita harus sedikit mundur, agar bisa melompat lebih jauh”

    Liked by 1 person

    • Pembukaan yang ringan sih bisa pakai unsur poin kedua: Menambahkan karakter yang menarik (karakter bisa lucu, agak aneh, dsb yang membuat pembukaan kita ringan), atau unsur ketiga: Konflik, juga cocok, konflik kan tidak harus berat, bisa aja adegan salah sangka yang ringan atau kocak. Semoga membantu. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Like

  6. ” meskipun tidak ada isyarat untuk menunggu , tapi entah mengapa diri ini masih tetap bertahan untuknya. Namun seiring waktu berjalan, orang asing itu datang berusaha membuatku tersenyum disaat aku merindukan dia ” … gimana mba ? kalo pembukaannya kaya begitu bisa atau kurang atau terlalu mainstream atau malah alay wkwk ?? ..
    terimakasih sebelumnya 🙂

    Liked by 1 person

    • Hai Navin, opening yang cocok untuk genre romance. Nggak Alay kok 😉 Tapi mungkin kata-katanya harus diubah sedikit jadi lebih kuat (strong). Misalnya: Tidak pernah ada isyarat untuk menunggu. Tapi aku menunggu juga. Bertahan untuknya seperti orang bodoh! (atau kamu bisa masukkan analogi bertahan sbb: Bertahan untuknya. Seperti pohon kering di musim dingin yang menantikan cahaya matahari musim semi yang panjang. 🙂 Analogi bisa jadi pilihan yang bagus apalagi untuk romance dan analoginya nggak harus yang indah-indah, tergantung gaya tulisan Navin juga. Semoga membantu. Terima kasih sudah visit!

      Like

  7. Kak, aku lagi nulis cerita, kalimat pembukanya seperti ini. “Pukul sembilan malam, hujan turun sangat deras. Sesekali kilat menerangi sebuah rumah di tengah hamparan sawah. Tampak seorang pria berdiri membelakangi rumah dengan tatapan penuh amarah. Seorang wanita tua dengan rambut disanggul seadanya serta pakaiannya yang lusuh bersimpuh di hadapan pria yang kini basah tertimpa hujan. Sekuat tenaga ia memegang tangan kanan pria tersebut seakan tak membiarkan menjauh darinya. Namun, pria di hadapannya sudah tenggelam dalam amarah dan tak lagi menghiraukan wanita yang telah membesarkannya dua puluh lima tahun silam. Pria itu melepaskan tangan Ibunya dan berjalan meninggalkan rumah yang sudah ia tempati selama ini. Langkahnya semakin mantap tatkala jemari tangan seorang wanita menggengam erat tangannya….” menurut kkak gimana?

    Liked by 1 person

    • Hai Rain, terima kasih untuk pertanyaannya ya. Kalau saya lihat sih di kalimat pembuka di atas ada unsur konflik. Itu sudah bagus membuka novel dengan konflik, tapi deskripsinya terlalu panjang dan general.

      Kalimat Hujan turun sangat deras itu sangat general. Tidak ada perasaan di sana. Kalau kita ganti menjadi: “Jangan pergi!”. Wanita tua itu tersungkur di tanah yang basah. Dia menarik tangan pria muda itu. Terisak. Tapi air matanya segera hilang bersama hujan yang menderas. Sejak dulu dia membenci hujan. Suaminya juga pergi saat hujan. Dan sekarang cahaya satu-satunya yang tinggal juga pergi mengabaikan jeritan rasa sakitnya.
      Dengan segenap kekuatannya, dia menengadah. Langit gelap kejam itu menertawakannya. Suara hujan yang mendesing. Dingin, menampar wajahnya tanpa ampun. Langit itu seharusnya biru. Dan warna emas matahari seharusnya ada di sana, menghangatkannya. Tapi mataharinya sudah pergi. Dan dia tahu, matahari itu tidak akan pernah kembali.

      Tidak masalah jika kita menuliskan deskripsi fisik karakter kita, tapi jika deskripsi fisiknya tidak urgent dan menolong kalimat pembuka maka yang harus jadi prioritas adalah perasaan. Di dalam deskripsi tulisan kita harus terkandung perasaan. Supaya pembaca dapat merasakan apa yang karakter kita rasakan dan dapat bersimpati terhadap mereka. Semoga membantu ya Rain, selamat menulis 🙂

      Liked by 1 person

  8. Ka aku mau memulai novel yg seharusnya ditulis dari beberapa thn yg lalu. Ini tentang cinta beda agama, tapi sepasang kekasih ini masih punya ikatan keluarga. Gimana dengan pembukaannya kalau begini.
    *Keputusanku untuk menerimamu sebagai kekasih ternyata kusadari menjadi warna baru dalam sudut pandangku. Bukan hanya soal sikapmu namun juga dengan rosariomu. Tidak hanya soal agama tapi juga silsilah keluarga kita.

    nyari kalimatnya agak susah 😂 mohon bantuannya ka 🙂

    Liked by 1 person

    • Hai Vaaaa, terima kasih sudah visit. Menurut saya agama itu issue yang cukup sensitif, jadi waktu simbol-simbol agama disebut dalam novel harus berhati-hati sekali terutama dalam opening line. Nah, sekarang fokus novel kamu apakah memang murni cinta yang mengatasi perbedaan? Atau sebuah issue sosial yang berat? Kalau ini murni cinta mungkin bisa memasukkan unsur cinta yang dalam. Opening line pada dasarnya harus mampu menarik perhatian pembaca. Bisa berupa kalimat yang panjang, deskriptif, atau bisa juga berupa kalimat pendek, singkat, tenang, namun puitis, tidak mengungkapkan banyak, tetapi mendesak pembaca untuk membaca lebih lanjut.

      Ini beberapa saran yang mungkin bisa dijadikan referensi:
      1. Jika kamu ingin opening linenya berada saat tokoh utama jatuh cinta: “Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ditarik keluar menuju sebuah dunia dengan sudut pandang lain.” –> sudut pandang lain ini merefer perbedaan.

      2. Jika kamu ingin opening linenya berada saat sang tokoh utama berada di tengah-tengah keputusan yang sulit tentang cintanya: “Jika kau tahu apa yang akan kuputuskan besok, kau akan menangis.”

      3. Jika kamu ingin opening linenya berada saat sang tokoh utama pertama kali melihat sang kekasih. Deskripsi tentang bagaimana dia bisa mencuri perhatian dirinya: “Clarice Adriana memang tidak selalu menjadi yang tercantik di dalam ruangan, tapi dia akan segera mencuri perhatian siapa pun saat mulai berbicara. Seolah kecantikannya bertambah 200 kali lipat ketika kata-katanya keluar. Dia berbeda. Cara pandangnya terhadap dunia membuatnya menjadi satu-satunya perempuan yang membuat duniaku jungkir balik.”

      Menulis opening line itu adalah bagian yang tersulit dari menulis novel, saya selalu mengedit ulang opening line bahkan saat seluruh bagian buku sudah selesai. Membaca banyak buku sesuai dengan genre yang kita tulis juga akan banyak sekali membantu.
      Semoga jawabannya bisa menolong ya 🙂

      Like

  9. Halo kak, boleh minta pendapatnya mengenai kalimat pembuka ku yang ini ? (genre nya Fantasy,Action)

    “Kakek, buku apa ini?” kata cucu ku yang menghampiri sembari memegang sebuah buku yang sudah usang dan penuh dengan debu. Awalnya aku bereaksi biasa-biasa saja karena mengira buku yang dipegang cucu ku ini adalah buku-buku koleksi saat masih muda. Namun mata ku terbelalak saat pada akhirnya aku membersihkan buku itu dari debu debu yang bertumpuk dan memakai sebuah kacamata pada kedua mataku yang sudah mulai rabun.. Sebuah tulisan indah menghiasi cover depan buku yang ku pegang ini, yang ditulis dengan penuh ciri khas penulis nya yakni diriku sendiri. Sebuah buku yang langsung mengingatkanku dengan masa lalu ku 28 tahun yang lalu.

    Terima kasih sebelumnya ^.^

    Liked by 1 person

    • Halo juga Ken, Fantasynya mungkin bisa lebih spesifik? Dari pembukaan Ken, ceritanya mungkin fantasy science fiction (setting masa depan?)

      Genre Fantasy biasanya menggunakan habitat (setting) yang berbeda dengan dunia nyata. Jadi akan lebih baik kalau ada sedikit saja di opening line atau paragraf pertama buku tentang setting dan deskripsi yang berbeda supaya pembaca langsung tahu cerita tersebut berada di mana.

      Berikut contoh-contoh opening line untuk bisa kamu jadikan referensi:

      1. Inkheart (Cornelia Funke) : Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. Bertahun-tahun kemudian Meggie tinggal memejamkan mata dan ia pun bisa mendengar bunyi itu lagi, seperti jari-jari kecil mengetuk-ngetuk jendela. Di suatu tempat yang terselubung kegelapan malam, seekor anjing menyalak dan Meggie tidak bisa tidur, berbaring gelisah.

      Inkheart adalah novel pertama dari trilogy yang ber genre Fantasi, Misteri dan Bildungsroman (genre yang mengedepankan tema proses perjalanan pribadi tokoh-tokoh di dalam novel). Ketika kita membaca opening line Inkheart, kita langsung tahu bahwa novel tersebut pasti bergenre fantasy. Kenapa? Karena Cornelia menggunakan kata seperti: bisikan. Lalu di kalimat berikutnya dia menjelaskan satu tempat dengan misterius: di suatu tempat yang terselubung kegelapan malam –> kalimat ini seolah-olah menjadi jembatan untuk pembaca bahwa ada tempat lain yang terselubung kegelapan malam.

      2. Legend (Marie Lu) : Ibuku berpikir AKU SUDAH MATI. Sebenarnya aku tidak mati, tapi lebih aman bagi ibuku untuk tetap berpikir begitu. Sekurang-kurangnya dua kali dalam sebulan, aku melihat poster buronku disiarkan di layar JumboTrons yang tersebar di seluruh penjuru Kota Los Angeles. Poster itu sebenarnya tidak cocok ada di sana. Kebanyakan gambar yang ditayangkan di JumboTrons adalah hal-hal menyenangkan: anak-anak yang tersenyum di bawah cerahnya langit biru, turis yang berpose sebelum Golden Gate runtuh, iklan-iklan komersil Republik dalam warna-warni neon. Ada pula propaganda anti-Koloni.

      Marie Lu di novel Legend yang bergenre Fantasi Science Fiction Distopia, menuliskan opening line pertamanya dengan kalimat yang mampu memprovokosi pembaca: Ibuku berpikir AKU SUDAH MATI. Lalu di kalimat kedua dan seterusnya, penulis memutuskan untuk memberikan deskripsi dan setting tempat di mana pembaca langsung tahu bahwa ini adalah suatu masa di masa depan dengan kata-kata seperti: JumboTrons, Jembatan Golden Gate yang runtuh, propaganda anti-Koloni, Iklan-iklan komersil Republik.

      Jadi dalam opening line Ken akan lebih baik jika: ada setting tempat, deskripsi waktu yang jelas, suasana atau situasi di dunia yang ingin Ken bangun di novel, kosa kata yang sesuai, nama karakter juga bisa disesuaikan dengan genre.
      Jika ini adalah fantasy Science Fiction Distopia, maka opening linenya mungkin bisa menjadi seperti contoh di bawah ini:

      “Kakek, ini apa?” Pertanyaan Liam tiga hari yang lalu itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Aku tahu persis suatu hari tabiatnya yang selalu curiga dan usil dengan urusan orang lain akan mengundang masalah. Ketika dia menyeringai dengan wajah polos 17 tahunnya, membawa dua tumpuk buku yang langsung aku kenali. Entah bagaimana cucuku itu menemukan lemari buku yang bersembunyi di balik dinding-dinding ruang bawah tanah yang apak, lembap dan penuh jamur. Aku nyaris roboh. Tak habis pikir mengapa buku-buku itu bahkan masih berbentuk. 28 tahun yang lalu, aku tak dapat memusnahkan buku-buku itu. Buku-buku, kau tidak boleh lagi memiliki buku apa pun. Di sini semua buku harus dibakar habis atau kau mati. Jantungku seolah direnggut saat Liam berkata lagi, “Kau penulisnya, Kek.” 28 tahun yang lalu semua penulis ditembak mati.

      Untuk genre fantasy saya menyukai novel-novel Cornelia Funke, mungkin itu bisa menambah referensi bacaan Ken. Semoga membantu dan tetap semangat menulis 🙂

      Like

  10. Assalamualaikum kak.. mau minta pendapat, ini tulisan untuk tugas, sedangkan saya masih pemula :

    Setiap orang pasti mempunyai mimpi dan harapan. Mimpi dan harapanmu itu akan terwujud atau hanya akan menjadi sebuah angan dalam fikiran, menjadi tulisan yang membisu di atas kertas, lalu hilang begitu saja, raib tanpa terwujudnya impian yang telah kamu idamkan. Itu semua tergantung diri kita sendiri, mau atau tidaknya kita memperjuangkan mimpi yang telah kita rajut.

    Liked by 1 person

    • Waalaikumsalam Kaysa, saya akan kembali ke genre tulisan Kaysa, karena kalimat pembukaan sangat tergantung dengan genre tulisan kita. Apakah Kaysa menulis non fiksi? Sepertinya dari nada tulisannya, ini adalah non fiksi, apakah dari sudut pandang orang pertama atau ketiga? Jika ini jenis tulisan motivasi atau inspirasi bisa juga dari sudut pandang orang petama supaya terasa lebih personal dan relate. Yang paling penting dari tulisan inspiratif atau jurnal, memoar (non fiksi) adalah pembaca bisa merasa terhubung dengan tulisan kita. Kaysa harus memasukkan cara pandang Kaysa terhadap dunia, terhadap bagaimana sekeliling Kaysa memandang mimpi itu sendiri, atau bagaimana Kaysa memandang mimpi, lalu memasukkan juga mengapa orang perlu bermimpi. Ketika tulisan kita terhubung dan menjawab kebutuhan maka para pembaca juga akan terbuka hatinya.

      Sebagai contoh kalimat pembukaannya:

      Mimpi. Apa yang ada dibenak kita jika mendengar kata mimpi? Sebuah kata yang overrated? Sebuah kata yang terlalu berat? Sebuah kata yang cuma buang-buang waktu? Para pendiri bangsa kita pernah bermimpi suatu hari nanti anak cucu mereka dapat mencicipi apa arti kemerdekaan. Mereka mengorbankan segalanya demi kemerdekaan yang kita rasakan sekarang. Dalam impian di situ tertanam masa depan. Tak peduli seberapa besar atau seberapa kecil, kita semua memiliki mimpi dan harapan yang ingin kita capai. Tapi tanpa keringat, kerja keras dan ketetapan hati, mimpi tidak akan pernah menjadi realitas. Itu hanya akan menjadi tulisan yang membisu di atas kertas. Lenyap ditelan waktu tanpa jejak apa-apa. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Untuk bangkit. Untuk hidup tidak hanya sekedar ada. Untuk berkarya menciptakan apa saja yang kita inginkan. Untuk menanam sesuatu untuk masa depan….dst

      Semoga membantu. Dan semangat menulis 🙂

      Like

  11. Artikelnya menginspirasi sekali kak, terima kasih…
    saya juga mau minta pendapat, saya sedang progres menulis novel pertama saya, genrenya sci-fi, judulnya “kota 12 negara”
    kalau saya buat kalimat paragraf pembukanya seperti ini kira” menarik minat pembaca nggk ya kak…. mohon pencerahannya

    ……Indonesia tahun 2056. Sebuah bangunan penjara raksasa di pinggiran kota Jakarta itu nampak sepi dan terbengkalai. Bangunannya terdiri dari tiga buah gedung pencakar langit dan berdiri diatas lahan seluas satu kilometer persegi serta dikelilingi tembok besar seperti benteng batu yang kokoh setinggi 20 meter. Seluruh area di dalam benteng penjara itu nampak gelap dan selalu terselimuti kabut asap hitam akibat adanya radiasi yang disebabkan suatu ledakan besar di dasar salah satu gedung disana delapan tahun silam. Tiga gedung yang berdiri di dalam benteng itu pun separuh bagian bawahnya tenggelam dalam kabut asap sehingga hanya nampak samar-samar bagian atasnya saja.

    Liked by 1 person

    • Hai Mustofa terima kasih atas pertanyaannya, Untuk Sci Fi sudah oke kalau kamu mau memulai dengan deskripsi tempat (habitat) tapi deskripsinya jangan selalu memakai prinsip tell semua. Prinsip tell dan show dapat kamu lihat di link berikut: https://ellenconny.com/2017/05/19/cara-menulis-show-vs-tell/ Opening line di atas emosinya masih kurang bisa diakibatkan karena terlalu banyak telling tapi juga karena kamu tidak memasukkan emosi atau mood di situ.

      Berikut adalah contoh opening line yang sarat emosi dan ada prinsip show di dalamnya:

      Novel Reckless –Cornelia Funke: Malam menyemburkan napasnya ke dalam apartemen bagaikan hewan berbulu hitam. Detik-detik suara jam. Derit lantai papan ketika ia menyelinap keluar dari kamar. Semua tenggelam oleh kesunyiannya. Tapi Jacob sangat menyukai malam. Ia merasakan malam menyelubungi kulitnya bagaikan janji. Bagaikan mantel yang ditenun dari kebebasan dan bahaya. –> opening line Reckless ini banyak terdapat metaforanya; merasakan malam menyelebungi kulit bagai janji –> janji dapat berarti harapan akan esok hari. Mantel yang ditenun dari kebebasan dan bahaya –> Jacob menyukai malam karena hanya pada malam hari dia dapat bebas bergerak. Saat malam tiba itulah saatnya dia menantang bahaya. Dalam satu paragraf ini penulis mendeskripsikan karakter Jacob tanpa terasa kering. Dan ada ‘janji’ tentang bahaya di dalam cerita.

      (cerpen sci fi) –> Miasma—Carrie Ryan : Ada suatu masa ketika manusia punya obat untuk hal-hal seperti penyakit yang menyebar di Portlay pada musim panas ini. Itu sebelum kota makin sakit dan runtuh, sebelum air naik dan rawa-rawa menelan apa yang tersisa dari peradaban. –> Penulis memberikan deskripsi masa sebelum penyakit dan sesudah penyakit dalam satu paragraf. Dengan kalimat yang ringkas ada begitu banyak informasi. Opening linenya fokus terhadap yang penting dalam cerita: yaitu wabah penyakit, bagaimana penyakit membawa kehancuran bagi bumi. Dan pembaca dibuat penasaran oleh penulis ketika dia menulis: apa yang tersisa dari peradaban. Seperti apa sisa peradaban itu? –> ini dapat menarik pembaca untuk terus membaca.

      …..Indonesia tahun 2056. Sebuah bangunan penjara raksasa di pinggiran kota Jakarta itu nampak sepi dan terbengkalai. Bangunannya terdiri dari tiga buah gedung pencakar langit dan berdiri diatas lahan seluas satu kilometer persegi serta dikelilingi tembok besar seperti benteng batu yang kokoh setinggi 20 meter. Seluruh area di dalam benteng penjara itu nampak gelap dan selalu terselimuti kabut asap hitam akibat adanya radiasi yang disebabkan suatu ledakan besar di dasar salah satu gedung disana delapan tahun silam. Tiga gedung yang berdiri di dalam benteng itu pun separuh bagian bawahnya tenggelam dalam kabut asap sehingga hanya nampak samar-samar bagian atasnya saja –> dalam empat kalimat hanya ada dua informasi: 1. Bangunan penjara dan deskripsinya. 2. Radiasi.

      Opening line kita harus dapat menjawab pertanyaan: mengapa pembaca harus peduli terhadap cerita kita?
      Jika cerita Mustofa adalah seputar bumi/ Jakarta setelah suatu peristiwa misalnya radiasi, maka penting di opening line menceritakan secara ringkas tentang radiasi tersebut misalnya mengapa radiasi tersebut terjadi, bagaimana itu sampai terjadi. Jangan sampai kalimat kita panjang tapi informasi yang diberikan sangat sedikit dan bukan yang utama atau penting dalam cerita.
      Jadi pertanyaannya adalah mengapa penjara itu penting? Apakah itu adalah tempat pertama kalinya radiasi itu merebak? Dan mengapa radiasi itu penting? Hal menarik apa yang dijanjikan kepada pembaca di dalam cerita nanti?
      Berikut adalah contoh perbaikannya:

      3 tahun yang lalu ketika radiasi ungu menyebar, mengkontaminasi seluruh kota Jakarta. Kota ini menjadi kota mati yang mengerikan. Kanker merebak di mana-mana. Anak-anak kehilangan orang tua. Dan orang tua menyaksikan radiasi ungu itu merobek paru-paru anak-anak mereka, dalam hitungan 24 jam, sejak kau terkena maka kau pasti mati. Tak peduli siapa dirimu. Kami menyebutnya radiasi ungu. Warna yang cantik tapi mematikan. Dan setelah tiga tahun berlalu, jeritan-jeritan kematian itu masih memantul di tembok-tembok penjara yang kokoh dan kusam itu. Pagar benteng yang menjulang itu tak mampu memerangkap teror kengerian itu. Dari situlah segalanya berawal.

      Ada banyak buku sci fi yang bagus yang bisa Mustofa baca, misalnya: trilogi Unwind, Matched, Legend dan masih banyak lagi. Tetap semangat menulis 🙂

      Like

  12. Aku lagi bikin judul cerita “Unfairy Tale of Mine” Aku ingin kalimat pembuka yang menarik. Temanya sih tentang peri yang eksistensinya hilang karena berkurangnya anak2 yang percaya dengan peri dan cerita sebelum tidur. Karena sudah sibuknya orang tua mereka dan tidak peduli lagi dengan cerita sblm tidur. Konfliknya adiknya pemeran utama di culik oleh peri ke dunia mereka dan ia berusaha mencari cara untuk masuk ke dunia peri. Baiknya aku mulai cerita ini bgmn ya ka. Apa ada novel yang bisa bantu ide cerita ini. makasih ka

    Liked by 1 person

    • Hai Arfc, terima kasih untuk pertanyaannya. Untuk cerita fantasi yang masuk ke dunia lain kamu bisa baca Inkheart dan dua lanjutannya, novelnya kaya dengan karater dan konflik batin. Untuk cerita peri yang bagus, menurut saya kamu bisa baca Artemis Fowl, buku yang oke untuk referensi.

      Sebelum menulis opening line akan lebih mudah jika kita mempunyai kerangka atau writing plan terlebih dahulu, akan baik sekali jika kita sudah mempunyainya bab per bab. Dari situ kita bisa memilih kira-kira yang mana yang paling bagus dan seru untuk diambil sebagai adegan dalam opening line. Adegan dalam opening line tentu boleh apa saja tergantung kreatifitas penulis, tapi ada dua hal yang menurut saya harus dimasukkan ke dalam adegan (kalimat) pertama kita:

      1. Opening kita harus mampu memberi pembaca ‘seseorang’ atau satu karakter untuk mereka fokuskan. Karakter ini harus muncul secepatnya dan dia harus merupakan bagian penting dalam cerita.

      2. Dalam opening line tidak serta merta harus muncul konflik, tetapi pembaca harus merasa dan mencium bahwa sebentar lagi konflik akan muncul, atau ada yang tidak beres di sini. Pembaca harus curiga sedini mungkin dalam beberapa paragraf pertama kita bahwa sesuatu tidak berjalan sebagaimana seharusnya di dunia cerita yang kita bangun.

      Semoga jawabannya dapat membantu arfc untuk menulis. Terus menulis 🙂

      Like

    • Hai juga Reza,

      Mungkin harus lebih detail, musim panas di mana. Karena musim panas di tiap negara bisa berbeda-beda dan budaya tiap negara saat musim panas juga bisa berbeda. Tapi secara general ada tips untuk memudahkan mencari ide untuk menuliskan deskripsi musim yang bisa digunakan dalam opening line atau dalam cerita, dengan menggunakan teknik 5 panca indera.
      1. Melihat (Mata), apa sih yang kita biasa lihat waktu summer time? Kalau di Amerika biasanya ada libur musim panas. Kamu bisa menulis tentang pantai yang berkilauan sinar matahari, orang-orang yang berjemur di pantai dan memenuhi kolam renang, memakai sendal jepit dan celana pendek, dsb.
      Contoh: Air, air, air, sejauh mata memandang yang kulihat air berkilauan cahaya mentari dan tentu saja di mana ada air di situ orang-orang berbondong-bondong mencari kesegaran sejenak, di jantung musim panas ini.

      2. Merasa (Lidah), jajanan apa yang biasa ada di musim panas, es krim atau es kelapa dan sebagainya.
      Contoh: Tak ada yang menandingi manisnya gelatin di musim panas. Bagaimana es krim itu meleleh di mulut, rasanya begitu menyenangkan.

      3. Penciuman (Hidung), aroma seperti apakah musim panas itu? Bau ikan bakar, makanan laut, api unggun di perkemahan, bau aspal di jalan raya.
      Contoh: Aroma parfum lemon yang menyegarkan membawaku kembali ke musim panas tahun lalu.

      4. Peraba (Kulit), Angin sepoi-sepoi yang terasa di kulit, panas yang menyengat di telapak kaki, es batu dingin yang membeku di minuman – semua ini menarik untuk menjadi deskripsi saat menulis tentang setting di musim panas.
      Contoh: Panas ini seolah mendorongnya, dia merasa sesak seperti kucing di dalam kardus. Meskipun tidak bergerak seperti boneka kain di kursi, keringat tetap membasahi dahinya yang membuat maskaranya berantakan.

      5. Mendengar (Telinga), Suara apa yang biasa kita kaitkan dengan musim panas? Deburan ombak yang menghantam bebatuan, atau dengung AC dan lain sebagainya.
      Contoh: Kicau burung memenuhi udara di pagi pertama musim panas. Terasa ajaib seperti bunyi flute jernih yang menyenangkan jiwa. Rasa-rasanya hati langsung terbuka, apalagi setelah kau melalui musim dingin yang panjang dan gelap seperti yang kualami.

      Atau kamu juga bisa menggabungkan semua lima panca indera tadi ke dalam paragraf pertama kalimat pembuka, tentu disesuaikan dengan genre novel, karakter atau setting detail cerita. Semoga Membantu ya dan Selamat menulis Reza 🙂

      Like

    • Jika saya mencoba memasukkan beberapa unsur dari 7 cara membuat opening lines (postingan) di atas ke dalam opening paragraf Reza, maka saya akan memasukkan 3 dari 7 cara di atas:

      1. Di mulai pada momen penting. Opening Reza dimulai dengan adegan saat kelas berakhir. Adegan yang sangat biasa jika mengisahkan tentang aktivitas mahasiswa. Adegan kelas tentu tidak masalah tapi pertanyaannya apa adegan di kelas saat itu penting? Sekedar menutup kelas sebagai bridging/ jembatan menuju kalimat selanjutnya sangat lemah untuk sebuah opening lines.

      2. Karakter Menarik. Reza memasukkan karakter Jingga dalam paragraf pertama sudah baik sekali, tapi mengapa tidak memasukkannya langsung di awal? Jingga adalah karakter yang seharusnya menarik, dan pembaca (dalam hal ini saya) langsung bisa menyimpulkan dia penting di dalam cerita ini. Jadi daripada menuliskan banyak intro tentang sekolahnya menurut saya lebih penting untuk memunculkan Jingga lebih dulu daripada deskripsi sekolahnya.

      3. Sentuhan Emosi. Aroma yang membuat Jingga enggan beralih. Sekaligus aroma yang memaksanya bersembunyi. Itu adalah kalimat yang menyentuh.
      Yang kedua: Bukan tanpa alasan. Gadis cantik dengan rambut hitam kecoklatan yang di curly bagian ujungnya itu memilih Jerman, satu-satunya negara yang tidak ingin dikunjunginya sebagai tempat untuk melarikan diri.
      Kedua kalimat tersebut seharusnya punya efek yang lebih baik jika diletakkan di tempat yang tepat.

      Bagaimana kalau mencari adegan yang terpenting dalam hidup Jingga yang mempunyai sisi emosional. Misalnya: Jingga adalah mahasiswa terakhir, artinya tahun depan dia akan pulang ke tanah air, Jingga mungkin takut pulang ke tanah air, karena meskipun tiga tahun yang lalu dia begitu membenci Jerman, tapi dia sekarang mulai mencintainya.
      Berikut contoh yang mungkin bisa jadi referensi:

      “Hal paling pahit dalam hidup adalah ketika kau mulai mencintai sesuatu tapi kau dipaksa untuk meninggalkannya. Karena uang. Karena pekerjaan. Patah hati. Atau karena alasan dan kalimat yang membosankan seperti: Hidup harus terus bergerak. Itulah yang dialami oleh Jingga.

      Tiga tahun lalu. Bulan-bulan pertama hidup di dataran Eropa dengan musim dingin yang keterlaluan. Jingga menyumpah-nyumpah akan langsung angkat kaki dari tempat ini. Belum lagi jumlah mahasiswa Indonesia yang hanya beberapa gelintir, membuatnya semakin merasa asing. Namun sekarang, di tengah-tengah kuliah Mr. Carl, dosen Philosophical Logicnya, yang sedang membahas topik the pursuit of happiness, hatinya mencelus. Di ujung sana dia melihat Anindia, teman pertamanya di kampus ini, mungkin Anin akan menikahi pacar Inggrisnya dan pindah ke Inggris. Lalu dia menatap Anders, mahasiswa konyol asal Norwegia yang apartemennya adalah semua definisi tentang “berantakan”. Jingga mencintai teman-temannya, kampus ini. Udara dinginnya masih menusuk tulang-tulangnya, tapi itu terobati ketika dia membayangkan betapa menyenangkannya bila musim panas tiba. Menonton film di bawah langit malam, memakan sebanyak-banyak es krim tanpa takut kalori, atau pergi piknik di taman dengan segerombolan teman-teman yang tinggal di lantai bawah flatnya. Aroma berlin di musim panas begitu segar seperti buah lemon, berpadu dengan peppermint dan jeruk, aroma yang menyegarkan, tapi ringan dan menyenangkan. Aroma yang membuat Jingga enggan beralih. Sekaligus aroma yang memaksanya bersembunyi. Itu membuatnya bahagia. Bukankah dia layak untuk bahagia?

      Yang terpenting juga dalam menulis ketika setting cerita kita berada di negera lain adalah riset tentang negara tersebut. Tentang budayanya, seberapa panas atau dingin musim di sana, tradisi orang-orang di sana, supaya pembaca dapat merasa berada di sana dan tulisan kita menjadi hidup. Semoga membantu ya Reza. Terus semangat menulis. Terus semangat membaca juga 🙂

      Like

  13. June 2016, Humboldt University of Berlin.

    “Don’t forget to submit your task tomorrow.” Tutup Mr. Carl yang membuat semua mahasiswa menghela nafas.
    Sebagian lega, sebagian mencela.
    Bersekolah di negara yang kualitas pendidikannya sangat diakui dunia, menjadi salah satu mahasiswa universitas dengan peringkat yang tidak bisa dianggap remeh merupakan satu-satunya pilihan ‘Menyerahkan hidup untuk berpikir’.
    Menjadi generasi penerus dari para tokoh terkenal lulusan terbaik Humboldt, berusaha mengikuti jejak mereka. Michelle Bachelet contohnya, pakar pediatrik dan epidemiologi. Adalah salah satu idola yang memacu semangat belajar terutama para mahasiswa internasional.
    Sekitar 5000 mahasiswa internasional yang bersekolah disini, hampir15 persennya berasal dari Indonesia. Termasuk Jingga. Jingga Adinata, gadis kelahiran Lampung yang membuka matanya pertama kali untuk melihat dunia saat duapuluh satu tahun yang lalu. Saat ini menjadi mahasiswi fakultas filsafat yang sedang menyelsaikan tugas akhirnya.
    Bukan tanpa alasan. Gadis cantik dengan rambut hitam kecoklatan yang di curly bagian ujungnya itu memilih Jerman, satu-satunya negara yang tidak ingin dikunjunginya sebagai tempat untuk melarikan diri.
    Aroma bunga lili, jeruk dan jahe. Disusul dengan aroma juniper, pir kemangi serta semangka. Setelah agak lama, aroma itu menjadi cardamon, lavender dan thyme yang ditutup dengan aroma amber, cendana dan musk. Membawa indera penciuman gadis itu kembali ke musim panas tiga tahun lalu.
    Ya. Aroma salah satu parfum termahal dunia Calvin Klein Eternity Summer.Aroma yang akan terus melekat sejak pertama kali terhirup oleh indera penciuman. Aroma yang membuat Jingga enggan beralih. Sekaligus aroma yang memaksanya bersembunyi.

    Liked by 1 person

  14. Terima kasih atas saran yang sangat berguna ini!
    Aku sudah lumayan lama gak menulis jadi agak sedikit kaku. Kalau boleh, aku ingin minta saran (lagi) dan pendapat untuk opening line cerita baruku;

    — Mendapatkan pekerjaan memang bukan hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah. Tapi beruntunglah Edward bisa mendapatkan satu profesi demi melanjutkan hidup. Di tengah ramainya lalu lalang, pria bersetelan licin itu tak henti mengintip arloji murah yang melilit pergelangan kiri. “Permisi” atau “Maaf”, kedua kata itu tak henti dia ucapkan demi membunuh waktu. Gedung pencakar langit incarannya berjarak beberapa ratus meter di depan, berdiri tegak sombong dengan huruf timbul R yang menambah rasa iri. Semakin Edward berusaha menggapai gedung itu, semakin terasa jauh jaraknya. R Group milik Ernest R. Rudenburg sudah bertahun-tahun berdiri namun bangunan itu seolah tak pernah tergores apapun. Dari luar hanya terlihat pantulan kaca namun lobinya masih bisa terlihat beberapa karyawan yang berlomba masuk lift atau resepsionist yang sudah menerima panggilan pagi. Tidak hanya satu atau dua orang yang menjadikan R Group sebagai tujuan hidup mereka, tak mudah juga untuk menjadi pekerja di perusahaan itu. Tidak salah jika banyak mata yang menatap iri mereka yang menginjakkan kaki ke dalam bangunan raksasa itu.

    Liked by 1 person

    • Hai Vassa, terima kasih sudah visit. Pertama saya harus bilang bahwa Vassa sudah punya gaya bahasa dan kosa kata yang cukup kaya, jadi keep the good work.
      Ada beberapa masukan yang dapat dijadikan panduan bukan hanya untuk memperbaiki cerita ini tapi dasar bagi penulisan fiksi.

      Poin 1:
      Mendapatkan pekerjaan memang bukan hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah. Tapi beruntunglah Edward bisa mendapatkan satu profesi demi melanjutkan hidup –> Kalimat ini, dapat membuat pembaca tidak simpatik mengapa? Bagi sebagian orang mencari pekerjaan sangat sulit. Ada sekitar 7 juta orang pengangguran di Indonesia, menurut survey terakhir BPS tahun 2018, dan sebagian lagi ‘terpaksa’ bekerja bangun jam 4 pagi setiap hari, menghadapi pekerjaan yang dibencinya setiap hari karena mereka tidak mungkin keluar dari pekerjaan tersebut, tentu karena kebutuhan hidup. Jadi secara realita mungkin ada orang-orang yang mendapatkan pekerjaan gampang-gampang susah, tapi tidak sedikit orang yang mendapatkan pekerjaan dengan sangat sulit.
      Sementara dalam fiksi, satu hal penting yang perlu dibangun adalah pembaca harus bersimpati pada karakter yang kita ciptakan. Karakter yang bisa mendapatkan simpati pembaca adalah:
      1. Underdog. Karakter yang bukan siapa-siapa, tidak pernah diperhitungkan, dipermalukan dan sebagainya.
      atau
      2. Karakter dengan Flaws. Mereka mungkin punya segalanya tapi ada kelemahan dan kekurangan yang mereka sembunyikan.
      Dua poin ini membentuk karakter yang relate (terhubung) dengan pembaca sekalipun kita menulis cerita fantasi, dengan dunia baru dan jauh dari dunia nyata tapi karakter-karakter kita harus terhubung dengan dunia nyata. Karena itulah Harry Potter disukai, dia outcast, berdarah campur. Karena itulah Batman disukai, meskipun dia kaya raya, tampan, tapi dia mempunyai luka dan ketakutan. Kalimat pertama akan membuat Edward tidak lovable, sementara kita harus membuat karakter kita lovable dan relate dengan pembaca.

      Poin 2:
      Opening line kurang jelas.
      Dijelaskan pada kalimat ini bahwa Edward mendapatkan pekerjaan: Mendapatkan pekerjaan memang bukan hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah. Tapi beruntunglah Edward bisa mendapatkan satu profesi demi melanjutkan hidup.
      Tapi pekerjaan apa? Di mana? Karena tidak ada penjelasan Edward mendapatkan pekerjaan di Rudenburg. Hanya ada kalimat: Di tengah ramainya lalu lalang, pria bersetelan licin itu tak henti mengintip arloji murah yang melilit pergelangan kiri. “Permisi” atau “Maaf”, kedua kata itu tak henti dia ucapkan demi membunuh waktu.

      Untuk apa Edward melirik arloji dan membunuh waktu? Apa dia sedang menunggu jadwal interview? Tapi ditulis di kalimat awal, dia beruntung mendapatkan satu profesi. Profesi apa? Ketidakjelasan tersebut menyebabkan ketidakjelasan juga pada Edward, yang sedang berada dia di situ, apa motivasinya, tidak ada unsur apa pun yang membuat pembaca penasaran dan terhubung padanya.

      Ada satu contoh kalimat pembuka dari The Circle yang mungkin bisa memberikan gambaran:

      Ya TUHAN, pikir Mae. Ini surga.
      Kampus itu luas dan lapang, dengan warna-warna lembut yang bersemburat liar, tetapi setiap detailnya dipertimbangkan dengan hati-hati dan dibentuk oleh tangan-tangan paling terampil. Di atas lahan yang dahulunya merupakan galangan kapal, lalu beralih fungsi menjadi bioskop di alam terbuka, kemudian menjadi pasar loak, setelah itu lahan terbengkalai, sekarang terhampar bukit-bukit hijau landau berhiaskan air mancur Calatrava. Ada juga tempat pikinik dengan meja-meja yang ditata dalam lingkaran konsentris. Ada lapangan tenis, baik tanah liat maupun rumput. Lalu, ada lapangan voli, tempat bocah-bocah dari penitipan anak di perusahaan itu berlarian, menjerit-jerit, dan berkelebat seperti air. Di tengah-tengah semuanya ini ada pula kantor, bangunan seluas 1,6 kilometer persegi dari baja mengilat dan kaca yang merupakan kantor pusat perusahaan paling berpengaruh di seluruh dunia. Langit di atasnya biru tak berawan.

      Dengan hanya satu kalimat padat, Ya TUHAN, pikir Mae. Ini surga. Kita langsung dapat menyimpulkan bahwa karakter utama—Mae terpesona, tercengang dengan kantor barunya. Dan itu cukup untuk membawa para pembaca ingin tahu apa yang dia temukan di perusahaan paling berpengaruh di seluruh dunia tersebut?

      Untuk saran opening line yang mungkin cocok untuk cerita Vassa, dengan asumsi Edward mendapatkan pekerjaan di Rudenburg adalah:

      Satu pesan ayahku saat mendapatkan pekerjaan ini adalah “Don’t embarrassed me!” Kalimat itu terngiang-ngiang lebih kencang saat aku tiba di depan gedung raksasa Rudenburg. Huruf R nya yang besar seolah ingin menelanku. Aku adalah orang biasa-biasa saja. Segalanya tentangku adalah rata-rata. Aku bersekolah di sekolah rata-rata dengan nilai rata-rata. Kuliah di kampus rata-rata, tidak pernah memenangkan penghargaan apa pun, tidak pernah membuat inovasi apa pun. Kakak-kakakku terbang jauh di atasku. Dokter bedah terkemuka dengan rentetan penghargaan. Yang seorang lagi adalah penulis biografi terkenal, dia menulis untuk presiden dan artis-arti kenamaan mengantri untuk bisa menyewa jasanya. Semua orang berpikir aku beruntung. Kenapa tidak? Rudenburg, kau bercanda kan? Salah satu perusahaan terbaik di dunia. Perusahaan digital yang mendunia. Tempat inovasi dan masa depan diracik. Seharusnya aku senang. Bangga. Tapi tidak. Hatiku terasa berat. Seumur hidupku aku tidak pernah membuktikan apa-apa. Dan berada di sini, karena hadiah, kemurahan hati dari kenalan ayah. Jadi saat ayah berkata: “Don’t embarrassed me!” aku takut. Untuk pertama kalinya aku takut jadi pecundang.

      Dengan kalimat pembuka seperti ini, pembaca langsung mengenal Edward. Seorang yang mendapatkan pekerjaan karena hadiah. Dengan pesan yang berat dari ayahnya. Dari sini, cerita bisa ditwisted, yang tadinya Edward hanya mengikuti kata-kata ayahnya, mungkin saat bekerja dia jadi menemukan impiannya. Atau bisa saja perusahaan yang terlihat sempurna itu menyimpan kebobrokan, sehingga Edward akhirnya membongkar keburukan perusahaan tersebut.

      Semoga membantu dan tetap menulis 🙂

      Like

      • Terima kasih, kak, atas sarannya! aku pasti akan menulis lebih giat lagi! entah kata apa lagi yang bisa aku bilang ke kakak selain terima kasih, kayaknya gak ada 🙂 sepertinya isi kepalaku sudah mulai mengolah kalimat-kalimat yang kakak sarankan dan semuanya terasa ‘wow’. Aku akan coba perbaiki dan jika diperkenankan, aku akan memperlihatkan hasilnya pada kakak. Sekali lagi terima kasih, kak!! 🙂

        Liked by 1 person

  15. Kak,,, aq mw nanya dong gmna buat kalimat pembuka tntang novel yg genrenya anak skolahan gtu,,, tntang asmara jg sih,,,
    Bantu ya kak,,,
    Aq lg blajar jd penulis
    Trima kasih kak

    Liked by 1 person

    • Hai Wahyuni, terima kasih untuk pertanyaannya.
      Pada dasarnya artikel di atas sudah bisa mencakup opening line untuk genre tulisan apa pun, termasuk cerita cinta. Kamu tinggal memilih salah satu poin atau beberapa poin di atas untuk dijadikan unsur kalimat pembuka kamu. Tidak ada aturan baku bagaimana tepatnya memulai buku kita, tapi saya selalu memutuskan konflik, tekanan, perubahan keadaan atau ancaman untuk memulai buku saya.

      Untuk lebih jelas dan memudahkan, kamu bisa memilih dua poin berikut setiap kali menulis opening line:

      1. Memulai dengan salah satu dari dua karakter utama kita. Mengapa karakter utama? Karena pembaca harus peduli dan bersimpati dengan karakter utama kita secepat mungkin. Memperkenalkannya lebih cepat, apalagi membuat mereka di bawah tekanan lebih awal, dapat langsung membangun simpati untuk pembaca.
      Contoh:
      Aku cuma ingin Juli Baker pergi. Aku ingin dia nggak ikut campur urusanku dan memberiku sedikit ruang.
      Semua berawal sejak kami pindah rumah saat liburan musim panas sebelum aku masuk kelas dua SD. Sekarang kami sudah hampir lulus kelas delapan, bisa bayangkan? Itu berarti lebih dari separuh dekade aku menjalani strategi menghindar dan mengalami ketidaknyamanan sosial. –Flipped, Wendelin Van Draanen.

      2. Memulai dengan pernyataan yang menarik. Saya sering melihat kalimat pembuka seperti ini dalam novel-novel romance. Dan boleh dibilang tak ada yang lebih saya sukai dibandingkan betapa unik dan menariknya cara pandang seorang karakter yang dibangun penulis apalagi dalam pernyataan-pernyataan pada opening line.

      Contoh:
      22 November
      Halo, Dunia!
      Aku memutuskan untuk mulai menulis blog.
      Blog ini.
      Mungkin kalian tanya, kenapa?
      Kalian tahu saat kalian mengocok kaleng Coca Cola lalu membukanya dan isinya menyembur ke mana-mana? Nah, begitulah perasaanku sekarang. Aku punya banyak sekali hal yang bergejolak di dalam pikiranku yang ingin aku katakan, tapi aku tidak punya rasa percaya diri untuk mengungkapkannya. –Girl Online, Zoe Sugg

      Semoga jawabannya membantu Wahyuni, terus menulis 🙂

      Like

  16. H
    idup adalah sekarang dan masa depan. Masalalu ??. ….. ah itu hanya serbuk-serbuk luka termanis penyedap rasa di masa mendatang. Seperti sobekan kisah cinta yang berserakan , juga puzzle-puzzle yang tak tersusun rapi membuat hidup akhirnya tak terbentuk.
    Cinta bagaikan debu, yangdi terbangkan dan tersesat di hati yang gersang.
    Begitu pula dengan kisah cintaku dahulu dengan seorang pelaut bahkan pernah melayarkan hati ku di manapun dia melangkahkan kaki. Ah…sudah lah , tak ingin ku ingat kembali semua kenangan itu, dan tidak ingin mengenal seorang pelaut lagi. Karena itu akan membuat ku jatuh kembali di lubang hati yang terdalam.
    Tetapi takdir berkata lain…

    kak kalau pembuka novel seperti itu sudah belum kak??
    mohon jawabannya kak karna aku sedang ada tugas 🙂

    Liked by 1 person

    • Hai Windi, gaya bahasanya bagus. Sudah oke, tapi kembali lagi, opening line kalau bisa membuat penasaran. Dan kalimat kamu yang ini: Ah…sudah lah , tak ingin ku ingat kembali semua kenangan itu, dan tidak ingin mengenal seorang pelaut lagi. Karena itu akan membuat ku jatuh kembali di lubang hati yang terdalam.
      Kalimat tersebut menurut saya membuat kalimat “Tetapi takdir berkata lain…” menjadi agak turun rasa penasarannya.

      Bagaimana kalau saran perbaikannya seperti ini:

      
Hidup adalah sekarang dan masa depan. Masa lalu ??. ….. ah itu hanya serbuk-serbuk luka termanis untuk sebuah rasa di ujung sana. Seperti sobekan kisah cinta yang berserakan, juga puzzle-puzzle berantakan yang hanya membuat hidup akhirnya tak berbentuk.
Cinta bagaikan debu, terbang dan tersesat di hati yang gersang.


      Begitu juga kisah cintaku dulu dengan seorang pelaut. Cinta mereka datang dan pergi seperti gelombang pasang lautan. Betapa pun aku menginginkan jangkarnya berlabuh. Layar itu akan kembali berkibar. Tapi kau tidak bisa membenci lautan tak peduli betapa patahnya hatimu melihatnya pergi. Aku berjanji. Dan selalu berjanji tidak akan jatuh kembali dengan wajah-wajah yang sama. Tapi laut menyegarkan dan indah. Luas, misterius, meski kadang menakutkan. Dan entah mengapa, kekuatannya selalu menarikku kembali. Tapi akankah esok hari aku yang menang?

      Windi bisa mengeditnya lagi, semoga membantu ya 🙂

      Like

  17. aku mau tanya dong. aku kan baru mau membuat sebuah cerita dan kebingungan untuk bikin opening line buat ceritanya. nah setelah aku baca disini aku baru bisa berfikir.
    kira-kira kalo opening line nya kayak gini bisa gak?
    .
    .
    Ada satu hal yang selalu teringat didalam benaknya, entah itu ketika ia sedang menghibur diri ataupun sedang bermimpi. Ia selalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri “apa itu cinta?”, ”haruskah aku jatuh cinta?”, bagaimana caranya aku bisa jatuh cinta?” dan “darimana aku harus memulai?”

    terima kasih 🙂

    Liked by 1 person

    • Hai Hilmi, untuk opening line yang terbaik bagi saya adalah ketika karakter sedang melakukan sesuatu atau dimulai dalam momen yang penting. Tapi memulai dengan apa yang dipikirkan oleh karakter utama seperti yang Hilmi tulis di atas juga baik. Namun itu masih sangat general. Apa itu cinta?, haruskah aku jatuh cinta? Kalimat ini terlalu umum dan luas. Sementara opening line harus mengantarkan langsung menuju konflik dan inti cerita.

      Saya ambil contoh novel romance yang sangat saya sukai berjudul The Rosie Project—Graeme Simsion :

      Aku mungkin sudah menemukan solusi untuk Urusan Istri ini. Sama seperti banyak terobosan ilmiah lainnya, setelah ditengok ke belakang jawabannya ternyata sangat jelas. Tapi kalau bukan serangkaian peristiwa yang tidak terencana, bisa jadi aku tidak menemukannya.
      Rangkaian itu diawali dengan desakan Gene agar aku memberi kulaih tentang sindrom Asperger yang sebelumnya ia janjikan akan ia bawakan sendiri. Pemilihan waktunya benar-benar mengganggu. Aku bisa saja mempersiapkan materinya saat jam makan siang, tetapi malamnya aku sudah menjadwalkan 94 menit untuk membersihkan kamar mandi. Aku dihadapkan pada tiga pilihan, tak satu pun memuaskan.

      1. Membersihkan kamar mandi setelah menyampaikan kuliah, yang akan mengakibatkan aku kurang tidur dan konsekuensinya kinerjaku secara mental maupun fisik akan berkurang.
      2. Menjadwal ulang acara bersih-bersih ke Selasa depan, yang akan berakibat selama delapan hari ke depan aku harus berkompromi dengan kondisi kamar mandi yang kurang higienis dan konsekuensinya adalah risiko penyakit.
      3. Menolak untuk menyampaikan kuliah tersebut, yang akan berakibat rusaknya persahabatanku dengan Gene.

      Dari opening line di atas, penulis langsung menyatakan ini soal mencari istri. Sang karakter utama Don Tillman mempunyai karakter unik dan bisa dibilang ‘aneh’ dibandingkan orang-orang pada umumnya. Yang di kalimat-kalimat selanjutnya, kita tahu ternyata Don punya karakter seperti itu karena dia tidak tahu bagaimana mempunyai hubungan atau berinteraksi secara normal dengan orang-orang di sekitarnya. Dia adalah seorang professor genetika yang selalu mengambil kesimpulan atau keputusan apa pun seperti ilmu eksakta. Jadi novel ini bercerita bagaimana reaksi Don saat jatuh cinta, sebuah perasaan asing yang tidak pernah dikenalnya.

      Saya menemukan ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu untuk opening cerita Hilmi, seperti: Mengapa karakter cerita di atas sampai bertanya-tanya tentang cinta? Berapa usianya sampai dia berpikir seperti itu? Secara normal, sejak sekolah dasar kita sudah mengetahui konsep perasaan suka dengan orang lain. Jadi mengapa dia asing terhadap cinta? Apa masalahnya sehingga dia bertanya haruskah dia jatuh cinta? Mengapa dia berpikir tentang cinta saat dia menghibur diri atau sedang bermimpi? Apa pekerjaannya atau apa yang dia alami sampai dia perlu momen-momen menghibur diri atau bermimpi?

      Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, opening line cerita akan menjadi lebih mengerucut dan spesifik juga karakterisasi karakter akan lebih detail. Semoga dapat membantu Hilmi 🙂

      Like

      • oke kak terima kasih atas sarannya. sangat membantu. sepertinya saya harus banyak membaca novel romance deh sebelum mulai membuat. ada rekomendasi kah novel genre romance selain diatas?

        Liked by 1 person

      • Untuk romance dengan audience young adult atau teen Hilmi bisa baca The Fault in Our Starsnya John Green, Flipped–Wendelin Van Draanen. Untuk tema internet dan blogging bisa baca Girl Online–Zoe Sugg. Tapi untuk romance adult, mungkin bisa membaca karya-karya Nicholas Sparks, Colleen hoover atau kalau mau mulai dari yang klasik bisa membaca buku-buku karya Jane Austen. Happy Reading and Happy Writing ya!!!

        Like

  18. Kak aku ingin membuat novel tentang kehidupaku mulai dari masa masa SMP sampai SMA yang ditemani sahabat sahabatku dan beberapa kisah asmara dari kami.
    Tapi masih kurang srek dengan opening linenya. Yang aku buat seperti ini

    Mungkin jika diijinkan mengulang waktu aku ingin mengulang masa-masa putih biruku. Dimana terdapat banyak kenangan manis dan pahit yang kualami, yang telah mewarnai kehidupanku. Semua kenangan itu diisi oleh oleh sahabat-sahabatku dengan kisah mereka masing-masing. Dan aku merasa mereka itu adalah saudari-saudariku namun terlahir di keluarga yang berbeda-beda. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk berjumpa dengan mereka. Terimakasih Sahabat.

    Mohon bantuannya ya kak…
    Terimakasih banyak kakak 😊

    Liked by 1 person

    • Hai Titik, maaf sekali, saya waktu itu sudah sempat balas, mungkin karena kesalahan teknis ternyata balasannya tidak terpublished. Baru ketika saya cek lagi ternyata tidak ada balasan untuk pertanyaan Titik.

      Berikut adalah saran perbaikannya:

      Bagiku tidak ada yang lebih kejam dari waktu. Waktu tidak akan pernah menunggumu. Momen demi momen akan melewatimu tanpa ampun. Mereka akan menjadi kepingan-kepingan kenangan yang mewarnai hidupmu. Jika aku ingin mengulang kembali masa-masa di sekolah, aku mencintai masa-masa berada di SMP. Memakai seragam putih biru yang tidak sepenuhnya aku sukai. Maklum biru tua bukan warna favoritku. Tapi tidak ada yang menyentuh jiwaku seperti masa-masa itu. Ketika aku mengenal sahabat-sahabat pertamaku. Mereka adalah semua definisi tentang keluarga. Petualangan bersama mereka. Keseruan, tawa, kehilangan, manis dan pahit.
      Kenangan itu dapat menghangatkan jiwamu tapi pada saat yang sama mereka juga bisa menghancurkannya.

      Sarannya: gunakan kata-kata yang lebih kuat. Seperti: kejam, jiwa, dll agar lebih menarik sisi emosi pembaca, Berikan deskripsi yang lebih detail, misalnya: petualangan, keseruan, tawa. Jadi jangan hanya kenangan saja, karena itu masih terlalu luas.

      Semoga bisa membantu. Keep writing ^^

      Like

  19. Kalau gini bisa ga ka ):
    Hallo guys kenalin nama saya desy ini adalah ceritaku semasa SMA dlu,gadis kecil yang selalu ceria yang memiliki kisah cinta yg membuat nya cukup menderita.
    Bukan lah mawar yang ia dapat namun melainkan duri yang selalu ia genggam.

    Liked by 1 person

    • Hai Cindy,
      Boleh aja 🙂 tapi sebisa mungkin tambahkan sesuatu yang tidak terlalu general, jadi lebih unik dan menarik. Ini saran perbaikannya ya:
      Ini adalah kisah semasa SMA ku dulu. Aku remaja yang ceria dengan kisah cinta yang membuatku merana. Cinta cantiknya seperti bunga mawar. Tapi kecantikan itu tak pernah digenggam dengan mudah. Dan bukannya kecantikannya yang kudapat tapi duri-durinya yang tajam itu langsung menyakitiku. …. dst
      Selamat menulis ya, semoga membantu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s