4 Novel Jane Austen Terbaik

Tak perlu dipungkiri lagi kalau Jane Austen adalah salah satu penulis klasik terbesar sepanjang masa. Seperti Charles Dickens, Jane melukis karakter-karakternya dengan sangat jelas dengan kekurangan dan kebiasaan mereka yang menyebalkan. Meskipun karakternya jelas didasarkan pada orang-orang abad ke-18, tetapi mereka masih tetap terhubung dengan pembaca modern sekarang ini. Dan jika kamu ingin membaca buku-buku Jane Austen berikut adalah daftar di mana kamu bisa memulai:

1. Persuasion

Sejak Netflix menayangkan adaptasi terbaru dari Persuasion yang diperankan oleh Dakota Johnson, saya jadi ingat kembali betapa indahnya buku ini. Persuasion memang tidak seterkenal Pride and Prejudice, Emma dan Sense and Sensibility, tapi Anne Elliot, protagonisnya adalah favorit saya di antara buku-buku Jane Austen. Novel ini menceritakan tentang Anne Elliot, putri kedua seorang duda yang angkuh dan boros bernama Sir Walter Elliot—sehingga mereka sekeluarga terpaksa menyewakan rumah dan perkebunan keluarga Kellynch Hall kepada keluarga Croft.

Anne memiliki hubungan romantis dengan Kapten Frederick Wentworth ketika dia berusia sembilan belas tahun, tapi dia didorong untuk memutuskan pertunangan karena status sosial dan finansial Kapten Frederick yang tidak mumpuni bagi keluarga Anne. Sekarang, delapan tahun kemudian, Anne masih belum menikah dan rumahnya, Kellynch, diserahkan kepada Laksamana dan Nyonya Croft. Saudara laki-laki Nyonya Croft adalah Kapten Wentworth, mereka bertemu kembali setelah delapan tahun.

Meskipun ini adalah novel romantis, tapi Jane mampu menciptakan cerita yang menawan bukan hanya karena sarkasmenya, tetapi juga karena penggambaran reflektif tentang dua orang yang menemukan jalan kembali ke kehidupan masing-masing di saat yang tepat.

2. Pride and Prejudice

Kisah Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy adalah salah satu karya klasik yang sepertinya tidak bisa dihentikan lajunya oleh siapa pun. Bukunya dipelajari di sekolah-sekolah dan universitas, dan banyak sekali diadaptasi ke film, drama seri dan teater, semua itu berkat novel Jane Austen—Pride and Prejudice.

Novel ini adalah kisah cinta dan pernikahan di Inggris pada awal abad ke-19 yang menunjukkan pembagian kelas dalam masyarakat. Para elit selalu memiliki pandangan dan prasangka buruk terhadap orang-orang yang tidak berada di kelas yang sama tetapi mereka hidup di lingkungan yang sama. Satu golongan penuh kebanggaan, golongan lainnya, penuh prasangka. Konflik dan kesalahpahaman sering tak terhindarkan.

Walaupun gaya penulisan klasik bisa sangat menantang, tapi novel ini ditulis dengan menarik dan cerdik sehingga plot yang berliku-liku dengan karakter yang cukup kompleks tapi mereka berkembang dan bertumbuh dalam pemahaman akan diri mereka sendiri. Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy mungkin salah satu kisah cinta yang paling terkenal di dunia selain Romeo dan Juliet.

3. Emma

Kisah ini diceritakan dari sudut pandang Emma Woodhouse— seorang wanita kelas atas yang keras kepala yang tinggal bersama ayahnya. Emma sangat puas dengan hidupnya dan tidak melihat perlunya cinta atau pernikahan. Namun, tidak ada yang lebih menyenangkan baginya selain mencampuri kehidupan percintaan orang lain.

Emma menghabiskan waktunya untuk menjodohkan teman-temannya, meski sering keliru dan diperingati oleh Mr. Knightley temannya, dia merasa ini semacam panggilan hidupnya. Saya menyukai Emma karena komentar-komentar jenakanya dan humornya yang satir, membuat buku ini begitu menghibur. Terlepas dari sedikit kesulitan bahasa, saya merekomendasikan Emma kepada siapa pun yang mencari roman yang ringan dan lucu.

4. Northanger Abbey

Northanger Abbey adalah novel yang berfokus pada pada Catherine Morland, seorang gadis naif, tapi manis yang menghabiskan sebagian besar waktunya membaca novel-novel Gotik melodramatis yang mendebarkan. Ketika Catherine diundang untuk mengunjungi Bath bersama teman-teman keluarga, Catherine bertemu dan akhirnya berteman dengan Isabella Thorpe, seorang gadis social climber yang menawan.

Catherine memiliki ketertarikan kepada Henry Tilney, yang juga menyukai buku. Ketika keluarga Tilney mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu di Northanger Abbey, rumah leluhur mereka, imajinasi Catherine menguasai dirinya, dia harus belajar bahwa fiksi itu tidak selalu berlaku di kehidupan nyata. Northanger Abbey menunjukkan bahwa orang tidak seperti kelihatannya. Jika kamu belum membaca buku-buku Jane Austen, Northanger Abbey bisa jadi novel yang bagus untuk memulai.

8 Fakta Menarik tentang Jane Austen

Jane Austen adalah salah satu tokoh sastra paling terkenal sepanjang masa, novelnya Pride and Prejudice sudah diadaptasi ke film lebih dari 17 kali sejak tahun 1938! Mengapa karya-karya Jane Austen tak lekang zaman? Karena di sana ada cinta, ironi, dan kritik sosial. Tetapi bahkan jika Anda telah membaca novel-novelnya,  mungkin ada banyak yang tidak Anda ketahui tentang penulis legendaris ini. Oleh karena itu jangan lewatkan postingan berikut ini ya:

1. Jane Austen lahir pada 1775

Jane Austen adalah anak ketujuh dari George Austen dan Cassandra Leigh Austen, Jane Austen lahir di Steventon, sebuah desa di Inggris selatan pada 16 Desember 1775. Seorang gadis pemalu, keluarganya adalah pusat dari dunianya. Dia lebih memilih ditemani Cassandra—kakak perempuannya.

2. Status sosial Ibu Jane Austen lebih tinggi dari sang Ayah

Meskipun status sosial Ibu Jane lebih tinggi dari sang Ayah, tampaknya ibu Jane tidak pernah menyesali keputusannya. Jane sering menyinggung topik kelas sosial dalam novelnya, mungkin karena detail ini ada dalam sejarah keluarganya.

3. Jane Austen tidak pernah menikah

Jane Auten pernah menerima sebuah lamaran dari seorang teman keluarga yang makmur bernama Harris Bigg-Wither. Mr. Wither enam tahun lebih muda darinya, tapi setelah memikirkannya semalaman, Jane membatalkan pertunangannya keesokan harinya. Keputusannya ini mengakibatkan ketegangan antar keluarga. Tidak tahu pasti alasan yang membuatnya berubah pikiran, tapi banyak spekulasi mengatakan bahwa Jane tidak ingin menikahi orang hanya karena kenyamanan akan uang. Dia tidak mencintai Mr. Wither dan tidak memiliki ketertarikan sama sekali padanya.

4. Jane Austen sempat vakum menulis

Hanya sedikit yang dunia ketahui tentang kehidupan Jane Austen karena kakaknya Cassandra memutuskan untuk menghancurkan banyak surat dan korespondensinya bersama sang adik. Namun, jelas bahwa tahun 1801 Jane telah menyelesaikan tiga novelnya. Kemudian, ada periode di mana Jane tidak menulis atau merevisi tulisan sama sekali. Mengapa? Alasan yang bisa diterima adalah pada 1801 keluarga Jane pindah ke Bath. Kemudian ayahnya meninggal pada 1805, ini menandai perubahan besar secara emosional bagi Jane yang ternyata memengaruhi rutinitas menulisnya.

5. Spekulasi kematian Jane Austen

Sejak awal tahun 1816, Jane mulai menderita penyakit yang mengganggu pekerjaannya, meskipun dia masih terus menulis. Para sejarawan telah lama mengaitkan kematiannya dengan penyakit Addison—gangguan endokrin—atau limfoma Hodgkin, kanker sistem kekebalan.

Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa Jane diracuni oleh arsenik yang ada dalam air minumnya sebagai akibat dari pengobatan yang salah kelola atau pasokan air yang tercemar. Bukti yang mendukung teori ini adalah Jane dikatakan menderita katarak dan perubahan warna kulit, keduanya merupakan tanda paparan arsenik. Teori ini dikritik karena kurangnya bukti substansial dan ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa suatu penyakitlah menyebabkan kematiannya. Saat kondisi Jane Austen memburuk, dia dibawa ke Winchester untuk perawatan medis. Dia meninggal di sana pada 18 Juli 1817 pada usia 41 tahun.

6. Karya-karya Jane Austen yang terbit setelah kematiannya

Pada tahun 1817, keluarga Jane berusaha agar Northanger Abbey Biara dan Persuasion dijual dalam satu set. Saudara laki-laki Jane—Henry, menulis sebuah “catatan biografis” yang mengidentifikasi Jane Austen sebagai penulisnya karena buku-bukunya sebelumnya ditulis anonim. Buku-bukunya laris manis di pasaran.

Pada 1832, penerbit Richard Bentley membeli hak cipta untuk novel Austen dan menerbitkan edisi omnibus karyanya pada Oktober 1833. Buku Austen terus dicetak sejak publikasi Bentley.

Jane Austen adalah seorang penulis surat produktif yang menulis sebanyak 3.000 surat. Namun, hanya 161 di antaranya yang bertahan setelah saudara perempuannya Cassandra menghancurkan dan/atau menyensor sebagian besar surat Jane pada 1840-an, berharap untuk menghindari detail sensasional dari menodai reputasi adiknya.

7. Jane Austen Menerbitkan Karyanya Secara Anonim

Empat novel Jane Austen diterbitkan selama masa hidupnya yaitu Sense and Sensibility (1811), Pride and Prejudice (1813), Mansfield Park (1814), dan Emma (1816) tidak diterbitkan dengan nama aslinya. Pada Sense and Sensibility nama penulisnya ditulis: “A Lady”, sementara tiga novel berikutnya adalah: “Oleh Penulis Sense and Sensibility.” Hanya setelah penerbitan Persuasion dan Northanger Abbey (keduanya pada 1818) Jane Austen secara anumerta dikenal sebagai penulis novel-novelnya.

8. Penggemar Jane Austen dikenal sebagai “Janeite.”

Selain Janeite ada panggilan alternatif terhadap fans Jane Austen yaitu Austenite atau Darcyholic.