5 Bahan-bahan Penting Dalam Menulis Fiksi Bagian 1

Apa itu cerita? Berabad-abad yang lalu, Aristoteles mencatat bahwa sebuah cerita memiliki awal, tengah dan akhir. Awal cerita bukan hanya peristiwa pertama dalam rangkaian ketiga tersebut, tapi juga peristiwa yang menarik secara emosional. Bagian tengah adalah konsekuensi alami dan akibat sebab akibat, dan akhir adalah peristiwa konklusif yang tak terelakkan.

Memahami dasar-dasar cerita yang bagus akan membantu menceritakan kisah Anda dengan lebih baik. Bayangkan Anda sedang memanggang kue. Anda memadukan beberapa bahan tertentu dalam urutan tertentu dan berakhir dengan produk yang berbeda secara unik. Dalam proses pencampuran dan kemudian memanggang kue, semua bahan-bahan tersebut berubah menjadi kue yang lezat.

Itulah yang ingin Anda lakukan saat Anda membuat sebuah cerita. Nah, kalau begitu ayo kita lihat lima bahan-bahan penting untuk membuat cerita Anda sangat baik:

sign 1Bahan #1 : Orientasi

Awal sebuah cerita harus menarik perhatian pembaca, mengarahkan mereka menuju setting, mood, gaya cerita, dan mengenalkan protagonis yang akan pembaca pedulikan, bahkan khawatirkan. Jika pembaca tidak peduli dengan protagonis Anda, mereka juga tidak peduli dengan cerita Anda.

Tetapkan harapan pembaca, ungkapkan potret karakter utama dengan memberi pembaca sekilas tentang kehidupan normalnya. Jika protagonis Anda adalah seorang detektif, pembaca tentu ingin melihatnya di TKP. Jika Anda menulis romance, pembaca ingin melihat kehidupan normal wanita muda yang sedang mencari cinta.

Sebagai catatan bahwa kehidupan normal tidak berarti kehidupan tanpa rasa sakit. Cerita Anda mungkin dimulai saat protagonis Anda tertekan, putus asa, berduka. Biasanya krisis lain (baik internal maupun eksternal) yang akan membantu Anda memulai cerita. Yang membawa Anda ke bahan kedua.

tBahan # 2: Krisis

Krisis adalah tantangan yang tak terhindarkan dan tak dapat dibatalkan yang membuat gerakan cerita bergerak. Biasanya, protagonis Anda akan memiliki keharmonisan dunia luar tapi dunia internalnya terganggu oleh krisis. Salah satu dari dua ketidakseimbangan ini mungkin terjadi sebelum awal cerita, tapi biasanya setidaknya salah satu akan terjadi pada halaman-halaman pertama.

Tergantung pada genre tulisan Anda, krisisnya bisa jadi adalah panggilan untuk berpetualang – sebuah pencarian yang mengarah ke tanah baru. Novel fantasi dan fiksi ilmiah sering mengikuti pola ini. Dalam fiksi kriminal, krisis mungkin merupakan tugas baru untuk kasus yang tampaknya tidak terpecahkan. Dalam percintaan, krisis mungkin akan mengalami perceraian atau perselingkuhan.

Ada dua cara utama untuk memperkenalkan sebuah krisis ke dalam cerita Anda. Memulai ceritanya dengan membiarkan karakter Anda memiliki apa yang paling dia inginkan dan kemudian merobeknya. Atau menyangkal apa yang paling dia inginkan, atau dia akan kehilangan sesuatu yang penting dan menghabiskan cerita untuk mencoba mendapatkannya kembali.

Katakanlah Anda telah membayangkan karakter yang menginginkan cinta lebih dari apa pun. Ketakutannya yang terdalam akan dia tinggalkan. Anda ingin memperkenalkan karakter tersebut dengan menunjukkan kepadanya dalam hubungan yang baik, tapi kemudian memasukkan krisis yang menghancurkannya, atau Anda ingin menunjukkan kerinduan awal karakter untuk pasangan, dan kemudian menjabarkan hubungan yang menjanjikan di luar dari jangkauannya sehingga dia mengejarnya sepanjang cerita.

Itu semua ada hubungannya dengan keinginan karakter utama, dan apa yang ingin dia hindari. Untuk tiga bahan lainnya bersambung di artikel bagian kedua yang akan datang 🙂

 

 

CARA MENULIS: SHOW VS TELL

Show vs Tell termasuk salah satu teknik menulis yang paling populer yang mungkin sudah sering Anda dengar. Apa sih yang dimaksud dengan Show vs Tell? Dan bagaimana mengaplikasikannya ke dalam tulisan?

Show artinya Tunjukkan. Sementara Tell artinya Beritahu. Nah dalam penulisan kreatif terutama dalam penulisan fiksi, lakukanlah Show jangan Tell.

bully 1Katakanlah saya memiliki karakter bernama Dennis, orang yang jahat dan perisak. Saya dapat mengatakan secara langsung kepada pembaca, “Dennis adalah seorang yang jahat dan perisak.” Atau, saya memilih menulis sebuah adegan di mana Dennis mengunci teman sekelasnya di toilet dan menertawakannya. Ketika pembaca melihat adegan tersebut maka pembaca dapat merasakan bahwa Dennis orang yang jahat dan perisak.

Lalu karakter saya yang lain, Sisca, sangatlah gugup. Saya bisa Tell atau mengatakan kepada pembaca bahwa Sisca sangatlah gugup. Atau, saya bisa Show atau menunjukkan secangkir kopi bergetar di tangannya. Saya bisa menunjukkan bahwa dia berbicara terbata-bata dan tidak dapat melihat lawan bicaranya. Maka pembaca akan merasakan kegugupan Sisca.

Secara umum, teknik Show lebih hidup daripada Tell. Show memiliki dampak mendalam dan lebih besar bagi pembaca.

Tapi di sisi lain, teknik Tell juga tidak jarang akan lebih masuk akal digunakan dibandingkan Show. Contohnya, jika Indira adalah seorang chef, saya akan lebih memilih menuliskan bahwa Indira seorang chef daripada berlama-lama menjelaskan bahwa Indira memakai seragam putih-putih, berikut celemek, juga topi koki dan pisau daging di tangannya. Kata chef akan langsung memberikan kepada pembaca informasi yang mereka butuhkan tanpa bertele-tele.

Sebagai penulis Anda harus dapat memilah kapan waktu yang cocok menggunakan teknik Show dan Tell. Ketika Anda ingin membuat pembaca benar-benar merasakan sesuatu maka gunakanlah teknik Show.

Selamat Menulis 🙂