5 Kesalahan ketika Menulis Dialog

Dalam kehidupan sehari-hari mengobrol atau berdialog adalah hal yang alami kita lakukan. Namun, menulis dialog untuk cerita Anda tidaklah sama dengan obrolan face to face biasanya.

Dialog Anda harus mengungkapkan karakter Anda, juga membawa cerita Anda maju. Kedengarannya sulit ya, tetapi dalam postingan berikut ini, Anda bisa melihat kesalahan-kesalahan dalam menulis dialog yang sering terjadi agar Anda bisa menghindarinya:

1. Mencoba mengcover banyak hal

Salah satu kesalahan yang fatal dalam menulis dialog adalah menumpahkan semua informasi ke dalam satu adegan. Terlalu banyak informasi akan membuat pembaca Anda bingung dan juga mengganggu cerita Anda.

Jika karakter Anda harus melakukan banyak obrolan dalam suatu waktu, maka Anda harus menanyakan tindakan apa yang akan mereka ambil, dan mengapa mereka mengambil tindakan tersebut?

Misalnya, jika karakter Anda bernama Jennie mengetahui pacarnya–Ruben berselingkuh, apakah langkah selanjutnya dari Jennie? Haruskah dia langsung menghadapi Ruben, atau menunggu mengambil tindakan lain di adegan lain?

Dialog Anda harus fokus pada satu topik dalam satu waktu dan mengungkapkan sedikit demi sedikit informasi kepada pembaca Anda akan membuat mereka lebih tertarik.

telling 12. Telling bukan Showing

Teknik telling dan showing adalah salah satu teknik yang harus dikuasai oleh setiap penulis. Dalam menulis kita harus mengetahui kapan menggunakan teknik ini untuk mendapatkan hasil maksimal.

Agar lebih jelas tentang teknik ini, Anda bisa melihat postingan berikut: CARA MENULIS: SHOW VS TELL

Dalam obrolan biasa dengan teman, kita bisa mengatakan kepada mereka: “Saya sedih sekali.” Tapi dunia tulisan adalah dunia ‘lain’. Anda harus menambahkan suasana hati dan bahasa tubuh. Karena tindakan nonverbal kita juga adalah komunikasi.

Hanya menulis “Aku marah.” Tanpa menggambarkan matanya yang memerah, dan tangannya yang mengepal dengan keras, Anda akan menghilangkan pengalaman yang lebih kaya dari pembaca Anda. Tentu saja itu harus sesuai dengan konteks dialog Anda.

3. Dialog tag terlalu deskriptif

Di buku-buku pertama saya, saya sering melakukan hal ini. Dialog tag sangat diperlukan dan menulis “katanya,” “ucapnya,” “lanjutnya,” memang membosankan. Seringkali saya menuliskannya dengan rumit atau mendeskripsikannya secara berlebihan. Saya pernah menulis adegan menuang teh dan memberikan embel-embel dialog tag sampai ke motif-motif cangkirnya. Akhirnya saya menyadari saya tidak perlu melakukannya, toh cerita saya kan bukan soal teh.

Dialog tag ada untuk maksud fungsional dan bukan deskripsi. Tidak apa sesekali Anda menggunakan, “katanya,” atau “lanjutnya,” dan sejenis itu. Tetapi Anda harus memasukkan dialog tag yang berfungsi untuk dialog Anda. Sehingga meningkatkan kontennya.

Contoh:

Sebagai contoh: “Mengapa ini busuk?” Ken melemparkan apel itu ke tempat sampah di seberang ruangan dengan geraman. → dialog tag ini langsung memberi kesan betapa kesalnya Ken. Dan mungkin mengungkapkan karakter Ken yang pemarah. 

Sebagai catatan, Anda tidak perlu selalu menambahkan dialog tag setiap kali karakter bicara. Yang terpenting, pembaca harus tahu siapa yang bicara.

talk 14. Tidak mempunyai tujuan

Dialog Anda harus mempunyai tujuan. Dialog harus mendorong cerita Anda maju. Dan dalam setiap adegannya, itu tidak boleh hanya menjadi obrolan tanpa arah. Setiap interaksi harus memiliki tujuan. Jika itu tidak memenuhi tujuan, maka Anda harus membuangnya.

5. Membiarkan semua karakter terdengar sama

Gaya dan cara bicara dari karakter Anda sangat penting. Ketika mereka berbicara dengan menggunakan dialog, mereka harus berbeda satu sama lain. Mereka semua mempunyai karakterisasi masing-masing; Sehingga cara mereka bicara, kata-kata yang mereka gunakan dan cara mereka berpikir berbeda. Saat menyusun karakterisasi, tetapkan gaya dan cara yang unik untuk masing-masing karakter utama Anda.

Salah satu kesalahan umum lain yang terkait dengan hal ini adalah membuat karakter kita terdengar seperti diri kita. Tapi sebagai penulis, kita harus keluar dari kesalahan ini. Karakter yang kita ciptakan adalah pribadi yang berbeda. Dengan memiliki karakterisasi yang mendetail terutama dengan karakter-karakter utama, maka ini dapat dihindari. 

Dialog bukan hanya pengisi halaman-halaman novel akan tetapi setiap interaksi, adegan, informasi yang ada di dalamnya haruslah mendorong cerita Anda ke depan. Semoga tips di atas membantu Anda Writers 🙂

Advertisements

4 Elemen yang harus ada pada paragraf pertama cerita Anda

Mengapa penulis perlu fokus pada paragraf pertama? Dan apa yang membuat paragraf pertama yang bagus? Paragraf pertama membawa beban dari seluruh halaman dalam novel Anda. Pembaca menginginkan paragraf yang mempunyai efek, dan membuka jalan untuk mereka masuk ke dunia yang Anda ciptakan. Jika Anda menginginkan paragraf seperti itu, berikut adalah elemen-elemen spesifik yang bisa Anda masukkan dalam paragraf pertama, sehingga membantu Anda untuk memikirkan adegan-adegan di dalamnya:

1. Protagonis cerita

Rachel

Ada onggokan pakaian di samping rel kereta. Kain biru muda—mungkin kemeja—bercampur aduk dengan sesuatu yang berwarna putih kotor. Itu mungkin sampah, bagian dari sampah yang dibuang sembarangan di tepian sungai dalam hutan belukar kecil. Itu mungkin saja peninggalan insiyur-insiyur yang bekerja di bagian rel di sini, mereka cukup sering kemari. Atau, itu mungkin sesuatu yang lain. Dulu ibuku sering mengatakan bahwa imajinasiku terlalu aktif; Tom juga berkata begitu. Aku tak bisa menghentikan kebiasaan ini. Ketika melihat onggokan benda yang dicampakkan, kaus kotor atau sepatu sebelah, mau tak mau yang terpikirkan olehku pasangan sepatu itu, dan kaki yang pas dengannya. –The Girl on the Train (Paula Hawkins)

Contoh di atas menunjukkan sudut pandang yang unik dari Rachel—protagonis novel tersebut. Rachel mempunyai imajinasi yang aktif, dia bisa membayangkan apa saja, dan dia tidak bisa menghentikannya. Ada sesuatu yang sepertinya mengganggu, menelisik perasaan kita sebagai pembaca ketika kalimat berikut ditulis: Ketika melihat onggokan benda yang dicampakkan, kaus kotor atau sepatu sebelah, mau tak mau yang terpikirkan olehku pasangan sepatu itu, dan kaki yang pas dengannya.

Pembaca perlu mengenal karakter utama Anda sejak awal, sehingga itu bisa menjadi benih yang bagus untuk dipupuk agar pembaca semakin bersimpati padanya.

Flipped2. Cita-cita dan motivasi karakter

Bryce

Aku cuma ingin Juli Baker pergi. Aku ingin dia nggak ikut campur urusanku dan memberiku sedikit ruang. –Flipped (Wendelin Van Draanen)

Paragraf pertama dalam novel Flipped di atas memberikan motivasi jelas pada pembaca bahwa Bryce punya tujuan untuk menghindari Juli Baker apa pun yang terjadi. Kemudian lihatlah apa yang tertulis dalam paragraf pertama dari sudut pandang Juli Baker.

Julianna

Pertama kali bertemu Bryce Loski, aku jungkir balik. Sungguh, baru melihatnya saja aku jadi seperti orang gila. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. Matanya yang biru dengan bulu mata yang hitam itu benar-benar memukau. Sangat memesona. –Flipped (Wendelin Van Draanen)

Kedua paragraf pertama dalam masing-masing sudut pandang kedua karakter mengarahkan pembaca kepada motivasi, tujuan atau cita-cita para karakter. Ketika kita membaca sudut pandang Bryce, kita mungkin kesal dengan Juli. Tapi ketika penulis mengajak kita mengintip benak Juli, kita tahu kalau kita pernah ada di sana—jatuh cinta. Hal itu langsung membuat kita terhubung kepada kedua karakter, kita bersimpati pada mereka. Ada emosi yang ditanam oleh penulis agar kita penasaran tentang apa yang akan terjadi pada kedua motivasi berlawanan ini pada akhirnya? Cerita bergerak terarah, kita mengerti arahnya, tapi masih tetap ada tanda tanya di situ.

3. Ketidakpastian di masa depan

SUAMINYA HAMPIR TIBA DI rumah. Kali ini, dia akan terpergok.

Tak ada selembar pun tirai, atau sebilah pun kerai, di rumah nomor 212—rumah Bandar merah-karat yang dulunya dihuni pasangan Mott yang baru menikah, hingga baru-baru ini, ketika mereka tak lagi menikah. Aku tak pernah berjumpa dengan suami istri Mott, tapi terkadang aku mengecek mereka di internet: profil LinkedIn si suami, halaman facebook si istri. Daftar hadiah pernikahan mereka masih berlaku di toserba Macy’s. aku masih bisa membelikan peralatan makan untuk mereka. –The Woman In The Window (A.J. Finn)

TWIWDari paragraf tersebut, dapat dikatakan bahwa protagonis punya hobi mengamati rumah-rumah tetangganya. Dengan kalimat pertama di atas, ada ketidakpastian yang sengaja dimunculkan penulis. Apa maksud dari terpergok? Mungkinkah sang istri sedang berselingkuh dan sang suami hampir tiba untuk memergokinya? Protagonis dan Anda menonton dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Elemen ketidakpastian akan meletakkan ketegangan dan komplikasi di masa depan. Ini intrik yang baik untuk menarik masuk pembaca Anda.

 

4. Peristiwa. Kejadian. Situasi.

Elemen ini mendorong Anda untuk menciptakan adegan pertama di mana protagonis Anda sedang berada di tengah-tengah sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa konflik, drama, situasi tegang yang menempatkan protagonis tepat di jantung adegan untuk menunjukkan ketakutannya, impiannya, rasa kemanusiaannya, atau apa pun yang ingin Anda ungkapkan tentang dirinya kepada pembaca.

Hukum mengharuskan kami selalu mencatat nama orang tak bersalah yang kami bunuh.

Sedangkan menurutku, mereka semua tidaklah bersalah. Bahkan yang berdosa sekalipun. Semua memang memiliki dosa, dan semua masih memiliki ingatan masa kecil mereka yang lugu, meski beberapa lapis kehidupan membungkus kenangan itu. Umat manusia berdosa, dan kedua pernyataan itu adalah kebenaran tak terbantahkan. –Scythe (Neal Shusterman)

Dengan menempatkan mereka di situasi tersebut, Anda bukan hanya memperkenalkannya sebagai pribadi yang punya sudut pandang unik, tapi juga dijanjikan pada situasi, peristiwa atau dunia tak lazim dan dramatis yang ada di halaman-halaman berikutnya.

Paragraf pertama memberikan karakter Anda untuk berbicara. Paragraf pertama adalah kesempatan untuk memesona, menarik perhatian pembaca Anda agar mereka mau membaca keseluruhan cerita Anda. Dan bahkan mengingatnya lama setelah mereka menyelesaikan buku Anda.