8 Hal untuk Memulai Paragraf Baru dalam Novel Anda

Mengetahui kapan harus membagi dan memisahkan cerita menjadi paragraf-paragraf adalah pekerjaan yang penting bagi para penulis tapi juga terkadang membingungkan. Dalam menulis sebuah novel, paragraf baru penting bagi pembaca. Jalinan paragraf dapat memberi tahu ketika Anda mengganti waktu, tempat, topik, atau karakter yang sedang berbicara, dan juga membantu memecah halaman sehingga tulisan Anda menjadi solid.

Nah jadi kapankah kita harus memulai paragraf baru dalam menulis fiksi? Berikut adalah delapan hal yang bisa memandu Anda:

1. Karakter baru muncul. Supaya tidak membingungkan pembaca Anda, maka paragraf baru harus dibuat setiap kali karakter baru muncul.

2. Peristiwa baru terjadi. Setiap kali peristiwa baru terjadi, tidak harus peristiwa yang besar, bisa jadi hanya satu adegan berbeda, Anda dapat langsung membuat paragraf baru.

time 13. Perubahan setting. Setiap kali Anda melewati waktu, adalah saat yang tepat untuk membuat paragraf baru. Jika Anda menemukan diri Anda menggunakan frasa atau kalimat seperti ini: Kemudian pada hari itu, Pagi berikutnya, Lima jam berlalu, Mereka menunggu dan menunggu, Kehidupan di Kencana tidak berubah. Detik-detik itu terasa seperti berjam-jam, maka itu artinya Anda melewati waktu. Hal yang sama juga terjadi jika karakter cerita Anda pergi ke tempat baru maka secara otomatis adegan baru terjadi. Jadi paling tidak, paragraf baru juga terjadi.

dialog 14. Orang baru sedang berbicara (dialog baru). Dialog membantu menghidupkan cerita. Setiap kali karakter baru Anda berbicara, Anda membuat paragraf baru. Meskipun itu adalah dialog yang sangat pendek.

5. Ketika Anda ingin efek dramatis. Seringkali kita membutuhkan satu paragraf terlihat menonjol. Atau Anda ingin membuat pembaca Anda melambat dan mengontrol jalannya cerita. Pada saat-saat seperti ini, Anda dapat membuat kalimat singkat – atau bahkan hanya sebuah kata saja dalam seluruh paragraf. Tapi jangan berlebihan atau terlalu sering melakukan ini.

Berikut adalah salah satu contoh efek dramatis dalam cerita:

Selama ini ayahnya hidup dengan tanggung jawab moral—sains yang cermat, tanggung jawab, keyakinan terhadap kebaikan di dalam diri setiap manusia. Vittoria juga percaya itu, tapi dia memandang semuanya itu sehubungan dengan karma. Dia berbalik dari Kohler dan memencet ponsel.

“Kau tidak bisa melakukannya,” ujar Kohler.

“Coba sajalah menghentikanku.”

Kohler tidak bergerak.

Sekejap kemudian, Vittoria menyadari apa sebabnya. Ponselnya tidak mendapat sinyal di tempat sejauh ini di bawah tanah.

Dengan marah, dia bergerak menuju lift. kalimat ini menaikkan level kemarahan dan tindakan dramatis dari Vittoria untuk melawan perintah bosnya Kohler. (Angels & Demons, Dan Brown)

6. Gagasan baru atau ide baru masuk ke dalam cerita. Paragraf bicara tentang satu kesatuan ide dan gagasan, jadi sangatlah penting memperhatikan kesatuan topik dalam satu paragraf, sehingga tulisan Anda menjadi solid dan tidak membingungkan pembaca Anda.

7. Pembaca memerlukan istirahat setelah paragraf yang panjang. Ini diperlukan agar pembaca tidak merasa dibombardir oleh begitu banyak informasi.

8. “Kamera” bergerak. Seperti dalam film, setiap kali sudut kamera berubah, maka Anda memulai paragraf baru. Sudut-sudut kamera dalam tulisan adalah sudut pandang/ perspektif. Jadi jika Anda ingin mengubah atau melakuka perpindahan perspektif itu artinya Anda memulai paragraf baru.

 

 

 

 

Advertisements

7 Hal yang membuat Cerita menjadi jauh Lebih Baik

Sebagai penulis, kita pasti menginginkan cerita atau novel kita lebih dari sekedar baik. Kita ingin naik ke level yang lebih tinggi. Dan untuk mendapatkan cerita yang jauh lebih baik, ternyata, ada 7 hal yang dapat Anda tambahkan ke dalam cerita. Berikut adalah 7 hal tersebut:

1. Tambahkan konten yang dramatis. Konten dramatis dapat berupa: misteri, ketegangan, kejutan, keajaiban, dan sebagainya. Anda dapat langsung merasakan perbedaannya, ketika konten-konten tersebut dimasukkan. Cerita Anda menjadi lebih seru, menggigit, dan menarik.

character 12. Menciptakan karakter yang tak terlupakan. Karakter adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menulis fiksi. Berikan karakter Anda impian, cita-cita, kekuatan tapi juga kelemahan, pesona, dan keunikan sehingga cerita Anda akan terus melekat pada pembaca bahkan jauh setelah mereka selesai membaca buku Anda.

3. Perdalam plot dengan subplot. Cerita-cerita yang dapat memberikan lebih dari sekedar lapisan pertama, selalu bisa mencengkeram lebih kuat para pembaca.

dialog 14. Efektifitas dialog. Buatlah dialog Anda efektif. Jangan berputar-putar, dan selalu tanyakan kepada diri Anda sendiri; apakah cerita ini memerlukan dialog ini? Apakah dialog tersebut dapat membawa cerita saya ke depan? Atau tidak?

5. Masukkan konflik. Konflik menciptakan ketegangan, dan konflik menarik cerita Anda maju. Tapi bukan hanya itu, konfik juga membuat pembaca meraba-raba apa yang terjadi di depan sana, sehingga mereka akan terus membaca untuk melihat apa yang akan terjadi.

6. Tuliskan awal/ opening yang bagus. Sebuah pembukaan cerita harus mampu mengajak dan mengundang pembaca untuk masuk ke dalam cerita. Tidak heran bahwa ini adalah kalimat paling menantang untuk ditulis. Luangkan waktu, jangan terburu-buru dalam menulis bagian ini.

7. Berikan ending yang memuaskan pembaca. Ada satu novel romance yang pernah saya baca menceritakan tentang seorang istri yang kehilangan suaminya. Di sepanjang buku diceritakan bagaimana dia mengatasi rasa kehilangan yang mendalam dan juga hubungan baru yang dibangun perlahan dengan seorang pria yang baik. Di sepanjang buku, penulis menyuguhkan kisah cinta baru yang mungkin terjadi, tetapi di akhir cerita, pria yang seharusnya baik itu lebih memilih kembali kepada mantan pacarnya yang selingkuh. Saya langsung bereaksi….whattttt #$@%.

Novel tersebut adalah tentang sang istri dengan kehilangannya, dia mulai membuka hatinya dengan ragu-ragu untuk sang pria baik, semua pembaca menginginkan mereka bersama, kemudian Bam! Lalu apa gunanya capek-capek membangun kisah mereka jika tidak menakdirkan mereka untuk bersama? It’s a romance novel. Bukan cerita sastra, atau non fiksi, atau cerita dengan kritik sosial. Jadi berikan ending yang memuaskan, sesuai dengan genre cerita, sesuai dengan ekspektasi yang Anda bangun untuk pembaca.