4 Cara Mengatasi Perlawanan dalam diri Anda ketika Menulis

Sebagai penulis, kita pasti cukup sering merasa tidak ingin menulis. Kadang-kadang kita ingin merasakan suasana hati untuk menulis. Jadi kita menonton TV, atau nongkrong di sosial media, dan menunggu. Dan menunggu suasana hati itu datang.

Terkadang, inspirasi tersebut memang datang. Tapi lebih sering, inspirasi begitu jauh. Di sinilah ketahanan Anda diuji. Apakah itu akan menjadi tulisan Anda semakin kuat atau tidak.

Jika Anda merasakan rasa perlawanan seperti itu di dalam diri Anda, terimalah dan bahkan rangkullah. Perlawanan yang Anda rasakan bukanlah sinyal untuk Anda tidak menulis. Saya tidak melihatnya sebagai musuh yang harus dikalahkan tapi lebih kepada ketika ada perlawanan dalam diri saya, itu artinya saya sedang melakukan sesuatu yang berharga.

Daripada menghadapi langsung perlawanan tersebut, lebih baik menghindarinya. Nah ada cara-cara yang saya telah buktikan sendiri cukup berhasil dan pada akhirnya membuat saya lebih produktif. Semoga bisa membantu Anda juga:

1. Menjadikan menulis kebiasaan rutin Anda. Dengan cara ini semua akan lebih mudah. Anda mungkin akan merasakan penolakan dan perlawanan dalam diri Anda pada awalnya.Tetapi jika Anda serius, maka hal tersebut dapat Anda atasi. Memiliki kebiasaan menulis yang rutin dapat membangun motivasi Anda dan membuat menulis menjadi lebih mudah.

love writing2. Ingatkan diri Anda mengapa Anda begitu mencintai menulis. Ini selalu berhasil setiap kali ada perlawanan dalam diri saya yang membuat menulis terasa begitu berat. Mengingatkan diri saya betapa saya mencintai menulis, membuat saya kembali termotivasi. Dan mampu membuat saya melupakan semua perlawanan tersebut.

3. Bertindaklah sebelum perlawanan itu tumbuh. Jika Anda merasa sedang tidak mood menulis, justru menulislah secepat mungkin. Semakin lama Anda menundanya, itu akan semakin sulit. Tapi jika Anda benar-benar kehabisan energi, Anda bisa menunggu tetapi setidaknya tetapkan waktu tertentu untuk tulisan Anda.

4. Membaca. Percaya atau tidak, setiap kali saya kehabisan energi atau merasa lelah terhadap ‘menulis’ saya akan ‘melarikan diri’ kepada buku. Membaca akan mengisi kembali energi saya yang hilang. Mungkin karena kata-kata mempunyai kekuatan yang lebih hebat daripada yang pernah kita pikirkan.

Merasakan sesekali perlawanan dalam diri Anda bukan berarti Anda tidak cocok menjadi penulis. Semua penulis pasti pernah mengalaminya. Hanya saja jangan menyerah untuk passion Anda.

Advertisements

1 Cara untuk Mengembangkan Kebiasaan Menulis yang Rutin

Karena tahun 2019 baru saja dimulai, jika Writers di rumah mempunyai target menulis dalam tahun ini, akan baik sekali apabila menerapkan kebiasaan menulis yang rutin. Kedengarannya mudah tapi sebenarnya itu butuh disiplin.

Tidak ada yang magis tentang menulis. Yang perlu kita lakukan adalah duduk, membuka laptop dan mulai mengetik. Tapi di sinilah kita biasanya gagal. Tidak bisa menuliskan satu kata pun. Dan pada akhirnya tidak ada satu pun yang ditulis.

tired 1Apa yang sebenarnya menyebabkan banyak sekali dari kita gagal untuk memulai diri kita bekerja? Karena kita cenderung mencoba dengan terlalu banyak. Dan itu biasanya tidak berhasil. Inilah yang saya ketahui tentang menulis. Kita mencoba selangkah demi selangkah. Anda tidak langsung menulis satu novel tapi menulis satu kalimat lalu menjadi paragraf demi paragraf dan paragraf tersebut menjadi bab dan seterusnya.

Menulis apa pun yang terpenting adalah memulainya. Seberapa banyak Anda harus memulainya? 500 kata. Biasanya saya memulai dengan memecut diri saya untuk menulis minimal 500 kata. Gunakan word count untuk mengeceknya. 500 kata adalah jumlah yang pendek sehingga lebih mudah untuk Anda untuk menemukan waktunya. Dan jika Anda melakukannya setiap hari, itu bukan hanya membuat Anda menyelesaikan sebuah buku tapi kemampuan menulis Anda akan berkembang.

Cobalah untuk membuat tantangan selama sebulan ini untuk menulis sebanyak 500 kata per hari. Dengan mengikuti beberapa aturan berikut ini:

  1. Anda dapat menulis dengan jumlah kata lebih dari 500 kata tapi tidak boleh kurang.
  2. Hanya menulis. Jangan mengeditnya dulu.
  3. Jika Anda lupa atau melewatkannya sehari atau dua hari misalnya, jangan mengganti dan mengakumulasi 500 kata yang hilang.
  4. Menulis apa saja, bisa termasuk menulis postingan di blog.

Bagaimana, tertantang melakukannya? 🙂