Pahlawan juga Manusia Bagian 2

Dalam menyambut hari Pahlawan, saya tertarik untuk kembali menuliskan tentang Pahlawan juga Manusia bagian kedua. Bahwa Para Pahlawan juga bisa salah tingkah dan bandel sama seperti Anda dan saya :).

Bung Hatta 11. Pada tahun 1968 Bung Hatta diundang ke Honolulu untuk menjadi senior fellow dan sesekali memberi ceramah kepada mahasiswa tingkat doctoral dan dosen-dosen di University of Hawaii. Selama di Honolulu, urusan memasak dan rumah tangga dilakukan oleh Ibu Meutia Hatta (anak sulung Bung Hatta). Mahasiswa-mahasiswa di sana pernah datang ke apartemen Bung Hatta, Bung Hatta yang pendiam tidak bisa bercanda dan tertawa lepas, tetapi itu tidak menutup keramahannya sebagai tuan rumah. Tiba giliran menyajikan minuman. Ibu Meutia menanyai tamu satu per satu ingin minum apa. Ada yang menjawab kopi, tetapi kebanyakan minta teh.

Does Sampoerno (kini guru besar FKUI) dan Kuswata Kartawinata (pakar botani di IPB) yang meminta kopi, hampir terlonjak dari kursi mereka karena di depan mereka Bung Hatta membawa dua cangkir kopi pesanan mereka. “Aduh, Pak Hatta, kenapa membawanya sendiri?”, lalu Ibu Meutia berkata, “Ayah juga kok yang bikin kopinya.”

Kejadian ini diingat selalu oleh Does Sampoerno sehingga beberapa kali Ibu Meutia bertemu dengannya, dia tetap menyesali dan menceritakan kepada dosen-dosen lain, “Bung Hatta sendiri yang membuat dan mengantarkan kopi kepada kami…..Tetapi sebenarnya itu juga suatu kehormatan bagi kami. Kami bangga. Mana ada mahasiswa lain yang dibuatkan kopi oleh Bapak Proklamator kecuali kami berdua.”

Bung Hatta memang terkenal dengan kesederhanaannya dan jabatannya tidak pernah membuatnya tinggi hati ya Writers 😉

Tan Malaka 12. Bagi penggemar sepak bola, nama Ibra pasti nggak asing lagi. Nama panggilan dari striker Manchester United, Ibrahimovic. Tapi kita lagi nggak ngomongin Ibra yang ini, tapi Ibra, Bapak Bangsa kita, lho memangnya ada? Ibra itu adalah nama panggilan dari Tan Malaka. Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim. Tan Malaka paling doyan main sepakbola, layang-layang, dan berenang di sungai. Selepas magrib dia selalu mengaji lalu tidur di surau.

Saat tinggal di Sawahlunto, Ibra pernah ditantang teman-teman untuk menyeberang sungai selebar 50 meter karena arusnya deras. Tapi dasar memang Ibra anaknya nekad, tanpa berpikir dia setuju dengan tantangan itu. Sampai akhirnya dia terbawa arus, tubuhnya lemah dan terapung di sungai. Untungnya seorang teman bertubuh besar menggiringnya ke tepi sungai. Setelah pulih, Ibunya sudah berada di depan, siap memukulkan rotan, memberinya pelajaran. Di waktu lain, ketika permainan “perang jeruk” berujung saling lempar batu, Ibra juga mendapat hukuman dikurung di kandang ayam dan dijewer pusar. Duh…bandelnya mungkin sama dengan Anda dan saya…^^

Bung Sjahrir 13. Bung Sjahrir mempunyai istri bernama Maria Duchateau, selama bertahun-tahun mereka harus menjalani cinta jarak jauh. Bung Sjahrir di Indonesia dan Maria di Belanda. Di sebuah pertemuan di New Delhi, India, pada April 1947, Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India yang juga teman baik Bung Sjahrir ingin membuat kejutan bagi Sjahrir. Ia tidak bilang akan mengundang Maria. Nehru berpikir, mungkin bagus mengundang Maria, yang masih menjadi istri Sjahrir. Tapi Nehru nggak tahu kalau hubungan Bung Sjahrir dengan Maria sudah mulai redup dan ada asmara yang terjalin antara Bung Sjahrir dan asistennya, Poppy.

Pertemuan setelah 15 tahun itu berlangsung dingin. Maria bersama Nehru dan putrinya, Indira Gandhi, menyambut Sjahrir yang didampingi Poppy di Bandar udara. Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya ke pipi Maria di depan Poppy. (#$&%@ Awkward ^^)

Setahun kemudian, api cinta itu benar-benar padam. Keduanya memutuskan bercerai pada 12 AGustus 1948.

Jenderela Soedirman 24. Kita semua tahu kalau Jenderal Sudirman adalah perokok kelas berat. Ia merokok sejak remaja. Rokok kreteknya tak bermerek, tingwe alias nglinthing dewe, yang artinya meracik sendiri. Sepulang gerilya, kondisi kesehatan Jenderal Soedirman memburuk. Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun pada 2012, putra bungsu Jenderal Soedirman, ingat cerita ibunya, bagaimana saat sakit bapaknya tetap ingin merokok. “Bapak dipaksa berhenti merokok oleh dokter. Karena tak bisa benar-benar meninggalkan rokok, Bapak meminta Ibu merokok dan meniupkan asap ke mukanya.” :/

5. Suatu saat ketika Jenderal Soedirman berpidato di depan putri-puti Keraton Solo, Siti Alfiah, istri Jenderal Soedirman begitu cemburu karena para putri terlihat kagum pada penampilan suaminya. Selesai pidato, Alfiah berkata, “Kamu senang, ya? Kalau begitu mau lagi?” Soedirman langsung menjawab, “Ya tidak, kan aku sudah punya kamu.”

Ternyata Jenderal Soedirman jago juga ngerayu ^^

Baca juga: Pahlawan juga Manusia Bagian 1

Sumber:

Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa. 2016. Jakarta. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Meutia Farida Hatta. Bung Hatta di mata Tiga Putrinya. 2015. Jakarta. PT Kompas Media Nusantara.

15 Fakta Seputar Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan Indonesia sarat dengan atmosfer penuh semangat yang berkobar-kobar. Negara muda ini akhirnya lepas dari belenggu penjajahan, dan tentu di tengah-tengah hiruk pikuk kemerdekaan terdapat juga cerita haru, lucu, dan unik yang perlu kita ketahui untuk mengenang para pahlawan yang berjuang demi tumpah darah kita. Berikut adalah 15 fakta seputar kemerdekaan Indonesia:

1. Ketika sedang mengetik naskah proklamasi, Sajuti Melik melakukan dua kali perubahan. Perubahan pertama pada kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” yang diganti dengan “atas nama bangsa Indonesia”; sedangkan perubahan kedua, dia mengoreksi istilah tempoh” dengan “tempo” ejaan yang benar.

2. Sekitar pukul 04.00 dini hari, Jumat 17 Agustus 1945, teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

proklamasi 13. Pukul 09.00 pagi sekitar 500 orang sudah berdiri di depan rumah Bung Karno di Pengangsaan Timur. Mereka berteriak: Sekarang, Bung, ucapkan pernyataan kemerdekaan, sekarang. Ayo, Bung Karno, matahari sudah tinggi, hari sudah mulai panas, rakyat sudah tidak sabar lagi, rakyat sudah gelisah, rakyat sudah berkumpul. Ucapkan proklamasi.”

4. Ibu Fatmawati seperti dikutip majalah Exklusif Dialog edisi September 1979, mengatakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 kurang beberapa menit, Bung Hatta tiba dan langsung masuk ke kamar tidur Bung Karno dan bercakap-cakap. Bung Karno tetap berbaring karena sedang demam tinggi. Pagi-pagi sudah diperiksa oleh Dr. Soeharto, disuntik dan minum obat.

ibu fatmawati 1Tiba-tiba, pintu diketuk dari luar, dan masuklah beberapa pemuda memberi tahu bahwa segala sesuatunya sudah siap. Bung Karno segera memakai peci. Akan tetapi, begitu kami sedang akan melangkah keluar untuk meninggalkan kamar tidur, mendadak terdengar teriakan dari luar, “Benderanya belum ada.” maka Ibu Fatmawati  langsung berbalik untuk mengambil bendera yang baru semalam dijahit.

5. Ibu Fatmawati membuat bendera dari dua potong kain. Sepotong kain merah dan sepotong kain putih. Dan menjahit kedua potongan kain tersebut dengan jari-jari tangannya sendiri. Ini merupakan bendera resmi pertama Republik Indonesia.

6. Tiang bendera dibuat dari sepotong bambu yang dipotong tergesa-gesa di belakang rumah Bung Karno. Tiang tersebut menjadi tiang darurat dan ditanamkan ke tanah sebelum acara dimulai.

7. Susunan acara proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 dirancang oleh Soediro sebagai berikut:

  • Pertama : Pembacaan proklamasi, dilanjutkan dengan pidato singkat Soekarno.
  • Kedua : Pengibaran Sang Saka Merah Putih
  • Ketiga : Sambutan Soewirjo, Ketua Panitia Penyelenggara
  • Keempat : Sambutan Dr. Moewardi, Kepala Keamanan

bendera 28. Tidak ada orang yang ditugaskan mengerek bendera. Chudancho Abdul Latief Hendraningrat, salah seorang di antara sedikit orang yang memakai pakaian seragam, berdiri paling dekat dengan tiang bendera. Akhirnya Chudancho Latief mengambil bendera, mengikatkannya kepada tali bendera, menarik, kemudian langsung mengibarkan. Tidak ada musik. Tidak ada paduan suara. Setelah bendera naik dan berkibar-kibar, secara spontan semua menyanyikan Indonesia Raya meskipun tidak pernah tercantum dalam susunan acara.

Frans-Mendur

Frans Mendur (kiri)

9. Chudancho Latief jugalah yang meminta Frans Mendur menjadi juru foto saat proklamasi.

10. Proklamasi dengan versi berbeda lebih dulu dibacakan di Cirebon, tanggal 15 Agustus 1945 oleh dokter Soedarsono. Ada sekitar 150 orang-orang memenuhi alun-alun Kejaksan.

11. Teks proklamasi di Cirebon, sesuai dengan yang dapat diingat oleh Des Alwi, anak angkat Bung Sjahrir adalah sebagai berikut: Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah oleh siapa pun juga.

Sutan Sjahrir12. Bung Sjahrir adalah orang Indonesia pertama yang berpidato di majelis Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 14 Agustus 1947, di Lake Success, Amerika Serikat, mengenalkan Indonesia dan menyerukan dihentikannya penjajahan.

13. Secara kebetulan, pada Jumat, 17 Agustus 1945, penyiar radio Jusuf Ronodipoero dinas malam; masuk pukul 16.00. Seorang wartawan dari Kantor Berita Domei (sekarang: Antara) menyerahkan dua lembar kertas. Lembar pertama adalah surat Adam Malik yang meminta agar membacakan lembar kedua dalam siaran warta berita malam. Lembar kedua tersebut isinya adalah teks lengkap proklamasi, ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Harus disiarkan supaya didengar oleh dunia internasional.

Antara14. Jusuf Ronodipoero memutar otak karena pada saat itu, lembaga sensor Jepang masih mengawasi siaran berita. Beliau teringat sebuah pemancar siaran luar negeri yang sudah jarang dipakai. Perangkat tersebut dipakai sebagai pemancar tanpa mengganggu siaran yang dipantau petugas sensor Jepang. Jusuf dengan tenang membaca berita versinya tentang Proklamasi Kemerdekaan, warta berita versi Jusuf langsung dipancarkan ke seluruh dunia, sedangkan dari pengeras suara yang ada di dalam studio, hanya terdengar warta berita resmi. Petugas sensor Jepang terus-menerus mengangguk-angguk kepala ketika memonitor warta berita. Tidak mengetahui, warta berita yang terpancar keluar studio adalah versi yang berbeda :).

15. Satu jam kemudian, pasukan Kempetai (Polisi Militer) Jepang segera menyerbu studio, satu per satu penyiar radio tersebut dihajar habis-habisan. Kemudian, sebilah samurai dihunus, siap memenggal kepala mereka. Begitu samurai akan diayunkan, Tomobochi, Direktur Djakarta Hosyo Kioku masuk ke dalam ruangan. Dia melarang hukuman mati sambil mengingatkan, Dai Nippon sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu. Oleh karena itu, kalau ingin menjatuhkan hukuman, Tomobachi mengingatkan, “Lebih dulu harus melalui pemeriksaan secara teliti.”

Semoga dengan mengetahui fakta-fakta di atas, kita sebagai penerus Bangsa, dapat bersemangat untuk mengerjakan kemerdekaan yang sudah dirintis oleh para pahlawan dan pendiri Bangsa ini. Merdeka! 🙂

 

Sumber:

Pour, Julius. Djakarta 1945. 2013. Jakarta: BIP (Bhuana Ilmu Populer)

Tempo. Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil. 2010. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)