Jangan Lakukan Hal-hal Ini Saat Menulis plot twist

Bayangkan pembaca Anda membuka buku Anda, lalu mereka mulai menelusuri narasi yang Anda tulis. Narasi itu membangun dan membangun, dan kemudian sesuatu terjadi! Sebuah rahasia besar terungkap. Lalu satu rahasia lagi. Dan kemudian satu lagi. Itulah yang membuat perjalanan membaca menjadi lezat, berisi, tegang, tidak nyaman, dan sangat mendebarkan.

Tapi masalahnya bagaimana membuat perjalanan tersebut terasa alami dan tidak dipaksakan. Bagaimana mengatur agar plot twist Anda mengejutkan pembaca tanpa keluar sepenuhnya dari logika cerita yang Anda bangun? Anda bisa melihat  postingan sebelumnya tentang 5 hal yang Anda lakukan untuk menulis plot twist yang baik. Kali ini saya memberikan tips tentang apa yang sebaiknya tidak dilakukan untuk membuat plot twist Anda berhasil.

1. Jangan membuatnya terlalu jelas

Hal  pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan yang terlihat sangat jelas. Buang semua solusi yang Anda pikirkan agar protagonis Anda berhasil. Pikirkan skenario lain. Lalu buang itu juga :). Plot twist seharusnya tidak terduga. Pembaca Anda tidak bisa menebak bagaimana buku Anda berakhir. Tetapi…mereka harus tersenyum ketika hal itu terjadi. Segila apa pun twist yang Anda buat ketika mereka berpikir, mereka akan berkata: kami melihat tanda-tandanya, tapi kami tidak menebaknya.

Pet Semetary adalah salah satu contoh yang ingin saya bahas untuk hal ini. Ada beberapa plot twist dalam Pet Semetary, saya bisa menebak salah satunya ketika seorang anggota dalam keluarga tersebut tewas. Tapi saya tercengang ketika cerita hampir berakhir, Stephen King memilih jalan yang benar-benar tak dapat saya tebak. Meskipun saya lebih memilih akhir yang ‘menyenangkan’ tapi hei…ini genre horor jadi saya tersenyum, menggelengkan kepala kagum. Premisnya berhasil dan jika Anda mencintai genre ini atau thriller dan suspense, saya menyarankan untuk membaca bukunya atau menonton filmnya.

card2. Jangan memperlihatkan kartu Anda terlalu cepat.

Teknik foreshadowing atau petunjuk dan pertanda yang muncul di awal cerita yang akan terjadi kemudian dalam cerita—sangatlah penting dalam menulis fiksi. Tetapi ketika Anda menyiapkan plot twist, Anda tidak boleh memperlihatkannya terlalu banyak. Karena itu akan membuat pembaca Anda dapat menebak apa yang akan terjadi, dan akhirnya twist Anda gagal.

Tahan informasi sampai tidak dapat ditahan lagi. Ini membantu meningkatkan ketegangan dalam cerita Anda. Segera setelah memasukkan plot twist, jalan cerita harus menjadi lebih baik dan lebih kuat. Pembaca Anda akan memburu dan mencari petunjuk bahwa twist ini akan terjadi. Petunjuk harus ada tapi Anda harus tahu bagaimana mengaturnya.

Contoh foreshadowing: Mereka pikir tidak akan ada lagi mayat; Namun, mereka tidak bisa mempercayai pemikiran seperti itu lagi. →→ Ini adalah foreshadowing tentang akan ada pembunuhan lagi di bab-bab selanjutnya.

3. Jangan terlalu sering membuatnya

Pembaca jelas akan berhenti mempercayai narator atau buku Anda, jika Anda melakukan hal ini. Mereka akan malas dan berpikir Anda melakukannya hanya untuk sensasi semata. Jadi batasi twist Anda.

puzzle4. Jangan menggunakan tipuan

Pembaca membeli buku Anda tentu bukan untuk merasa tertipu dan dibohongi. Kita sering menonton atau membaca cerita dengan adegan yang mengerikan, berbahaya, dan mengancam, tapi tiba-tiba yang kita lihat kemudian adalah sang karakter terbangun dan yang dia alami adalah mimpi buruk. Itu agak menyebalkan buat saya, apalagi jika dilakukan berulang kali. Adegan tersebut sangat klise dan sebagian besar pembaca Anda mungkin akan bisa menebaknya. Tapi apakah itu berarti tidak boleh menggunakan adegan mimpi sama sekali? Tentu Anda tetap dapat melakukannya, tapi cukup ceritakan mimpi tersebut pastikan itu menakutkan dan berakhir dengan hal yang tidak diprediksi.

Saya melakukannya di novel saya City of Heroes, ketika protagonis cerita Orion, bermimpi tentang Indonesia di masa depan, ketika musuhnya mengambil alih negara ini. Orion menceritakan mimpinya semalam karena mimpinya cukup mengerikan, jadi Orion tak bisa lupa soal itu dan semakin mendorongnya untuk mencari cara agar mimpi tersebut tak akan pernah terwujud dan Indonesia tetap merdeka.

Pembaca Anda ingin terlibat secara emosional terhadap cerita Anda. Sehingga jangan menggunakan trik-trik yang disengaja.

Yang terpenting adalah plot twist juga harus memperdalam karakter-karakter Anda sehingga pembaca terlibat secara emosional dengan novel Anda. Selamat menciptakan plot twist kalau begitu, Writers 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s