6 Cara Menulis Cerita Distopia Bagian 1

The Hunger Games, The Giver, Divergent, The Maze Runner, adalah sekian dari banyaknya novel-novel bergenre distopia. Kita mencintai novel dengan genre ini karena karya-karya tersebut tidak hanya hadir untuk menghibur pembaca tetapi cerita-cerita tersebut juga menunjukkan kepada kita sendiri tentang konflik atau kejadian mengerikan yang mungkin terjadi di masa depan.

Dalam kamus Oxford, definisi fiksi distopia adalah tentang sebuah negara atau masyarakat imajinatif yang mengalami penderitaan atau ketidakadilan, biasanya bersifat pemerintahan yang totaliter atau pasca-apokaliptik.

Karena situasi yang benar-benar buruk maka cerita distopia penuh dengan konflik yang menegangkan. Di mana para karakternya bergulat melawan sistem yang buruk atau berjuang untuk tetap hidup. Lalu bagaimana cara memulai menulisnya? Berikut adalah enam cara yang bisa membantu membangun dunia distopia Anda:

1. Memiliki tema utama yang kuat

Novel dan cerita distopia dimulai dengan tema yang kuat dan penuh masalah. Contoh: 1984 –George Orwell.

Bersetting di Inggris Raya, yang menjadi Airstrip One, di bawah wilayah yang lebih besar bernama Oceania, diperintah oleh Partai yang menggunakan Polisi Pikiran yang kejam untuk menghentikan semua pemikiran independen. Rezim ini mengamati setiap tingkah laku warganegaranya sampai tidak ada satu pun yang lolos dari pengamatan. Mereka menyusun sendiri kata-kata dalam kamus, dan melakukan propaganda seperti: War is Peace. Freedom is Slavery. Ignorance is Strength.

Apa yang membuat cerita distopia Anda bagus adalah tema utama yang kuat. Situasi yang buruk yang terjadi dalam suatu wilayah atau suatu masyarakat dapat memberikan motivasi terhadap karakter Anda untuk melawan sistem atau hanya sekedar untuk bertahan hidup.

distopia 22. Menciptakan dunia ‘lain’ yang bisa dipercaya

Cerita distopia adalah tentang menciptakan dunia imajinasi atau dunia yang berbeda dari dunia yang Anda tinggali saat ini. Berikut adalah bagaimana menciptakan dunia distopia yang bisa dipercaya:

a) Dengan cara terhubung atau relate dengan pembaca Anda. Pada akhirnya seimajinatif apa pun cerita Anda, konektivitas tersebut harus hadir bagi para pembaca Anda.

b) Tunjukkan dalam cerita Anda bagaimana para karakter Anda sampai pada situasi yang terjadi. Dalam The Fifth Wave, Cassie menceritakan bagaimana Alien bisa menginvasi bumi dalam gelombang-gelombang. Gelombang pertama ketika teknologi EMP mematikan semua teknologi yang bumi miliki. Apakah Anda mengungkapkan asal-usul distopia tersebut di awal cerita? Atau menyimpannya sebagai background agar lebih misterius, dan akan masukkan dalam cerita secara bertahap? Itu terserah Anda.

3. Mengembangkan setting distopia Anda

Setting distopia biasanya adalah kota-kota yang luluh lantak, konflik global, zombie apocalypse, yang secara natural akan menciptakan kelompok-kelompok karakter yang saling berperang demi mempertahankan kebutuhan mereka masing-masing. Belum lagi infrastuktur yang penuh bahaya, lingkungan yang beracun, dan akibat-akibat buruk lainnya.

Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda tanyakan:

1. Siapa yang memiliki kekuasaan sekarang, dan mengapa?

2. Siapa yang paling tertindas dan atau dicari dalam masyarakat distopia tersebut dan mengapa?

3. Apa yang masih ada dari dunia sebelum distopia dan apa yang sudah tidak ada lagi? Bagaimana definisi hari yang normal bagi masyarakat di sana? Bagi protagonis Anda?

4. Seperti apa kondisi geografis dalam situasi ini? Jika cerita Anda terjadi dua ratus tahun dari hari ini, pikirkan seberapa banyak bumi ini berubah. Kota-kota baru mungkin muncul, atau kota-kota lama mungkin menghilang. Apalagi jika cerita-cerita tersebut penting untuk cerita Anda.

Terlepas seberapa berubah setting dunia distopia yang Anda bangun, Anda harus dapat menyakinkan pembaca bahwa bumi pada dua ratus tahun dari sekarang mungkin terjadi seperti yang Anda gambarkan dalam cerita.

unwind 1Dalam novel Unwind karya Neal Shusterman, situasi masyarakat di sana adalah para orang tua dapat memilih untuk memisahkan raga anak-anak yang ‘tidak’ mereka inginkan. Memisahkan raga yang dimaksud adalah memberi ijin agar anak-anak di eutanasia dan memberikan bagian tubuh mereka untuk donasi. Proses ini legal dan menyebabkan banyak anak kabur dari rumah mereka dan membentuk kelompok-kelompok pemberontakan.

Novel ini adalah salah satu novel distopia favorit saya, Neil Shusterman mampu membangun dunia baru dengan sistem tatanan pemerintahan baru tapi tetap terasa realistis. Ini adalah kisah tentang kasih sayang, rasa tidak diinginkan, bertahan hidup, pemberontakan. Dan tanpa setting dunia ‘baru’ yang detail maka cerita distopia akan gagal.

Baca juga: 6 Cara Menulis Cerita Distopia Bagian 2

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s