Life is a Journey. Langkah Demi Langkah Menulis Memoar (Part 1)

Life is just a journey-Princess Diana

Life is just a journey. Kata-kata Putri Diana tersebut benar sekali. Hidup adalah hanya sebuah perjalanan. Tanpa mengurangi maknanya, tapi memang hidup hanya sebuah perjalanan. Apakah itu indah, pahit, penuh dengan perayaan atau duka, namun yang pasti semua momen yang kita alami pada akhirnya akan mengantarkan kita pada tujuan. Sebuah tujuan hidup.

Perjalanan tidak akan selalu mulus, mungkin berbatu-batu, mungkin kita kehilangan arah, tapi kita akan bertemu dengan orang-orang di sepanjang perjalanan, sebagian besar dari mereka terkadang harus kita lepaskan untuk pergi, sebagian kecil akan menetap bersama kita. Tapi akan selalu ada pelajaran, pengalaman, dari orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan baik, buruk, bahagia, atau rasa sakit yang membawa kita pada kenangan. Kenangan atau memori adalah harta yang berharga yang harus kita hargai selamanya di dalam hati kita, mengapa? karena kenangan itu jugalah yang membuat kita sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini apa pun yang kehidupan sudah siapkan untuk kita.

Betapa pentingnya memori sehingga saya berani mengatakan bahwa Anda perlu menulis memoar. Tapi mungkin Anda berpikir: “Saya bukan tokoh masyarakat, selebriti, atau social media sensation, dan sebagainya, sehingga perlu menulis sebuah memoar pribadi.” Saya percaya setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Dan betapa kita seringkali justru menyepelekan hal-hal sederhana yang menyentuh, yang membentuk diri kita seperti sekarang ini untuk dilewatkan begitu saja. Setiap kita memiliki keluarga dan keluarga yang kita pilih yaitu teman-teman. Dan setiap kita membentuk pengalaman dalam hubungan-hubungan tersebut. Apakah itu pahit, luka, sedih, senang, membanggakan, atau pun manis.

journey 1

Anda mungkin bertanya, mengapa orang lain harus peduli dengan cerita saya? Jawabannya adalah karena setiap hari, di seluruh dunia, kita membaca, kita mendengar kisah atau cerita dari orang-orang ‘biasa’. Tidak akan ada sebuah genre bernama film dokumenter, atau buku-buku nonfiksi jika kisah orang-orang ‘biasa’ ini tidak penting, bukan? Ingatlah Life is Not a Fairy Tale sehingga kisah non fiksi akan selalu punya tempat di hati banyak orang. Memori kita terbatas, dan manusia jelas bukan mahkluk abadi karenanya menulis adalah sesuatu yang penting. Tulisan menghancurkan batasan waktu. Hanya dengan sebuah tulisan manusia mampu menjadi abadi.

Karena itu saya ingin sekali membagikan langkah demi langkah menulis memoar dalam beberapa seri postingan ke depan atau mungkin supaya lebih mudah kita sebut saja ebook.

Bagaimana menggunakan Ebook ini:

Ebook ini ada untuk mendorong Anda sehingga Anda dapat menulis memoar diri Anda atau memoar orang lain. Cara menggunakannya adalah, bacalah secara keseluruhan lalu kembalilah lagi untuk mengikuti langkah demi langkahnya. Menulislah dengan wawasan yang Anda punya, lakukan referensi silang, sebelum menuangkan seluruh tulisan Anda.

WAKTUNYA MEMULAI

1. Putuskan jangka waktu untuk cerita Anda.

time 2Jika Anda menulis sebuah memoar, Anda harus memutuskan periode mana dalam hidup Anda yang akan Anda angkat. Ini akan membuat Anda untuk tetap fokus dan menghemat waktu pada saat editing. Dan penting juga untuk memutuskan periode dalam hidup Anda yang mungkin akan disukai bahkan dicintai para pembaca.

2. Memahami bahwa latar belakang cerita (background story) memainkan peranan.

Latar belakang cerita adalah sejarah Anda. Dan segala sesuatu yang telah terjadi di diri Anda hidup sampai sekarang. Latar belakang cerita dapat menambah wawasan yang berharga bagi karakter-karakter dalam cerita, tetapi kalau terlalu banyak juga dapat membosankan. Jika Anda ingin menulis tentang Setahun berada di Nepal, maka sebuah latar belakang mengapa Anda berada di Nepal harus ada tapi tidak perlu membuatnya terlalu banyak.

Cerita latar belakang juga tidak perlu dibuat secara kronologis seperti dalam diari atau jurnal. Anda dapat mengambil cuplikan demi cuplikan yang cocok untuk menambahkan emosi, warna, juga pemahaman bagi pembaca Anda.

Contoh dari buku The Other Side of Me—Sidney Sheldon (Dalam kutipan ini Sidney menceritakan awal mula ketertarikannya pada dunia menulis dan tulisan pertamanya yang diterbitkan):

Sidney SheldonBualan yang paling membanggakan bagi Otto (Ayah Sidney Sheldon-red) adalah bahwa dia tidak pernah membaca satu buku pun sepanjang hidupnya. Natalie-lah (Ibu Sidney Sheldon-red) yang menumbuhkan kecintaan kepada buku pada diriku. Otto mulai memerhatikan karena aku suka duduk di rumah, membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan umum, padahal semestinya aku bisa ada di jalan, bermain bisbol.

“Matamu akan rusak,” katanya berulang kali. “Mengapa kau tidak seperti sepupumu si Seymour itu? dia suka bermain bola dengan anak lelaki.”

Pamanku Harry lebih parah lagi. Suatu kali aku menguping dia berkata kepada ayahku, “Sidney terlalu banyak membaca. Dia akan menuai akibat buruknya.”

Ketika aku berumur sepuluh tahun, aku memperburuk keadaan dengan mulai menulis. Ada lomba puisi di Wee Wisdom, majalah anak-anak. Aku menulis sebuah puisi dan meminta Otto mengirimkannya ke majalah itu untuk ikut lomba.

Fakta bahwa aku mulai menulis membuat Otto gugup. Fakta bahwa aku menulis puisi membuatnya sangat gugup. Kemudian aku tahu, karena dia tidak ingin malu kalau-kalau majalah itu menolak puisiku, dia menghapus namaku dari puisi itu, menggantinya dengan nama Paman Al, dan mengirimkannya ke majalah itu.

Dua minggu kemudian, Otto makan siang dengan Al.

“Hal paling hebat terjadi padaku, Otto. Kenapa majalah Wee Wisdom mengirimiku cek senilai lima dolar?”

Maka, tulisan profesional pertamaku diterbitkan dengan nama Al Marcus.

3. Buatlah daftar.

listSisihkan waktu untuk menulis semua hal yang Anda ingat yang Anda rasa berhubungan dengan memoar yang Anda tulis. Pasti tetap dibutuhkan beberapa penelitian dan itu harus juga mencakup insiden, peristiwa, karakter, percakapan, hubungan dan background story yang sesuai. Dapatkan semuanya, tidak perlu dalam urutan kronologis tertentu, dan kemudian aturlah catatan-catatan tadi menjadi sebuah timeline peristiwa dengan menggunakan cut dan paste. Anda juga tidak boleh takut menggunakan tombol delete dengan menerapkan aturan praktis.

4. Aturan praktis.

Aturan praktis adalah untuk meninggalkan narasi yang tidak membawa cerita Anda maju. Yaitu sesuatu yang tidak menambahkan pemahaman apa pun soal karakter-karakter dalam buku Anda. Ini termasuk anekdot-anekdot yang tidak relevan, background story yang tidak perlu. Singkatnya, tidak ada yang perlu mengetahui warna favorit Anda atau seorang yang Anda taksir saat SMA dulu (kecuali jika itu akan menambahkan pemahaman bagi karakter-karakter Anda, atau situasi dan peristiwa yang Anda gambarkan) tetapi mereka mungkin ingin tahu bahwa jatuh dari pohon saat anak-anak akan memberikan Anda rasa takut akan ketinggian jika cerita Anda adalah tentang mendaki gunung atau sesuatu yang berhubungan dengan ketinggian.

5. Menulis prolog.

Bahkan jika Anda tidak berniat untuk menuliskan prolog, saya sarankan menulis yang pendek. Anda selalu bisa menghapusnya nanti. Alasannya adalah itu adalah cara mudah untuk masuk ke dalam proses penulisan. Itu akan memberi Anda gambaran tentang fokus cerita Anda. Jahit prolog Anda agar sesuai dengan tipe buku Anda. Singkat dan to the point. Tapi ini bukan keharusan.

Contoh Prolog: diambil dari The Geography of Love –Peter Theisen

Peter ThiesenBagiku cinta itu seperti teka-teki silang. Sejak bertahun-tahun lalu, kuisi kotak jawaban dengan semangat. Beberapa jawaban sudah aku hafal. Misalnya: “22 huruf untuk Syarat hubungan yang awet dan langgeng: mau dan bersedia kompromi.” Atau “8 huruf untuk yang tidak bisa dilakukan oleh pria: menyimak”. Aku ahlinya di sini….

            Umurku 44 tahun, cukup sukses dalam karier. Aku tidak bodoh, dan kata orang penampilanku cukup menarik. Secara umum, aku cukup memesona. Aku belum punya anak, sedangkan pernikahan seakan-akan masih teramat jauh sejauh jarak ke planet Venus. Meskipun kata orang, aku bukanlah tipe yang layak dihindari, ya…maksudnya untuk pernikahan, bukan perjalanan ke Venus….

            Sepertinya hingga berusia 44 tahun, aku belum juga belajar tentang cinta. Oleh sebab itu, aku harus berkelana keliling dunia, seperti pengrajin zaman dahulu, untuk memaknai apa itu cinta di berbagai belahan bumi. Bagaimana seorang lelaki terkseima pada goyangan pinggul gadia Polinesia; Bagaimana malam pernikahan ala Zanzibar; Mengapa di Pegunungan Kaukasus penculikan calon mempelai wanita terus berlangsung;…. Berbekal ratusan pertanyaan serupa, aku memulai perjalanan sebagai pengamat yang kritis. Dan jika memungkinkan, aku ingin mengikuti aneka ritual asmara, misalnya berkunjung ke klub salsa Amerika Latin….Tujuan perjalanan romansa ke seluruh dunia ini adalah agar aku dapat berdansa dalam pesta perkawinan sebanyak-banyaknya. Saatnya juga bagiku untuk bersenang-senang, memuaskan keingintahuanku tentang dunia dan cinta.

            Aku sudah sedikit berpengalaman dalam penelitian cinta lintas negara. Setelah lulus SMU, aku belum tahu pasti akan kuliah di jurusan apa. Pada saat  itu aku berkesempatan bekerja selama satu tahun sebagai tenaga relawan sebuah proyek kemanusiaan di Afrika Selatan. Kedengarannya bagiku seperti sebuah petualangan sekaligus berbuat baik.

            Aku ditempatkan di sebuah desa bernama Taung, sebuah desa terpencil. Aku tinggal bersama pastur dan seorang biarawan di sebuah katolik. Saat itu, umurku baru 22 tahun dan penuh keingintahuan akan hidup. Aku belajar bahasa penduduk sekitar, bahasa Tsawana. Dengan begitu, pintu hati dan pintu rumah penduduk sekitar pun terbuka untukku.

            Teman baikku di sana bernama Sophie. Aku sedikit jatuh cinta kepada Sophie. Tetapi, dia telah dijodohkan dengan sepupunya, dan karena aku tinggal di biara, aku harus menghormati kehidupan selibat para pastor dan biarawan. Semua di desa menyangka bahwa aku salah satu biarawan dan menyapaku dengan “Saudara Peter”. Jika aku berhubungan dengan gadis Tsawana pasti menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak menyenangkan.

            Setelah kembali ke Jerman, aku kuliah Etnologi dan menyibukkan diri dengan berbagai hal, salah satunya pola pernikahan dan ritual-ritual perkawinan. Setelah lulus S2, aku mendapat pekerjaan sebagai wartawan di sebuah stasiun TV. Pekerjaan hebat tempat orang bisa memuaskan keinginan tahuannya. Sayangnya, aku sering kali meliput mengenai krisis mata uang euro, perumahan besar-besaran pegawai pabrik Opel, dan kekacauan akibat badai salju di Bandara Frankurt dibandingkan liputan mengenai budaya asing yang sudah kukagumi sejak pengalaman di Afrika Selatan.

            Ketika ada kesempatan untuk rehat dari pekerjaan, aku pun mengambilnya dengan sukacita. Aku membayangkan menjelajahi berbagai negara di dunia dengan mata terbuka. Banyak hal untuk dibicarakan, dan dipelajari baik dengan para ahli maupun penduduk biasa, baik yang bahagia maupun tidak bahagia, yang akan kutemui sepanjang perjalanan ini. Mungkin nun jauh di sana akan kutemukan altar kebajikan asmara yang akhirnya dapat memecahkan teka-teki misteri cintaku.

Dalam postingan berikutnya akan ada bagaimana caranya membuat bab 1 sebagai ‘kail’ dan seterusnya, karena itu jangan sampai ketinggalan. Happy Writing 🙂

Baca juga: Langkah demi Langkah Menulis Memoar (Part 2), Contoh memoar TV Berwarna Itu Sangat Hebat.

Advertisements

3 thoughts on “Life is a Journey. Langkah Demi Langkah Menulis Memoar (Part 1)

  1. Wow…menarik. Saya mau coba.

    Cuma ingin memperjelas.
    Jadi, tidak apa2 jika ceritanya tidak berurut?! Misal, hari ini saya cerita ttg 10 tahun yang lalu, dan besok saya cerita ttg sebulan yang lalu. Cerita ttg apa yang paling saya ingat.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s