Someone Like You…(Kisah Cinta Alfred Nobel)

Tak ada yang dapat menyamai keindahan musim gugur di kota Paris.  Sungai Seine yang mengalir jernih membiaskan kilau keemasan senja, sementara suara kecipak airnya turut meramaikan suasana petang. Namun pemandangan menakjubkan ini tak sanggup meredam kegalauan Alfred Nobel. Tangannya gemetar menggenggam selembar surat yang meruntuhkan dunianya. Kata-kata itu bernada lembut, tapi sangat menyakitkan. Setiap kali menyelesaikan satu baris, Alfred menarik napas, menatap bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggiran sungai Seine, berharap keindahannya dapat meredakan rasa sesak di hati, tapi siapa sangka itu semua tak berguna.

“Maafkan aku Alfred, tapi aku masih mencintainya. Kami akan menikah di Vienna.”

Seine 1Alfred ingin meremas-remas surat itu dan melemparkannya ke tempat sampah, tapi ia tak berdaya. Ia malah melipat dan memasukkannya kembali ke saku. Lama sekali ia terduduk di sana, hanya mematung dengan tatapan kosong, seandainya patah hati ada obatnya.

Seumur hidupnya, Alfred tak pernah dapat melupakan hari itu, hari ketika Bertha von Kinsky, sang pemilik hatinya pergi meninggalkannya dengan harapan yang menggantung di udara untuk menikahi orang lain.

Dan saat dia menyadari cintanya yang kuat terhadap Bertha, semuanya sudah terlambat. Alfred memang tak tahu bahwa ternyata cinta harus ditangani hati-hati sama seperti sebuah dinamit. Alfred bangkit, ia membetulkan letak topinya dan berjalan pulang dengan kehampaan. Bertha memang tak lagi berada di sisinya. Namun cinta tak akan mati semudah itu.

Never mind, I’ll find someone like you

I wish nothing but the best for you, too

Kata-kata itu adalah kata-kata yang tepat mewakili perasaan Nobel yang patah. Bertahun-tahun berlalu, dia tetap tak bisa melupakan Bertha. Bayangan seorang Bertha von Kinsky tak pernah keluar dari kepala seorang Milyuner jenius Alfred Nobel.

VIENNA 1876

Seorang wanita bangsawan setengah baya duduk di balkon rumah megahnya yang nyaris bisa dibilang seperti istana. Sambil menyeruput teh hangatnya dia membuka-buka lembaran surat kabar. Pagi itu  di Vienna, tahun 1876, dia terpaku melihat sebuah iklan :

Seorang pria kaya, berkelas yang tinggal di Paris, membutuhkan seorang wanita untuk menjadi sekertaris yang akan bekerja untuk mengurus bisnisnya. Dengan kualifikasi menguasai beberapa bahasa.

“Ini dia! Ini dia!” wanita itu hampir melompat seusai membaca. Semburat wajah lega tercermin di wajah angkuhnya. Telah lama dia mengkhawatirkan anak bungsunya yang tampan dan populer Arthur. Sejak dia jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Bertha von Kinsky, dirinya tidak pernah tidur dengan lelap.

Bagaimana tidak? Bertha von Kinsky benar-benar tak memenuhi syarat untuk menjadi bagian keluarga von Suttner yang terkenal di Vienna. Bertha von Kinsky memang berasal dari keluarga bangsawan, mendiang ayahnya juga adalah seorang marsekal. Namun, ibunya adalah penjudi yang menghabiskan uang keluarga, dan Bertha tidak hanya lebih miskin tapi juga tujuh tahun lebih tua dari Arthur.

Apa juga yang Arthur harapkan dari seorang guru! Tentu pernikahan mereka tak bisa dibiarkan. Bagaimana caranya memisahkan mereka? Kemudian matanya tertuju pada iklan tersebut. Sebuah pemberian dari Tuhan! Bertha benar-benar memenuhi kualifikasi. Dia berbakat, pandai, menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Italia, seorang yang mampu bersosialisasi, terlalu baik untuk seorang Arthur. Dan Paris cukup jauh. Cukup jauh untuk memisahkan mereka.

Usaha Ibunda Arthur, berhasil. Arthur dan Bertha sama-sama patah hati dan melewati perpisahan yang sangat menyedihkan. Bagaimana pun juga ada jurang yang lebar di antara mereka berdua. Dan Bertha tahu bahwa dia bukan orang yang diinginkan untuk menjadi bagian dari keluarga von Suttner.

Dia tak pernah bisa membayangkan dirinya hidup tanpa Arthur. Namun, kehidupan harus berlanjut. Bertha mengusap air matanya. Dia menatap koper dan tas yang akan dibawanya besok pagi-pagi sekali menuju Paris kemudian melemparkan pandangannya ke luar jendela kamarnya. Tak nampak apa pun selain kegelapan pekat—sama seperti yang dia rasakan.

PARIS 1876

Bertha von Kinsky Suttner

Bertha von Suttner

Senyum kota Paris menyambut Bertha, keindahan kota itu setidaknya membuat hatinya sedikit terhibur. Apalagi saat bertemu dengan pria terhormat yang akan menjadi atasannya. Namanya, Alfred Nobel. Seorang pria 43 tahun, dan merupakan kepala jaringan pabrik dinamit internasional. Dia seorang Swedia, orang yang sangat berkelas, sering bepergian, tapi saat ini dia menetap di Paris dengan sebuah tempat tinggal dan laboratorium di Avenue de Malakoff.

Saat pandangannya bertemu dengan Bertha von Kinsky, Alfred Nobel langsung menaruh perhatian padanya. Mungkin senyuman Bertha yang hangat sehangat mentari di tengah musim dingin yang panjang. Mungkin wajahnya yang seperti bunga yang merekah di keindahan musim semi. Entahlah, bagi Alfred Nobel tak ada wanita yang bisa mengobrol dengannya dan membuat percakapan hidup seperti yang Bertha dapat lakukan.

Semakin hari, hubungan antara Alfred dan Bertha semakin dekat. Mereka mengobrol seperti dua sahabat lama yang saling mengenal. Dan kian hari cinta seorang Alfred Nobel kian tumbuh pada sekertarisnya itu.

Hari itu, hari yang dingin di tengah musim gugur di Paris. Bertha segera meletakkan sarapannya, mengingat hari ini dia akan lebih sibuk karena Alfred sedang berada di Swedia untuk mengurus beberapa bisnis.

Namun, saat dia memakai mantelnya dan hendak beranjak pergi, dua telegram baru berada di kotak suratnya. Dari Alfred rupanya, yang memberitahu dirinya bahwa dia tiba di Stockholm dengan selamat.

Namun, jantungnya nyaris meledak keluar saat melihat nama pengirim telegram yang lain. Bertha mencoba mengatur napasnya dan kembali duduk.

“Aku tak dapat hidup tanpamu,” Arthur von Suttner menulis

Tanpa menunggu lama, Bertha membalasnya, “Jiwaku menangis, karena aku tak bersamamu.”

“Untuk apa aku berada di sini, jika orang yang paling aku cintai menungguku di Vienna!”

Bertha segera menjual berliannya yang berharga, membayar tagihan tempat tinggalnya, tiket kereta api. “Maafkan aku Alfred….,” tulis Bertha dengan sedih.

Dia meninggalkan Nobel dengan harapan yang hancur berkeping-keping.

Bertha menyusul Arthur ke Vienna. Mereka menikah sembunyi-sembunyi, lari ke Caucasus meninggalkan Nobel dengan hati yang patah.

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead……

Alfred Nobel 1

Alfred Nobel

Betapapun inginnya seorang Alfred Nobel melupakan Bertha von Kinsky, tapi dia tak mungkin pernah dapat melakukannya. Pada akhirnya Nobel merelakannya pergi, menerima kenyataan bahwa Bertha bukan miliknya. Namun, jika Bertha bukan untuknya maka setidaknya Bertha bisa menjadi sahabatnya. Mereka adalah teman ngobrol dan debat yang sangat cocok. Alfred tak ingin melepaskannya. Bahkan saat Bertha dan Arthur suaminya berkunjung ke Paris, Nobel menyambut mereka dengan baik.

Di Paris pada tahun 1887 Bertha pertama kali mendengar ada pergerakan perdamaian, yang berhasil menghentikan perang, dan dia memutuskan untuk mendedikasikan dirinya yang berbakat menulis untuk pergerakan ini. Hasilnya adalah Novel berjudul Die Waffen nieder! (“turunkan senjatamu”), diterbitkan pada 1889, tentang seorang wanita yang menderita tragedi demi tragedi selama perang di pertengahan abad 19. Buku tersebut sangat laris, dan diterjemahkan ke lebih dari selusin bahasa.

Karena Bertha, Nobel memiliki ketertarikan pada kedamaian dunia. Bagaimanapun juga, dia mengatakan kepada Bertha dalam suratnya, Mungkin pabrikku akan lebih mempercepat perang daripada kongresmu; pada saat dua tentara akan mampu saling membinasakan satu sama lain dalam sedetik, semua bangsa-bangsa yang beradab akan mundur dengan ketakutan dan membubarkan tentaranya. Beritahu aku, yakinkan aku, dan aku akan melakukan sesuatu yang besar untuk gerakan ini.

Pada September 1895 Bertha membalas surat Nobel, “…bukan karena penulisnya, tapi untuk pekerjaan yang disayanginya: buanglah surat ini ke tempat sampah, tapi simpanlah isi surat ini dalam hatimu: di sini seorang wanita terlepas dari ketidakpedulian dan menghadapi idenya yang berlawanan, tekun dalam tugasnya, dan seorang wanita yang mempercayaiku.”

Membuang suratmu? Ya ampun…Bertha, kau masih saja tidak mengenalku!. Alfred terkekeh geli. Sampai hari ini surat Nobel tetap tersimpan di Royal Library di Stockholm.

Dua bulan setelah menerima surat Bertha, pada November 1895, Nobel merevisi kembali wasiatnya. Bahwa pemasukannya yang terbesar akan digunakan untuk hadiah bagi pemenang nobel perdamaian dan empat lainnya untuk ilmu pengetahuan dan literatur.

PARIS 1896

Paris 1Paris tampak lebih muram dari biasanya. Musim dingin yang panjang bagi seorang Nobel karena dia terbaring sakit dan tak berdaya. Surat-suratnya pada Bertha mulai berkurang. Di bulan November Bertha menulis pada surat terakhirnya untuk seorang Alfred Nobel sahabatnya.

“Berikan sebuah hati pada Archimedes dan berikan satu juta kepada badan perdamaian internasional; itu akan membangkitkan dunia. Kemudian, aku memohon kepadamu, tanganku bergabung denganmu dengan permohonan, tak pernah menarik kembali dukunganmu terhadap kami—tak pernah, bahkan sampai kau mati, di mana hal itu menunggu kita semua.”

10 desember 1896, di musim dingin yang menusuk tulang. Sebuah berita menyesakkan sampai di telinga Bertha von Suttner. Sahabatnya yang tercinta Alfred Nobel telah meninggalkannya untuk selamanya.

Bertha adalah inspirasi Nobel untuk memberikan hadiah nobel untuk perdamaian. Akhirnya Bertha menerima hadiah nobel perdamaian yang ke lima pada tahun 1905. Sebuah persahabatan antara penemu Swedia dan Bangsawan Austria yang menjawab iklan pekerjaannya yang mampu mengubahkan dunia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s