Menulis Cerpen: 6 Hal yang Harus Ada Dalam Cerpen

Menulis cerita pendek mempunyai resiko lebih rendah untuk tersesat dalam alur yang berbelit-belit dibandingkan novel. Tapi bukan berarti Anda tidak perlu melakukan proses revisi. Ada argumen yang mengatakan bahwa menulis cerpen membutuhkan kerja lebih berat karena kata per kata akan lebih diawasi. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dalam cerpen.

Sebuah kalimat yang kendor dalam novel, meskipun menjengkelkan, tidak akan membuat pembaca menutup buku Anda. Tapi dalam cerpen, jika hal itu terjadi maka cerpen Anda akan langsung mati di hadapan pembaca. Karena itu diperlukan cakupan yang padat dalam sebuah cerpen. Berikut adalah hal-hal yang harus tercakup dalam sebuah cerpen:

1. Sebuah masalah/ konflik yang dikembangkan sebagai cerita (plot)

Sebuah cerita dibangun dari konflik dan ketegangan. Tanpa masalah atau konflik cerita Anda tidak akan bergerak ke depan. Tentukan konflik yang karakter utama Anda alami.

2. Sebuah resolusi dari konflik/ masalah tersebut (klimaks)

Jika Anda memulai dengan satu konflik pastikan untuk membuat resolusi dalam cerita, jika tidak, pembaca akan bingung bagaimana cerita itu berakhir. Kecuali Anda menulis cerita art yang absurd dan penuh simbol. Tapi cerita absurd pun memiliki ending kisah meskipun itu sebuah open ending.

3. Sebuah kesimpulan (yang terjadi setelah klimaks)

Apa yang terjadi setelah resolusi atau klimaks akan berada di kepala pembaca Anda. Untuk kesimpulan yang samar-samar atau tidak menjawab konflik, dapat membuat mereka bertanya-tanya: Apakah karakter Anda berhasil? Atau mati? Mengapa dia harus mati? Pada akhirnya, memang sebagai penulis kita tidak bisa menyenangkan semua pembaca, tapi Anda harus membuat kesimpulan yang meyakinkan sehingga meski tidak semua pembaca menyukainya, mereka tetap menghargai tulisan Anda.

camera writing 14. Visualisasi: Menunjukkan gambar dalam tulisan Anda

Sebuah visualisasi adalah salah satu cara penulis untuk dapat mengembangkan ide dalam tulisan. Sebuah gambar dalam tulisan menunjukkan detail kepada pembaca sehingga pembaca dapat melihat keseluruhan adegan. Penulis dapat menunjukkan gambar melalui detail, kata-kata yang konkret, atau bahasa puitis (seperti perumpamaan, misalnya).

Contoh:

Lampu itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Mama masuk ke dalam ruangan dan memperhatikan kerusakan itu. Dia memandang ke sekeliling dan dapat melihat kekacauan yang aku dan kakakku buat, aku tahu aku dalam masalah saat melihat matanya.

Tulisan di atas menggambarkan keadaan ruangan tersebut, sehingga pembaca bisa membayangkan bagaimana lampu yang jatuh pecah berkeping-keping dan berserakan.

5. Mengintip ke dalam pikiran: Menengok masuk ke dalam pemikiran karakter

Sebuah intipan pikiran ke dalam karakter/ tokoh adalah cara yang konkret untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan karakter kepada pembaca. Hal ini sangat penting untuk mengungkapkan kepribadian, motivasi, dan bahkan informasi kepada pembaca. Ini berfungsi untuk membuat karakter dalam cerita atau narasi pribadi menjadi realistis dengan menunjukkan apa yang mereka pikirkan.

Contoh:

Aku berjalan ke dalam kamar dan mulai merasa tidak enak. Semua yang bisa kupikirkan adalah bagaimana aku bisa tidak datang untuk mengunjunginya ketika dia sakit. Rasa bersalah mencengkeram, aku berjalan menuju laci dan mengambil sebuah kotak tua yang berisi buku-buku.

talking 1

6. Dialog

Dalam cerpen Anda dapat memutuskan apakah akan menggunakan dialog atau tidak. Jika Anda memilih untuk menggunakan dialog, pastikan dialog Anda to the point, mempunyai tujuan yang jelas dan sangat menarik. Karena dialog membutuhkan ruang yang lebih banyak. Berikut adalah kutipan dialog dalam prolog City of Heroes, menulis prolog usahakan singkat dan padat tapi mampu menarik perhatian, sama seperti ketika Anda menulis sebuah dialog dalam cerpen.

Contoh:

“Sudah kubilang, Tuan, aku hanya ingin bicara.”

“Bandit busuk! Rupanya kau tak tahu berhadapan dengan siapa!” van Der Vries menatapnya bengis.

Pemuda itu menyunggingkan senyuman dingin, “Tuan menyebut diri orang kepercayaan van Mook. Tapi aneh…nama Tuan tidak ada di semua buku sejarah pada zamanku.”

“Hentikan omong kosong ini sekarang juga! Atau kubuat kepalamu jadi bubur!” teriak Tejo, salah seorang ajudannya.

Tapi van Der Vries mengangkat tangannya, memberinya isyarat untuk menahan diri. 

“Tuan akan melihat bukti dari kata-kataku ini besok,” pemuda itu menyeringai, dia memandang ke arah jendela. Di luar sana, bendera Belanda berkibar-kibar dengan latar langit malam pekat. “Kalau Tuan pintar, Tuan akan meminta Ploegman untuk menurunkan bendera itu. Dia tidak sadar kalau dia telah menandatangani kematiannya sendiri.”

“Jadi kau datang demi para Inlander keparat itu?”

“Aku tidak punya urusan dengan revolusi Indonesia, Tuan. Kita ada di pihak yang sama, yang aku inginkan hanya sebilah pedang samurai. Tuan tentu tahu maksudku.”

Van Der Vries terperangah, pemuda berkulit pucat itu tersenyum puas.

“Apakah tentara Kaigun itu yang mengirimmu?”

“Kalau yang Tuan maksud Ryoji Asano, dia sudah mati.”

“Mati? Bagaimana bisa?”

Pemuda itu mengedikkan bahunya, “Entahlah..mungkin karena pedang terkutuk itu.”

“Siapa kau sebenarnya?”

“Sudah kubilang Tuan, aku Zabieru. Aku datang dari masa depan.”

 

Copyright © 2017. Indonesian Writers Club

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s