9 Hal yang Anda Lakukan Saat Menulis Fiksi Sejarah Pertama Kali

Pertanyaan terbesar dalam menulis fiksi sejarah adalah “Harus mulai dari mana?” Kemudian disusul serangkaian pertanyaan “Apa yang terjadi selanjutnya?” hingga cerita berakhir. “Bagaimana endingnya?”

Dalam menulis fiksi sejarah, pada dasarnya memiliki arah yang sama dengan fiksi bergenre lain yaitu perjalanan karakter. Jika cerita adalah perjalanan perubahan karakter dari situasi awal dan kepribadian awal mereka, menuju situasi dan kepribadian akhir mereka, maka alur atau plot adalah rute dari perjalanan yang karakter ambil. Dengan kata lain, kisah yang dituturkan dalam cerita Anda adalah tentang siapa Sang Hero yang Anda perkenalkan di awal cerita, mengapa dan bagaimana dia bertindak, bagaimana dia bereaksi terhadap hambatan, bagaimana dia berubah, dan siapa dia pada saat akhir cerita.

Dari Mana Kisah Berawal?

Cerita dapat datang dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang berupa potongan adegan-adegan yang spesifik dalam imajinasi Anda, kadang dalam bentuk karakter utama terlebih dahulu sehingga Anda perlu menemukan perjalanannya. Kadang-kadang justru dunianya yang terlebih dulu datang sehingga Anda harus menggali lebih dalam. Namun inspirasi apapun yang datang kepada Anda pertama kali, sebagai penulis Anda harus tahu bahwa Anda tidak dapat membuat cerita yang menarik tanpa mengetahui apa yang karakter Anda inginkan. Apa masalah mereka, dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin Anda lakukan ketika menulis cerita fiksi untuk pertama kalinya:

1.    Menulis bebas: Menulis apa saja yang terbersit dalam pikiran Anda. Terkadang ketika merasa buntu, saya (Ellen) akan menuliskan apa saja yang terbersit di benak saya, biasanya saya langsung membuka laptop atau mengambil kertas dan mencoret-coretnya, tidak jarang loh dengan melakukannya saya malah menyelesaikan satu tulisan baru.

writing 2

2.    Menggambar peta lokasi: Ini menjadi penting jika Hero Anda harus melewati rumah mantan kekasihnya untuk mencapai rumah sahabatnya. Atau ketika dia harus melarikan diri dari kejaran-kejaran penjahat.

3.    Menggambar sketsa bangunan nyata dan imajinasi: Ini diperlukan bukan hanya untuk para penulis novel crime yang harus tahu di mana pintu keluar dari gudang bawah tanah melalui saluran air. Sketsa bangunan dapat menolong Anda mendeskripsikan ruangan dan membangun mood tulisan.

4.    Menggambar mind mapping pohon keluarga, sahabat dan rekan, termasuk bagaimana perasaan orang-orang tentang satu sama lain: Cinta, persaingan yang tidak sehat, pengkhianatan, drama keluarga tentu memerlukan daftar silsilah sehingga Anda bisa mengotak-ngotakkan karakter berikut dengan konfliknya.

5.    Mengilustrasikan para karakter Anda: Jika Anda bisa menggambar, ini adalah cara yang baik untuk membiarkan karakter dan setting benar-benar hidup. Atau Anda bisa mengumpulkan foto-foto atau gambar yang dapat membangkitkan karakter-karakter Anda.

timeline6.    Garis waktu (Timeline): Dengan metode ini, Anda dapat memasukkan latar belakang karakter Anda, pada masa mereka kanak-kanak, sekolah atau pada saat perang, juga peristiwa sejarah nyata yang berjalan di latar belakang cerita Anda harus tercatat dalam satu timeline.

7.    Sinopsis: Bukan hanya ditulis pada saat Anda mengirimkan tulisan Anda. Satu kalimat dapat menjadi garis dari fokus Anda. Saat Anda sudah terlalu jauh berputar dalam alur, Anda bisa kembali melihat sinopsis untuk menetapkan fokus Anda.

8.    Treatment: adalah bentuk lebih detail dari sinopsis per bab tanpa dialog. Treatment dapat membuat Anda melihat poin-poin yang hilang (Missing Point) dalam cerita, sehingga Anda dapat memecahkan masalah tersebut terlebih dahulu sebelum melompat ke dalam cerita. Dalam jangka panjang, penulis yang menulis treatment jarang merombak draft pertama mereka habis-habisan, karena mereka merencanakannya dengan detail sebelum masuk ke tahap penulisan total.

Contoh treatment:

soldier 3“Johan tertangkap hidup-hidup oleh tentara Inggris. Semua senjatanya dilucuti. Mereka membawanya ke dalam sebuah lubang perlindungan yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit. Letnan Robert, salah satu pemimpin mereka menghajarnya untuk mengorek informasi, tapi Johan tetap tutup mulut dan tidak bersedia mengkhianati Republik. Ketika malam tiba, Johan berhasil melarikan diri. Dia tertembak dan terluka, tapi berhasil bersembunyi di pematang sawah hingga akhirnya ditemukan oleh seorang petani beberapa jam kemudian……”

Dari treatment di atas, kita menemukan poin yang hilang (missing point), yaitu: Bagaimana Johan melarikan diri jika semua senjatanya dilucuti?

Missing point ini harus dipecahkan terlebih dahulu sebelum menuliskannya dalam bentuk cerita yang sesungguhnya. Misalnya, Johan berhasil menyembunyikan senjata ketika para prajurit yang menangkapnya lengah, atau dia menipu salah satu penjaga dan berhasil mencuri senjatanya.

9.    Naskah Mentah (Draft): adalah bentuk tulisan dari sebuah novel yang sesungguhnya. Tulisan ini sudah benar-benar menyerupai novel, atau dapat dikatakan naskah novel secara kasar.

Anda tentu saja dapat mengaplikasikan sembilan hal di atas dalam fiksi-fiksi lain selain fiksi sejarah. Tapi perhatikan juga ciri-ciri khas setiap genre fiksi yang tidak bisa diaplikasikan dengan genre lain. Dalam genre romance misalnya jelas memiliki perbedaan dengan historical fiction dalam hal menyisipkan peristiwa sejarah dan tokoh sejarah yang nyata masuk ke dalam alur cerita.

Copyright: © 2017. Indonesian Writers Club

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s