4 Hal yang Harus Dimiliki Hero (karakter utama Laki-laki) dalam Fiksi Sejarah.

Salah satu tantangan menulis fiksi sejarah adalah fakta sejarah yang dapat membuat cerita lebih kompleks. Sehingga karakter utama laki-laki (Hero) harus menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi dalam peristiwa sejarah yang menjadi latar belakang cerita. Cerita Anda haruslah tentang pertaruhan antara kemenangan atau bencana, sehingga pembaca akan terus-menerus memegang buku Anda.

Dan karakter-karakter penting dalam novel Anda tidak harus selalu manis dan wajar; malahan terkadang mereka harus merasa tidak yakin atau jengkel. Pembaca harus merasakan sisi manusiawi mereka, baik dalam kelebihan maupun kekurangan. Apa yang kita butuhkan adalah karakter yang menarik, BUKAN manis dan menyenangkan.

Perhatikan bagaimana Pramoedya Ananta Toer memperkenalkan karakter Minke, Sang Hero dalam Bumi Manusia:
“Orang memanggil aku: Minke. Namaku sendiri…sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila Misteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di mata orang lain.”

Bumi Manusia

Karakter Minke menarik perhatian semata-mata karena namanya, caranya bercerita dan sikapnya yang pemberontak.

Dalam cerita Anda, Sang Hero akan melewati perjalanan dari awal hingga akhir. Nah apa yang harus Hero Anda miliki dalam perjalanan tersebut:

1.    Konflik Utama

Anda boleh saja menuliskan peristiwa perang yang seru seperti penculikan Soekarno-Hatta ke Rengas Dengklok. Tetapi kisah itu hanya akan seperti teks sejarah jika Hero Anda tidak mengalami konflik personal. Apa itu konflik? Konflik tidak hanya berarti Hero Anda punya musuh. Tapi dia harus memiliki masalah atau pencarian batin yang baru dapat diselesaikan jika dia melewati alur cerita yang diciptakan penulis.

Ketika kami menciptakan karakter Orion, konflik utama dalam City of Heroes bukanlah mengapa Inggris membom Surabaya. Tetapi kemarahan Orion yang terpendam selama bertahun-tahun tentang ayahnya:

“Seperti arus yang mengalir di dalam pembuluh darah seseorang? Apakah itu yang dirasakan ayahnya? Tapi ke manakah Sang Pahlawan ketika putranya sendiri sangat membutuhkan kehadirannya? Batin Orion pedih, yang dia ingat dari ayahnya hanyalah sepenggal artikel koran tentang kematiannya yang heroik berjudul, The Most Wanted Hero.”

2.    Energi Dan Aksi

Seorang Hero harus menggunakan energi mereka, Anda harus menempatkannya ke dalam situasi yang membuatnya bertindak. Bahkan Hero yang awalnya bersifat pasif atau hanya reaktif terhadap persoalan yang datang padanya pun, pembaca perlu merasakan bahwa ada energi laten yang akan muncul suatu saat di dalam cerita.

Respon terhadap situasi baru tersebut harus tak terduga dan meyakinkan. Terutama dalam cerita fiksi sejarah. Jika Hero Anda adalah seorang priyayi yang dibesarkan Belanda, Anda harus menyetir sedemikian rupa mengapa dia menggunakan energinya untuk pada akhirnya melawan Belanda, misalnya.

3.    Masalah, hambatan, dan tindakan

climbing 1

Alasan para tokoh dalam cerita untuk bertindak harus benar-benar kuat, bahkan jika itu tindakan yang sederhana. Karakter Hero dibangun dari tekanan dan hambatan. Hero mengalami situasi tertekan. Mereka tidak punya jalan lain selain berjuang dan mempertaruhkan segalanya. Dalam fiksi sejarah misalnya, Hero harus berperang, terancam dihukum mati atau dipenjara, apa yang membuat mereka mau mempertaruhkan seluruh kehidupannya? Jadi membangun karakter Hero adalah tentang memutuskan:
•    Menjadi orang seperti apakah yang dia butuhkan?
•    Apa masalah yang mungkin Anda berikan sehingga dia harus bertindak?
•    Apa kendala yang akan memaksanya untuk mempertaruhkan segalanya?

Contoh tekanan dan hambatan: Hero Anda memiliki penerbitan koran.Tiba-tiba pada saat Jepang masuk, koran dibredel dan seketika semua berubah, koran Anda dan semua pekerja dicap sebagai orang sesat dan pemberontak. Apa yang akan dia lakukan untuk melawan?

4.    Perubahan dan pertumbuhan

Merencanakan pertumbuhan Hero Anda merupakan hal yang sangat penting. Siapa mereka di akhir cerita nanti jauh lebih penting dari pada apakah musuh mereka kalah atau menang.

Akhir seperti apa yang pembaca harapkan dan takutkan terjadi? Apakah dia menemukan apa yang dibutuhkannya? Apakah dia bertumbuh dan menemukan kebijaksanaan baru? Apakah dia bersatu dengan cinta sejatinya? Jika tidak, mengapa? Apakah dia berhasil menyelamatkan kotanya, atau tidak? Apakah pembunuh keluarganya ditemukan dan keadilan ditegakkan, atau tidak?

Imajinasi Anda harus dimulai di satu ujung dan diakhiri di ujung yang lain. Jangan memulai cerita tanpa mengetahui akhirnya, itu hanya akan membuat Hero Anda berputar-putar dalam alur yang tidak punya tujuan.

Copyright: © 2017. Indonesian Writers Club

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s