Chicago Ways : Traveling ke Kota Al Capone

Langit biru jernih yang menaungi Kota Chicago tampak bermandikan sinar matahari. Semilir angin yang berhembus lembut di pinggiran kanal Chicago River membuat musim panas terasa lebih dingin dari seharusnya sehingga saya tidak merasa “salah kostum” dengan memakai sweater di musim panas. Bagi warga Amerika sendiri, Chicago memang terkenal dengan julukan “The windiest city” dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan Danau Michigan sehingga menciptakan aliran udara yang berhembus kencang dengan kecepatan rata-rata 16 km/jam. Jangankan turis yang datang dari negeri tropis seperti saya, bahkan warga lokalpun banyak yang mengenakan cardigan.

al-caponeSeperti para penggemar film Hollywood lainnya, saya mengenal Chicago lewat film The Untouchables yang membingkai kisah hidup mafia legendaris Al Capone. Film yang dibintangi aktor ternama tahun 1987, Robert De Niro ini mempopulerkan istilah “Chicago Way” yang membuat ibu kota negara bagian Ilinois ini identik dengan citra kekerasan para gangster. Namun ketika saya tiba di kota ini, gambaran Al Capone dibenak saya mendadak lenyap. Di sepanjang perjalanan dari bandara internasional O’hare ke tempat penginapan saya, Chicago terlihat tenggelam dalam ketenangan. Orang-orang yang lalu lalang terlihat menikmati keindahan sekitar, dari yang sekedar membawa anjingnya jalan-jalan, keluarga kecil yang piknik bersama di rerumputan hingga anak-anak kecil yang bermain frisbee. Tak ada tanda-tanda kehadiran mafia maupun adegan baku tembak seperti di film-film.

Water Tour Keliling Chicago

chicago-cruiseRupanya angin kencang yang bertiup di Chicago bukan hanya disebabkan oleh letak geografisnya. Menurut ahli topografi kenamaan Amerika, Albert Lea, para insinyur dan arsitek yang membangun gedung-gedung tinggi di kota ini tidak memperhitungkan faktor angin yang akan teralih “menyapu jalanan.” Chicago memang memiliki banyak gedung pencakar langit dengan desain arsitektur yang megah, yang menjadi objek wisata menarik di kota ini.

Chicago cruise line, misalnya menawarkan tur keliling kota dengan perahu menelusuri Chicago river yang bermuara di danau Michigan dengan tarif sekitar $10 hingga $25 tergantung jenis perahu yang ditumpangi. Cara yang santai dan juga cerdas untuk belajar tentang sejarah aritektur kota Chicago. Dalam musim liburan ada banyak tawaran diskon. Saya beruntung mendapatkan tiket hanya seharga $5. Dengan tarif semurah itu saya mendapatkan perahu bertingkat dua yang  tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. kursi-kursi lipat disusun rapi, ada pula bangku-bangku panjang yang ditempatkan di kanan kiri di tepi perahu.

Selama 40 menit perjalanan, saya menikmati angin musim panas yang tetap terasa sejuk dan suara deru perahu motor yang menelusuri sungai yang jernih. Saya merasa miris ketika teringat dengan sungai Ciliwung di Jakarta. Seandainya tidak ada polusi dan sampah, sungai ciliwung yang menjadi saksi sejarah penyerbuan tentara Sultan Agung ke kota Batavia juga berpotensi menjadi objek wisata.

Pemimpin tur kami, Mike John, seorang pria dengan rambut memutih masih tampak bugar untuk ukuran usianya. Ia menceritakan kisah historis gedung-gedung yang berjejer di kanan-kiri kanal dengan gegap gempita. Kami melewati gedung Civic Opera House yang dibangun sejak tahun 1929. Setiap bulannya festival film internasional digelar secara gratis di tempat ini. Dari kejauhan saya juga dapat melihat Willis Tower, gedung tertinggi di Amerika yang memilik tempat observasi di lantai 103 yang terkenal dengan nama Skydeck, yang setiap tahunnya menyedot 1,3 juta pengunjung. Sebuah lift akan mengantar pengunjung ke atas hanya dalam waktu satu menit sehingga para turis dapat merasakan sensasi perubahan tekanan udara secara drastis. Konon Wilis tower lah yang menjadi inpirasi pembanguan gedung Petronas di Malaysia.

Setelah puas berfoto ria, saya sempat berkenalan dengan turis-turis lokal, Helen dan Mary. Kedua wanita yang berasal California ini sangat ramah. Kami bertukar cerita seputar objek wisata di Indonesia dan trend arsitektur di kota Al Capone.

Trend Wisata Arsitektur

lyodYang membuat saya takjub, penduduk lokal Chicago sangat familiar dengan nama-nama arsitek yang membangun gedung-gedung lebih dari seabad yang lalu. Topik arsitektur bukanlah hal yang asing. Arsitektur telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Kota Chicago sendiri memang mencerminkan sejarah arsitektur modern Amerika. Semua berawal dari peristiwa kebakaran besar pada tahun 1871, yang menghancurkan area sepanjang 4 mil. Sejak saat itu para arsitek mulai menciptakan bangunan “pencakar langit” berstruktur baja yang mengesankan di dunia. Para kritikus menyebutkan bahwa tidak banyak kota yang diwujudkan dalam bentuk sebuah karya seni dalam desain aritektur yang menjulang tinggi dan modern yang semencolok Chicago. Hampir semua arsitek terkenal mempunyai gedung ciri khas mereka di sini.

Frank Lloyd WrightSalah satu arsitek yang sangat terkenal di Chicago bahkan di seluruh Amerika, adalah Frank Lloyd Wright. Gaya arsitek kelahiran Madison ini menganut konsep organik yang disebut gaya Prairie Houses atau rumah liburan. Salah satu karya Wright yang dianggap “masterpieces” adalah rumah Frederick Robie di Chicago. Rumah Robie sangat terkenal karena menggunakan atap cantilever yang melayang dengan didukung oleh saluran baja sepanjang 34 m. Frank Lloyd Wright, membangun banyak gedung yang unik dan ramah lingkungan di Chicago. Menurut Frank, dengan mempelajari alam, mencintai alam dan tetap dekat pada alam, maka alam tidak akan pernah mengecewakanmu.

Inspirasi dari “Chicago Way”

Tidak seperti banyak kota metropolitan di dunia, Chicago cenderung memiliki jalan-jalan yang lebih luas. Mungkin untuk mengurangi efek tenggelam oleh gedung-gedung pencakar langit. Sebagian besar jalan-jalan perumahan kota kebanyakan memiliki rumput dan pohon yang terletak antara jalan dan trotoar untuk melindungi para pejalan kaki dari lalu lintas kendaraan. Saya membayangkan jika hal yang sama diterapkan di Jakarta, maka gedung-gedung di sekitar Sudirman dan Thamrin juga dapat dijadikan wisata arsitektur. Gedung-gedung peninggalan Belanda di wilayah kota tua dapat menjadi tempat tur historis yang mengesankan bila dikelola dengan baik.

Tentunya jika masalah kemacetan dan polusi harus dibenahi terlebih dahulu. Tidak ada salahnya kita belajar dari “Chicago way.”

(Sofie Madison)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s