Sore Hari Bersama Sang Veteran

Sore hari itu, waktu bersama seorang veteran perang, telah mengubah hidup dan cara pandang kami sebagai penulis. Novel City of Heroes yang kami perjuangkan selama tiga tahun adalah saksinya. Novel ini  kami dedikasikan bagi almarhum Pak Hario Kecik dan semua pejuang Indonesia yang telah mengorbankan segalanya bagi perang kemerdekaan Indonesia.

Saya dan rekan saya Ellen merasa beruntung mengenal sosok Pak Hario Kecik. City of Heroes sesungguhnya terinspirasi dari hasil wawancara saya dengan Bapak Suhario Padmodiwiryo (alm) atau yang akrab dengan sapaan Hario Kecik untuk liputan peringatan Hari Pahlawan di Koran Jakarta Post. Pak Hario yang saat itu telah menginjak usia 92 tahun terlihat masih segar dan bersemangat. Sambil memperlihatkan bekas luka tembak yang beliau banggakan, buku-buku karyanya dan lukisan-lukisan pertempuran hasil karyanya yang menghidupkan masa lalu, beliau bercerita dengan seru. Sesuatu yang tidak pernah kami dengar selama belajar sejarah di bangku sekolah.

Dan tiba-tiba saja peristiwa 10 November 1945 hidup kembali. Mendengar cerita dari seorang veteran perang terasa bagai ditarik ke masa lalu. Seperti mendengar dan melihat kembali suasana Surabaya yang heroik di depan mata. Ini kisah yang hebat, tak kalah menegangkan dengan film-film action zaman ini.

hario-kecik-mudaPak Hario bercerita, bukan hanya tentang suasana Surabaya yang panas setelah proklamasi kemerdekaan atau aksi spionase yang menegangkan, atau tentang bagaimana para pemuda berhasil merebut lebih dari 144.000 pucuk senjata dari gudang senjata Jepang untuk persiapan perang melawan sekutu. Tetapi cerita itu juga sangat manusiawi, tentang bagaimana rasanya memegang senjata dan belajar menembak untuk pertama kalinya, bagaimana rasanya harus menghadapi para tentara Inggris pemenang perang dunia kedua sementara kita sendiri belum punya tentara, bagaimana mengikhlaskan kepergian para sahabat yang gugur di medan perang, tentang pengkhianatan, cinta sejati, kisah sedih, lucu dan romantis di tengah hiruk-pikuk pertempuran. Kisah-kisah yang sangat khas anak muda yang jauh dari kesan membosankan. Cerita-cerita ini akhirnya menginspirasi kami untuk meracik sebuah kisah fiksi, yang menghadirkan peristiwa 10 November dalam nuansa yang lebih modern.

Lewat kisahnya yang segar dan menyentuh, Pak Hario membagikan makna heroisme yang sangat berharga. Tanpa menggurui, beliau membuat kami terhenyak dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terpikirkan sebelumnya. What does it mean to be a hero? What does the Heroes Day mean to you personally?

Setelah merencanakan penulisan novel City of Heroes, saya pun mengabari Pak Hario untuk dukungan beliau. Beliau menyambut baik dan memberikan buku Pertempuran Surabaya hasil tulisannya sebagai referensi. Boleh dikatakan saya dan Ellen membaca buku tersebut puluhan kali. Kami, terkesan dengan gaya berceritanya yang blak-blakkan. Ketika bertemu dengannya dalam acara launching Novel Patriot karya sahabat saya, Bu Irma Devita, Pak Hario masih terlihat segar dan bersemangat. Saya pun masih sempat bertanya beberapa hal tentang peristiwa penyerbuan Markas Kempeitai pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1945 kepada beliau.

Dua tahun lalu, saya menerima kabar dari sahabat saya,  Mas Ady bahwa beliau kritis di Rumah Sakit. Saya dan Ellen pun bergegas menjenguknya. Saya ingat, hari itu, tepat tanggal 17 Agustus. Melihat Pak Hario terbaring tak sadarkan diri, kami merasa sangat sedih, juga terharu karena hari itu Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan. Kami berdua pun disambut oleh keluarga beliau. Ketika kami bercerita tentang kisah-kisah pertempuran Surabaya, tak disangka, Pak Hario sempat sadar dan membuka mata sesaat. Saya sempat bicara sebentar pada beliau,bertanya apakah beliau mengingat saya.

Saya ingin sekali mengundang Pak Hario pada saat novel ini launching. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pak Hario telah berpulang ke hadirat Ilahi pada tanggal 19 Agustus 2014 pada usia 93 tahun. Jenazah beliau sempat disemayamkan di Tugu Pahlawan, sebelum akhirnya dimakamkan di Surabaya, kota yang beliau perjuangkan dan cintai.

Kami ingin kisah-kisah sejarah yang pernah dituturkan para veteran yang kami wawancarai hidup kembali. Kami ingin kisah ini abadi dan tidak dilupakan selama Indonesia masih berdiri. Kami ingin para remaja yang hidup di zaman modern kembali terinspirasi dengan apa yang dilakukan para pendahulu mereka.

Para pejuang muda di masa lalu mungkin bertempur tanpa pengalaman. Namun, meminjam kata Pak Hario, semua strategi militer yang rumit telah diperas dalam satu semboyan, “Merdeka atau Mati.” Betapa bangganya kami berdua mendengarnya.

Bagi kami, hari pahlawan bukan hanya menjadi peristiwa bersejarah bagi Surabaya, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada akhirnya, novel ini ingin membawa kita pada satu perenungan. What does it mean to be a hero? What does the Heroes Day mean to you personally?

Ingin merasakan ketegangan dan keharuan dalam cerita novel ini? Silakan baca cerita bersambung City of Heroes di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s