8 Film Dokumenter Yang Wajib Kamu Tonton

Everyone has a story to tell. Dan film dokumenter adalah salah satu medium untuk merealisasikan kalimat di atas. Movie Lovers, selama ratusan tahun sejak 1895 di mana Lumiere Brothers pertama kali menunjukkan gambar bergerak tentang orang biasa yang hidup di dekat pabrik di Lyons, film dokumenter telah mempesona penonton dengan kisah yang penuh harapan, terhubung dan mengikat penonton. Sejak pertama kali menonton dokumenter, saya terpikat dengan genre film ini, bahkan memutuskan untuk membuat thesis tentang film dokumenter. Mengapa? Karena bagi saya, documentary is about us. It is about our fragile world. It is about life—the simplicity and also its complication and the beauty of it.

Dari semua film dokumenter yang pernah saya tonton, saya membuat daftar film yang bisa membuat kita melihat dunia dengan sudut pandang berbeda. Tapi bukan berarti daftar ini adalah segalanya, karena saya belum sempat menonton semua film dokumenter, dan saya menantikan rekomendasi dari Movie Lovers tentunya.

 1. The Thin Blue Line

thethinErrol Morris adalah filmmaker yang sejak awal mengadaptasi teknik film fiksi ke dalam dokumenter buatannya. The Thin Blue Line mungkin adalah salah satu film dokumenter yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat. Film ini bercerita tentang Randall Adams yang didakwa membunuh seorang petugas polisi di Dallas Texas pada tahun 1976. Adams sedang menunggu hukuman mati ketika fakta baru diungkapkan oleh Errol Morris bahwa Adams bukanlah pembunuh polisi tersebut. Namun David Harris seorang kriminal yang dibebaskan adalah pembunuh yang sebenarnya.

Karena kesalahan dan biasnya masyarakat pada saat itu, Randall Adams harus berada di dalam penjara. Pada akhirnya dokumenter The Thin Blue Line membebaskan Adams dari semua tuduhan.

Gaya reportase yang menakjubkan dari Errol Morris, bagaimana dia berhasil menggabungkan fakta dan teknik fiksi untuk mengeluarkan kebenaran adalah sesuatu yang saya pikir tidak ada seorang pun bisa melakukannya selain Errol Morris.

2. Roger and Me

rogerRoger and Me adalah salah satu dokumenter favorit saya yang menggunakan prinsip handheld camera. Michael Moore mengejar presiden General Motors, Roger Smith untuk melihat apa yang terjadi di kota Flint, Michigan setelah pabrik General Motors ditutup dan dipindahkan ke Mexico karena kebijakan Smith. Sementara masyarakat Flint hidup dari pabrik tersebut. Akibatnya gelombang krisis sosial ekonomi terjadi. Dokumenter ini menceritakan bagaimana masyarakat Flint menghadapi hilangnya mata pencaharian mereka, juga bagaimana mereka bangkit dari krisis.

Gaya bercerita Michael Moore yang komedi satir, selalu berhasil menggelitik dan juga menyentuh penonton dalam sisi kemanusiaan. Tidak ada yang mengalahkan spontanitas Michael Moore dalam mengambil materi, interview, sehingga kita dapat melihat bagaimana humor, juga pilihan-pilihan ‘lucu’ dari para penduduk Flint, yang sebenarnya sedih jika mengingat mereka kehilangan begitu banyak. Apalagi saat Moore berhasil membandingkan malam natal Roger Smith dengan malam natal warga Flint di antara perjuangan mereka.

3. March of Penguins

penguinSutradara Prancis Luc Jacquet dan timnya, membutuhkan waktu setahun penuh untuk membuat film ini. Mereka berada di tempat terdingin dan paling kering di bumi yaitu benua antartika. Mereka merekam siklus tahunan penguin Emperor, setelah sang betina memberikan telur besar mereka kepada sang jantan untuk dikumpulkan ke dalam lipatan perutnya. Demi melindungi telur dari es, kemudian mereka akan berdiri di situ selama dua bulan tanpa makanan, air, meringkuk dalam kegelapan total bersama dengan para ayah lainnya.

Sementara itu, para ibu, berbaris berjalan menuju laut untuk mencari makanan yang akan mereka bawa ketika musim semi tiba. Saat para betina kembali, mereka akan menemukan pasangan mereka di antara lautan jantan tanpa keliru, dan langsung mengenali anak mereka yang bahkan belum pernah mereka lihat. Namun adakalanya, telur mereka tidak dapat bertahan hidup di tengah cuaca nan ekstrim. Dan itu adalah kehilangan yang tragis.

Film ini adalah sebuah kisah cinta, persis dengan narasi yang dikatakan oleh Morgan Freeman dalam film ini. Dan siapa pun akan mencintai penguin setelah menonton film ini. Tidak percaya? Coba saja tonton.

4. Letters to Ali

letters-to-aliBukan saat ini saja penanganan pengungsi dan pencari suaka menjadi salah satu hal yang paling dikritik di Australia. Pada Oktober tahun 2002, Clara Law sutradara asal Hong Kong yang menetap di Australia, membaca sebuah artikel tentang Ali (bukan nama sebenarnya), seorang remaja pencari suaka dari Afghanistan. Clara Law dan partnernya Eddie Fong memutuskan untuk membuat film dokumenter ini, tentang keluarga Australia biasa yang berkomitmen untuk membantu Ali. Mereka berkendara menuju pusat detensi pencari suaka di Port Hedland. Keluarga Australia yang terdiri dari Trish Kerbi, seorang dokter dan suaminya Rob Silberstein juga empat anak mereka telah berkorespondensi dengan Ali selama 18 bulan.

Film ini menggunakan sumber daya yang terbatas, Clara Law dan Fong tidak dapat memfilmkan Ali karena kamera tidak diijinkan masuk ke dalam pusat detensi. Law tidak kehabisan akal, dia menggunakan pendekatan seni dan puitis dalam teks dan judul, Penonton dapat mengetahui kengerian di pusat detensi yang digambarkan oleh Trish, Rob dan anak-anak mereka. Film ini secara langsung menarik perhatian bagi semua warga Australia, menggelitik hati nurani dan rasa kemanusiaan.

5. Born into Brothels

born-into-brothelsBorn into Brothels adalah sebuah film dokumenter dengan latar belakang sebuah Yayasan non-profit Anak dengan Kamera. Bertujuan untuk mengajarkan keterampilan fotografi untuk anak-anak dari masyarakat kaum marjinal. Pada tahun 1998, fotografer yang berbasis di New York, Zana Briski mulai memotret para pelacur di distrik merah Calcutta. Zana akhirnya mengembangkan hubungan dengan anak-anak mereka, yang terpesona oleh peralatannya.

Setelah beberapa tahun belajar dengan Zana, anak-anak mampu mengahasilkan foto-foto mereka sendiri. Foto-foto mereka mengungkapkan warna kehidupan mereka sehari-hari di Calcutta. Zana juga mengusahakan pameran fotografi untuk anak-anak di Belanda. Pengalaman pertama kalinya mereka keluar negeri atau bahkan menginjak dunia luar selain lingkungan mereka.

Film ini adalah potret tentang anak-anak yang terlupakan, di sebuah tempat pelacuran yang kumuh. Anak-anak yang ditakdirkan untuk menjadi pelacur atau menjadi pemabuk seperti ayah mereka. Tapi Zana memberikan pendekatan yang manusiawi dan menyentuh tanpa terasa cengeng. Dan bagaimana kekuatan seni mampu memberikan ide tentang masa depan untuk mengubah hidup mereka.

6. Grey Gardens

grey_gardens_1975_film_posterI love this film. This film somehow has touched me in so many levels. Mungkin karena Little Edie yang memutuskan menjadi caregiver bagi orang tuanya. Dalam hal ini ibunya. Film ini dimulai dengan dua orang wanita dalam rumah mereka, kliping koran yang yang menyebutkan, “Ibu dan Anak diperintahkan untuk membersihkan rumah atau keluar.” Lalu kliping-kliping selanjutnya mengisahkan bahwa anak dan ibu tersebut adalah bibi dan sepupu dari Jackie Kennedy, yang suatu saat dalam hidup mereka adalah sosialita kaya raya. Sekarang hidup di wilayah elit East Hampton dengan rumah mereka yang kacau, penuh lubang, kotoran kucing dan rakun.

David dan Albert Maysles memproduksi film ini, kedua sutradara ini menggambarkan hubungan dua perempuan tersebut. Selera berpakaian Edie yang agak aneh, tapi juga kisah masa muda mereka yang akan membuat kita berpikir, “Apa yang salah? Sampai mereka berada di titik ini?” apalagi saat Big Edie, Ibu Little Edie mengatakan pada putrinya bahwa putrinya pernah mendapatkan lamaran pernikahan dari Paul Getty. “Ingat Paul? Pria terkaya di dunia?” kata Big Edie sambil menoleh ke arah Little Edie.

Siapa pun dapat melihat Big Edie dan Litlle Edie memang eksentrik, atau mungkin agak ‘gila’ dari gaya mereka. Tapi kalau boleh jujur, film yang dirilis tahun 1975 ini adalah tentang hidup yang terjadi begitu cepat and just slips away. Tentang rumah mewah dengan 28 kamar, yang telah kehilangan kejayaannya.

7. Life Itself

life_itself_doc_posterLife Itself  adalah dokumenter tentang perjalanan hidup seorang Roger Ebert, kritikus film terkenal di Amerika Serikat, mungkin bisa dibilang di seluruh dunia. Tentang lampu kesuksesannya. Bagaimana dia menghadapi tantangan dan kemenangan-kemenangan dalam menjadi kritikus paling terkenal. Tapi dokumenter ini juga menceritakan tentang bagaimana dia menghadapi kematian.

Roger Ebert menderita kanker sejak tahun 2006, dia masih begitu produktif meskipun kankernya meninggalkannya tanpa rahang dan hampir-hampir tidak dapat dikenali, tidak dapat makan tanpa tabung dan tidak dapat bicara tanpa komputer. Roger Ebert sangat mencintai film dokumenter dan senang sekali saat Steve James, sutradara dokumenter terkenal Hoop Dreams membesut film ini.

Produksi film ini dimulai beberapa bulan sebelum kematian Ebert. Film ini adalah perayaan kehidupan juga pencerahan menghadapi kematian. Ceritanya bergerak dari kisah hidupnya di masa lalu kemudian adegan-adegan yang diproduksi selama beberapa bulan terakhir hidupnya. Penonton dapat melihat bagaimana kondisi Ebert dan kematiannya mempengaruhi orang-orang yang dicintainya. Namun yang pasti bagi para penggemar film, Roger Ebert meninggalkan karya-karya yang abadi.

8. 20 Ft to Stardom

stardomJutaan orang mungkin familiar dengan suara mereka, tapi tidak ada yang tahu nama mereka. 20 Feet to Stardom, dibesut oleh sutradara pemenang penghargaan Morgan Neville menyorot kisah nyata tentang penyanyi latar di balik musisi dan penyanyi legendaris abad 21.

Sebuah kisah tentang kemenangan dan patah hati secara bersamaan. Film ini merupakan penghargaan untuk suara-suara indah yang membawa bentuk dan gaya musik pop. Sebuah refleksi akan konflik, pengorbanan. Penyanyi-penyanyi latar dengan kisah mereka yang unik dan bagaimana selama bertahun-tahun mereka hidup di balik bayang-bayang para superstar. Film ini juga mewawancarai musisi-musisi kenamaan seperti Bruce Springsteen, Stevie Wonder, Mick Jager dan Sting. Bagaimana para superstar tersebut mengambil tempat duduk paling belakang untuk memberikan para penyanyi latar mereka center stage di film ini.

Ada juga cerita tentang karir solo yang banyak diambil oleh para backup singers. Tentang ambisi, bakat, keberuntungan yang misterius dan mungkin prasangka bahwa begitu banyak musisi berbakat tapi berada dalam bayang-bayang, sementara yang lain mungkin kurang berbakat malah menjadi bintang besar. Sebuah perasaan yang begitu manusiawi menurut saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s